Contoh Perilaku Sila ke-3 Pancasila di Lingkungan Keluarga, Sekolah, dan Masyarakat

Contoh Perilaku Sila ke-3

Contoh Perilaku Sila ke-3 – Di tengah keragaman yang menjadi DNA bangsa Indonesia, mulai dari Sabang hingga Merauke, terbentang ribuan pulau, ratusan suku, dan bahasa yang berbeda-beda. Keberagaman ini adalah anugerah sekaligus tantangan. Bagaimana cara mengikat semua perbedaan itu menjadi satu kekuatan? Jawabannya terletak pada jantung ideologi kita, Pancasila. Secara spesifik, kita akan menyelami contoh perilaku sila ke-3, “Persatuan Indonesia”, yang berfungsi sebagai benang emas pemersatu bangsa.

Memahami dan mengamalkan Sila ke-3 bukanlah sekadar hafalan di sekolah. Ini adalah sebuah seni hidup berbangsa. Artikel ini akan mengupas berbagai contoh penerapan Sila ke-3 dalam setiap denyut nadi kehidupan, mulai dari unit terkecil di rumah hingga masyarakat. Mari kita bedah bagaimana “Persatuan Indonesia” menjelma dari sebuah konsep filosofis menjadi tindakan nyata sehari-hari.

Apa Sebenarnya “Persatuan Indonesia”?

Sebelum melangkah ke contoh praktis, kita harus memiliki fondasi pemahaman yang kokoh. “Persatuan Indonesia” bukan hanya berarti “bersatu”, tetapi sebuah komitmen untuk menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi atau golongan.

1. Filosofi di Balik Sila Ketiga

Sila ke-3 sengaja ditempatkan setelah Sila Ketuhanan dan Kemanusiaan. Ini memiliki makna filosofis yang dalam. Setelah kita mengakui Tuhan (Sila 1) dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan (Sila 2), tugas kita selanjutnya adalah mengikat kemanusiaan tersebut dalam sebuah wadah kolektif yang bernama “bangsa”.

Persatuan Indonesia adalah antitesis dari perpecahan. Para pendiri bangsa sadar betul bahwa ancaman terbesar negara kepulauan ini adalah “politik adu domba” (devide et impera) yang telah menjajah kita ratusan tahun. Oleh karena itu, persatuan adalah syarat mutlak kemerdekaan dan kedaulatan. Ini adalah pengakuan bahwa meskipun kita berbeda-beda (Bhinneka), kita pada hakikatnya adalah satu (Tunggal Ika).

2. Makna Lambang Pohon Beringin

Lambang Sila ke-3 adalah Pohon Beringin. Pemilihan simbol ini sarat akan makna:

  • Beringin adalah pohon besar yang mampu memberikan keteduhan. Ini melambangkan negara Indonesia yang mengayomi dan melindungi seluruh rakyatnya, tanpa memandang suku, agama, atau ras.
  • Pohon beringin memiliki akar tunjang yang kuat dan menjalar ke mana-mana, namun tetap berasal dari satu pohon. Ini melambangkan kesatuan dan persatuan Indonesia yang kokoh.
  • Pohon beringin memiliki sulur-sulur (akar gantung) yang tumbuh dari cabangnya. Ini melambangkan keragaman suku, budaya, dan adat istiadat yang ada di Indonesia. Meskipun beragam, semua sulur itu tetap bergantung dan menjadi bagian tak terpisahkan dari satu pohon yang sama: Indonesia.

4. Butir Pengamalan sebagai Pemandu

Untuk memandu kita dalam penerapan, Sila ke-3 dijabarkan dalam 7 Butir Pengamalan (berdasarkan TAP MPR No.I/MPR/2003):

  1. Mampu menempatkan persatuan, kesatuan, serta kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara sebagai kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan.
  2. Sanggup dan rela berkorban untuk kepentingan negara dan bangsa apabila diperlukan.
  3. Mengembangkan rasa cinta kepada tanah air dan bangsa.
  4. Mengembangkan rasa kebanggaan berkebangsaan dan bertanah air Indonesia.
  5. Memelihara ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
  6. Mengembangkan persatuan Indonesia atas dasar Bhinneka Tunggal Ika.
  7. Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa.

Ketujuh butir ini akan menjadi kompas kita dalam menjelajahi contoh-contoh perilaku di bagian selanjutnya.

Contoh Perilaku Sila ke-3 Dalam Kehidupan Sehari-hari

a. Di Lingkungan Keluarga (Rumah)

  • Giat belajar untuk membanggakan keluarga.
  • Hormat kepada anggota keluarga yang lebih tua dan menghargai yang lebih muda.
  • Saling membantu dalam menyelesaikan pekerjaan rumah.
  • Mengutamakan kepentingan bersama keluarga.
  • Selalu menjaga kerukunan antar anggota keluarga.

b. Di Lingkungan Sekolah

  • Tidak membeda-bedakan teman berdasarkan suku, agama, atau latar belakang.
  • Menjaga kerukunan dan kekompakan dengan seluruh warga sekolah.
  • Menghormati guru dan staff sekolah.
  • Mengikuti upacara bendera dengan khidmat.
  • Mempelajari sejarah dan lagu-lagu nasional untuk menumbuhkan cinta tanah air.

c. Di Lingkungan Masyarakat

  • Mencintai dan menggunakan produk dalam negeri.
  • Menghargai dan melestarikan keberagaman budaya daerah.
  • Aktif berpartisipasi dalam kegiatan masyarakat (seperti kerja bakti, siskamling).
  • Menjalin persahabatan dengan orang dari berbagai suku.
  • Menaati hukum dan peraturan yang berlaku.
  • Rela membayar pajak dan sanggup membela negara jika diperlukan.

Pengamalan Sila ke-3 di Era Modern

Di era globalisasi dan digital, tantangan terhadap Sila ke-3 semakin berat. Namun, wujud pengamalannya juga semakin relevan dan beragam.

1. Nasionalisme Ekonomi

Ini adalah bentuk “cinta tanah air” (butir 3) dan “rela berkorban” (butir 2) dalam konteks modern.

  • Membeli dan menggunakan produk dalam negeri. Saat memilih membeli sepatu buatan Cibaduyut daripada merek impor, atau membeli kopi lokal Gayo daripada kopi impor, Anda sedang mengamalkan Sila ke-3. Anda rela berkorban (mungkin dari segi prestise) demi membantu perekonomian bangsa dan kesejahteraan pengrajin lokal.
  • Mempromosikan UMKM lokal di media sosial Anda. Ini adalah cara sederhana menunjukkan “rasa bangga berkebangsaan” (butir 4) dan membantu ekonomi sesama anak bangsa.

2. Patriotisme Digital Melawan Hoaks dan Polarisasi

Dunia maya adalah medan perang baru bagi persatuan. Hoaks, ujaran kebencian (hate speech), dan fitnah adalah senjata utama pemecah belah bangsa.

  • Saring sebelum sharing. Sebelum membagikan sebuah berita (terutama yang berbau SARA atau politik), kamu memverifikasinya terlebih dahulu. Jika berita itu bohong atau provokatif, Anda tidak menyebarkannya. Tindakan “tidak menyebar hoaks” adalah perilaku Sila ke-3 yang sangat penting hari ini.
  • Tidak ikut-ikutan “perang” di kolom komentar media sosial. Menolak untuk mengumpat atau menghina orang lain yang berbeda pandangan politik.
  • Setelah Pemilu usai, tidak ada lagi “cebong” atau “kampret”. Yang ada adalah “Persatuan Indonesia”. Merangkul kembali teman atau saudara yang berbeda pilihan politik adalah wujud nyata menempatkan kepentingan bangsa (persatuan) di atas kepentingan golongan (pilihan politik).

3. Membedakan Nasionalisme yang Sehat dan Chauvinisme yang Buta

Sila ke-3 mendorong nasionalisme (cinta bangsa sendiri), bukan chauvinisme (cinta bangsa sendiri secara berlebihan hingga merendahkan bangsa lain).

  • Butir 5 Sila ke-3 berbunyi, “Memelihara ketertiban dunia…”. Ini menunjukkan bahwa nasionalisme Indonesia tidak egois. Kita bangga sebagai bangsa Indonesia, tetapi kita juga menghormati bangsa lain sebagai bagian dari “ketertiban dunia”.
  • Bangga saat tim bulu tangkis Indonesia menang, tetapi tetap respek dan tidak mengejek tim lawan yang kalah. Menikmati budaya asing (seperti K-Pop atau film Hollywood) boleh saja, selama tidak membuat kita lupa atau bahkan membenci budaya sendiri. Itulah nasionalisme yang sehat dan sesuai dengan Sila ke-3.

Dari semua contoh di atas, mana yang paling sering kamu terapkan? Atau mungkin punya contoh perilaku sila ke 3 lain yang lebih unik di lingkungan mu, baik di kantor, di komunitas, atau di dunia maya?

Jangan lupa bagikan (share) artikel ini ke keluarga dan teman-teman mu agar semangat “Persatuan Indonesia” ini semakin menyebar luas dan mengakar kuat.

Baca juga:

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Berikut adalah beberapa pertanyaan yang sering muncul terkait penerapan Sila ke-3:

1. Apa bunyi dan makna sila ke-3 Pancasila?

Bunyi Sila ke-3 adalah “Persatuan Indonesia”. Maknanya adalah bahwa negara Indonesia menempatkan persatuan, kesatuan, serta kepentingan dan keselamatan bangsa di atas kepentingan pribadi atau golongan, dan bangga sebagai bangsa Indonesia yang ber-Bhinneka Tunggal Ika.

2. Sebutkan 3 contoh perilaku sila ke-3 di sekolah!

  • Berteman dengan siapa saja tanpa membedakan suku, agama, atau ras.
  • Mengikuti upacara bendera dengan khidmat sebagai wujud cinta tanah air.
  • Bekerja kelompok dengan rukun dan mendahulukan tujuan bersama.

3. Apa hubungan antara Sila ke-3 dengan Bhinneka Tunggal Ika?

Sangat erat. Sila ke-3 (“Persatuan Indonesia”) adalah tujuannya, sedangkan Bhinneka Tunggal Ika (“Berbeda-beda tetapi tetap satu”) adalah cara atau realitas untuk mencapai persatuan itu. Sila ke-3 mengakui dan merangkul keberagaman tersebut sebagai fondasi persatuan.

4. Apa perbedaan antara nasionalisme (Sila ke-3) dan chauvinisme?

Nasionalisme adalah rasa cinta dan bangga terhadap bangsa sendiri, yang bersifat positif dan konstruktif. Chauvinisme adalah rasa cinta yang berlebihan dan buta, yang menganggap bangsanya paling unggul dan merendahkan bangsa lain. Sila ke-3 jelas menganut nasionalisme, bukan chauvinisme.

5. Mengapa kita perlu mengamalkan Sila ke-3?

Kita perlu mengamalkannya karena Indonesia adalah negara yang sangat beragam. Tanpa semangat persatuan (Sila ke-3), keberagaman ini bisa menjadi sumber perpecahan dan konflik. Sila ke-3 adalah perekat yang menjaga keutuhan bangsa dan negara.

Referensi

  1. Susilawati N, Sultoni, S., & Bambang Niko Pasla. (2021). Strengthening the Understanding of Pancasila as the State Foundation to Achieve National Goals. Jurnal Prajaiswara2(1), 48–60. https://doi.org/10.55351/prajaiswara.v2i1.19
  2. Susilawati N, & Bambang Niko Pasla. (2020). Application of Pancasila as the Ethical System of the Indonesian Nation. Jurnal Prajaiswara1(1), 20–28. https://doi.org/10.55351/prajaiswara.v1i1.2
  3. Bailah, B. ., & Bambang Niko Pasla. (2021). The Challenges of Driving School Principals in Implementing New Paradigm Learning. Jurnal Prajaiswara2(2), 92–114. https://doi.org/10.55351/prajaiswara.v2i2.22
  4. Badan Pembinaan Ideologi Pancasila. (2021, March 10). Contoh pengamalan sila ke-3 Pancasila di lingkungan keluarga. BPIP. https://bpip.go.id/berita/contoh-pengamalan-sila-ke-3-pancasila-di-lingkungan-keluarga
  5. Gramedia. (2024). Contoh penerapan sila ke-3 Pancasila di berbagai lingkungan. Gramedia.com. https://www.gramedia.com/literasi/contoh-penerapan-sila-ke-3/
Scroll to Top