Pancasila bukan sekadar deretan sila yang dihafal untuk upacara bendera. Lebih dari itu, Pancasila adalah jiwa dan kepribadian bangsa Indonesia yang hidup dalam sanubari, memengaruhi cara berpikir, bersikap, dan bertindak setiap warga negara. Contoh Pancasila sebagai kepribadian bangsa dapat kita lihat dalam nilai-nilai luhur yang telah mengakar dan membedakan kita di tengah pergaulan dunia.
Memahami Pancasila sebagai identitas nasional dan jati diri bangsa merupakan langkah awal untuk mencintai negara ini secara utuh. Sebagai dasar negara dan falsafah hidup, Pancasila menjadi pedoman berbangsa dan bernegara yang mencegah kita kehilangan arah. Dalam era globalisasi dan disrupsi ini, mengaktualisasikan nilai-nilai Pancasila adalah sebuah keniscayaan.
Hakikat Pancasila sebagai Cerminan Kepribadian Bangsa
Sebelum masuk ke contoh penerapannya, kita perlu pahami dulu apa makna Pancasila sebagai karakter bangsa. Konsep ini berarti bahwa kelima sila dalam Pancasila merupakan kristalisasi dari nilai, watak, sifat, dan ciri khas yang sudah dimiliki bangsa Indonesia secara turun-temurun, jauh sebelum Indonesia merdeka.
Fungsi utama Pancasila sebagai kepribadian dan identitas nasional antara lain:
- Menjadi pandangan hidup yang menyatukan keberagaman.
- Berperan sebagai filter budaya terhadap pengaruh asing yang tidak sesuai.
- Menjadi sumber motivasi dan penggerak pembangunan.
- Sebagai alat pemersatu bangsa di tengah perbedaan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).
Dengan kata lain, nilai-nilai Pancasila adalah DNA sosial-budaya kita. Mari kita telusuri tiga perwujudannya yang paling nyata.
3 Contoh Konkret Pancasila sebagai Kepribadian Bangsa
Berikut adalah tiga manifestasi nyata kepribadian bangsa Indonesia yang bersumber langsung dari sila-sila Pancasila:
1. Gotong Royong: Perwujudan Sila Persatuan Indonesia
Contoh Pancasila sebagai kepribadian bangsa yang pertama dan paling terkenal adalah semangat gotong royong. Nilai ini adalah implementasi nyata dari Sila Ketiga, “Persatuan Indonesia”. Gotong royong mencerminkan karakter bangsa Indonesia yang komunal, saling peduli, dan mengutamakan kebersamaan atas individualisme.
Implementasi dalam kehidupan sehari-hari:
- Membersihkan lingkungan, membangun fasilitas umum, atau memperbaiki jalan kampung secara bersama-sama.
- Membantu tetangga yang sedang mengalami musibah, seperti kematian atau sakit.
- Tradisi membantu tetangga yang sedang mengadakan hajatan (pernikahan, khitanan) dengan tenaga, bahan, atau sumbangan.
- Solidaritas spontan masyarakat dari berbagai daerah untuk mengumpulkan bantuan bagi korban bencana alam.
Aktivitas ini bukan hanya soal pekerjaan, tetapi lebih pada penguatan kohesi sosial dan penegasan identitas kolektif kita sebagai satu bangsa.
2. Musyawarah untuk Mufakat: Cerminan Sila Kerakyatan
Contoh Pancasila sebagai kepribadian bangsa berikutnya adalah tradisi musyawarah mufakat. Ini adalah pengejawantahan dari Sila Keempat, “Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan”. Kepribadian bangsa Indonesia cenderung menghindari konfrontasi dan mengedepankan dialog serta kebijaksanaan untuk mencapai kesepakatan yang menguntungkan semua pihak.
Implementasi dalam kehidupan sehari-hari:
- Rapat RT/RW untuk membahas program kerja, pembagian tugas, atau penyelesaian masalah warga melalui diskusi.
- Rapat Kelas atau Organisasi untuk menentukan tujuan, pembagian peran, dan penyelesaian masalah internal melalui diskusi partisipatif.
- Membahas rencana besar seperti pendidikan anak, pembelian barang, atau investasi keluarga dengan melibatkan seluruh anggota.
- Meski menggunakan sistem perwakilan, semangat musyawarah tetap dijadikan dasar dalam pembahasan undang-undang.
Proses ini menegaskan bahwa demokrasi ala Indonesia bukanlah demokrasi suara terbanyak (majority vote) yang meminggirkan minoritas, melainkan demokrasi yang mencari titik temu.
3. Toleransi dan Kerukunan Umat Beragama: Manifestasi Sila Ketuhanan
Contoh Pancasila sebagai kepribadian bangsa yang ketiga adalah sikap toleransi beragama yang tinggi. Ini adalah implementasi langsung dari Sila Pertama, “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Keberagaman agama bukanlah penghalang, justru menjadi warna yang memperkaya kehidupan berbangsa. Sikap saling menghormati ini menjadi ciri khas bangsa Indonesia di mata dunia.
Implementasi dalam kehidupan sehari-hari:
- Tidak mengganggu jalannya ibadah umat agama lain dan menjaga ketenangan di sekitar rumah ibadah.
- Bekerja sama membersihkan atau membangun rumah ibadah milik umat agama lain.
- Aktif dalam forum-forum kerukunan untuk memperkuat pemahaman dan mencegah konflik.
Nilai toleransi inilah yang menjadi fondasi Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap satu jua.
Mengaktualisasikan Nilai-Nilai Pancasila di Era Modern
Menerapkan contoh Pancasila sebagai kepribadian bangsa di era digital dan global membutuhkan pendekatan baru:
- Memanfaatkan platform crowdfunding untuk membantu sesama, atau bergotong royong membersihkan sampah digital (hoaks).
- Menggunakan forum online dan media sosial secara sehat dan bijak untuk membahas masalah publik, menggantikan kultur warung kopi.
- Menjadi penebar perdamaian di media sosial, melaporkan konten ujaran kebencian (hate speech), dan tidak mudah terprovokasi oleh isu SARA.
Tantangan seperti radikalisme, individualisme ekstrem, dan hoaks adalah ujian bagi ketahanan kepribadian bangsa kita. Hanya dengan konsisten mengamalkan nilai-nilai Pancasila, kita dapat melewatinya.
Contoh Pancasila sebagai kepribadian bangsa seperti gotong royong, musyawarah, dan toleransi bukanlah konsep usang. Ketiganya adalah kekuatan lunak (soft power) yang membuat Indonesia tetap berdiri tegak. Mereka adalah manifestasi dari nilai luhur bangsa, falsafah hidup, dan ideologi terbuka yang mampu beradaptasi.
Mari kita jadikan artikel ini sebagai pengingat untuk terus mempraktikkan nilai-nilai Pancasila. Bagikan tulisan ini kepada keluarga untuk ikut serta dalam gerakan menguatkan kepribadian bangsa kita.
Baca juga:
- 45 Butir-Butir Pancasila, Pedoman dalam Kehidupan Sehari-hari
- Apa Sejarah dan Pengertian Pancasila?
- Makna dan Berapa Jumlah Bulu Burung Garuda?
- Apa Arti 8 Ekor Bulu Garuda Lambang Negara Indonesia?
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
1. Apa bedanya Pancasila sebagai dasar negara dan sebagai kepribadian bangsa?
Sebagai dasar negara, Pancasila berfungsi sebagai fondasi hukum dan konstitusional. Sebagai kepribadian bangsa, Pancasila adalah sifat, watak, dan ciri khas moral-budaya bangsa Indonesia yang terwujud dalam perilaku sehari-hari.
2. Mengapa gotong royong disebut sebagai contoh paling nyata?
Karena gotong royong adalah budaya asli yang telah ada di seluruh Nusantara sejak lama, tercermin dalam berbagai tradisi lokal, dan paling mudah dikenali serta dirasakan manfaatnya secara langsung dalam kehidupan bermasyarakat.
3. Apakah nilai musyawarah mufakat masih relevan dalam demokrasi modern?
Sangat relevan. Musyawarah mufakat mengajarkan untuk menghargai setiap suara dan mencari solusi terbaik, bukan sekadar menang-kalah. Nilai ini dapat menyempurnakan demokrasi elektoral dengan mengedepankan kebijaksanaan dan pencarian konsensus.
4. Bagaimana jika ada yang tidak mengamalkan nilai-nilai Pancasila?
Tidak mengamalkan nilai Pancasila berarti mengikis jati diri bangsa. Dalam jangka panjang, hal ini dapat melemahkan persatuan, memicu konflik, dan membuat Indonesia kehilangan identitas di tengah arus global. Edukasi dan keteladanan adalah kunci mengubahnya.
5. Apa peran generasi muda dalam melestarikan Pancasila sebagai kepribadian bangsa?
Generasi muda harus menjadi agen aktualisasi dengan mempraktikkan nilai-nilai Pancasila dalam konteks kekinian, seperti toleransi di media sosial, gotong royong dalam proyek sosial, dan musyawarah dalam organisasi kampus, serta aktif menangkal hoaks dan ujaran kebencian.
Referensi
- Basri, B., Kurniaty, Y., & Krisnan, J. (2021). Nilai-Nilai Transedental Dalam Pancasila Sebagai Kepribadian Bangsa Indonesia (Perspekspektif dari Seorang Muslim). PAMALI: Pattimura Magister Law Review, 1(2), 114-120.
- Adha, M. M., & Susanto, E. (2020). Kekuatan nilai-nilai Pancasila dalam membangun kepribadian masyarakat Indonesia. Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan, 15(01), 121-138.
- Pandanari, D. S., & Dwiyudha, H. (2012). Peranan Mahasiswa dalam Mempertahankan Ideologi Pancasila sebagai Kepribadian Bangsa dalam Era Global. In Prosiding SIMG UI, Prosiding Seminar Internasional Multikultural & Globalisasi 2012 (Vol. 1).




