16 Contoh Perilaku Sila ke-4 Pancasila dalam Kehidupan Sehari-hari dari Rumah hingga Negara

Contoh Perilaku Sila ke-4

Contoh Perilaku Sila ke-4 – Pancasila bukan sekadar lambang dan teks hafalan, melainkan jiwa dari bangsa Indonesia yang harus dihidupi dalam setiap tindakan. Di antara kelima silanya, sila ke-4 yang berbunyi “Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan” seringkali dianggap hanya relevan di ruang politik. Padahal, nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya justru sangat aplikatif dalam keseharian kita, mulai dari lingkup keluarga, sekolah, hingga masyarakat.

Makna dan Nilai Inti Sila ke-4 Pancasila

Sebelum melangkah ke contoh perilaku, penting untuk memahami fondasi filosofisnya. Sila ke-4 merupakan penjabaran dari konsep kedaulatan rakyat ala Indonesia. Berbeda dengan demokrasi liberal yang menekankan suara mayoritas, Demokrasi Pancasila mengedepankan:

  • Hikmat Kebijaksanaan: Setiap keputusan harus dipertimbangkan secara matang dengan akal sehat dan hati nurani, bukan berdasarkan emosi atau kepentingan sepihak.
  • Permusyawaratan: Proses mengambil keputusan dilakukan melalui dialog dan diskusi (musyawarah) untuk mencapai kata sepakat (mufakat).
  • Perwakilan: Dalam sistem yang lebih besar, rakyat menyalurkan aspirasinya melalui wakil-wakil yang dipercaya.

Dari tiga pilar ini, lahir nilai-nilai turunan yang menjadi pedoman perilaku kita, seperti menghargai pendapat orang lain, mengutamakan kepentingan bersama, tidak memaksakan kehendak, dan bertanggung jawab atas keputusan bersama.

Contoh Perilaku Sila ke-4 di Berbagai Lingkungan Kehidupan

Berikut adalah implementasi nyata dari sila keempat Pancasila yang dapat kita praktikkan.

A. Contoh Perilaku Sila ke-4 di Lingkungan Keluarga

Keluarga adalah sekolah pertama pengamalan Pancasila.

  1. Bermusyawarah untuk Menentukan Kegiatan Akhir Pekan
    Ketika akan liburan atau sekadar makan malam bersama, ajaklah seluruh anggota keluarga berembuk. Beri kesempatan pada anak-anak untuk menyuarakan keinginannya. Dari sini, nilai musyawarah mufakat dan menghargai suara setiap individu diasah.
  2. Menghargai Pilihan dan Pendapat Anak
    Orang tua yang bijak tidak memaksakan kehendak pada anak, terutama dalam hal seperti pemilihan jurusan kuliah atau minat bakat. Berikan ruang untuk diskusi dan pertimbangan. Ini adalah wujud dari nilai kebijaksanaan dan penghargaan atas hak individu.
  3. Meminta Izin Sebelum Menggunakan Barang Milik Bersama atau Keluar Rumah
    Perilaku sederhana ini mengajarkan rasa hormat dan tanggung jawab. Dengan meminta izin, kita mengakui bahwa keputusan pribadi dapat mempengaruhi orang lain dalam unit keluarga, sehingga perlu dikomunikasikan.
  4. Menyelesaikan Konflik Antar Saudara dengan Duduk dan Berbicara
    Alih-alih saling menyalahkan, orang tua dapat memediasi perselisihan adik-kakak dengan mengajak mereka duduk bersama, mendengarkan kedua belah pihak, dan mencari solusi terbaik. Ini adalah pelatihan musyawarah paling dasar.

B. Contoh Penerapan Sila ke-4 di Lingkungan Sekolah dan Kampus

Sekolah adalah miniature negara dimana demokrasi dipelajari dan dipraktikkan.

  1. Melakukan Pemilihan Ketua Kelas dan OSIS secara Jujur dan Adil
    Ini adalah contoh paling gamblang dari sistem perwakilan. Setiap siswa memiliki hak suara yang sama (satu orang satu suara) untuk memilih wakil mereka yang dianggap paling mampu dan bertanggung jawab.
  2. Aktif Berpendapat dan Menghargai Pendapat Teman dalam Diskusi Kelompok
    Saat kerja kelompok, ciptakan lingkungan dimana setiap anggota merasa nyaman mengemukakan idenya. Dengarkan dengan seksama tanpa memotong, dan hargai meskipun pendapat tersebut berbeda dengan milikmu. Ini mencerminkan sikap demokratis.
  3. Menyelesaikan Masalah dengan Musyawarah, Bukan Kekerasan atau Adu Keras
    Jika terjadi perselisihan antar teman atau konflik dengan guru, utamakan jalur dialog. Datang dengan niat menyelesaikan masalah, bukan memenangkan argumen.
  4. Menerima dan Melaksanakan Hasil Keputusan Bersama dengan Lapang Dada
    Ketika usulan kita dalam rapat OSIS tidak diterima, tapi keputusan akhir telah ditetapkan melalui musyawarah, kita harus ikhlas dan berkomitmen untuk mendukung pelaksanaannya. Ini mengajarkan sportivitas dan kedewasaan berdemokrasi.

C. Contoh Pengamalan Sila ke-4 di Lingkungan Masyarakat

Masyarakat adalah tempat dimana nilai-nilai Pancasila diuji dalam keragaman.

  1. Aktif Mengikuti Musyawarah Rukun Tetangga (RT)
    Kehadiran dalam rapat warga adalah bentuk partisipasi langsung. Berikan masukan yang konstruktif untuk masalah seperti penggunaan dana kas, perbaikan lingkungan, atau kegiatan pos ronda.
  2. Ikut Serta dalam Gotong Royong Membersihkan Lingkungan
    Gotong royong adalah perwujudan nyata dari mengutamakan kepentingan bersama. Keputusan untuk kerja bakti adalah hasil mufakat, dan pelaksanaannya adalah bentuk tanggung jawab bersama.
  3. Tidak Memaksakan Pendapat Pribadi dalam Keputusan Bersama
    Dalam rapat warga, terkadang pendapat kita tidak sejalan dengan mayoritas. Sikap bijaksana adalah menerima keputusan akhir selama prosesnya sudah adil, tanpa menggerutu atau bahkan menghasut.
  4. Menghormati Hasil Pemilihan Ketua RT/RW atau Kepala Desa
    Ini adalah implementasi sistem perwakilan di tingkat akar rumput. Menghormati pilihan mayoritas dan mendukung kepemimpinan mereka adalah cerminan kedewasaan bermasyarakat.

D. Penerapan Sila ke-4 dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara

Sebagai warga negara, kita memiliki tanggung jawab yang lebih besar.

  1. Menggunakan Hak Pilih dalam Pemilu dengan Penuh Kesadaran
    Memilih calon legislatif dan eksekutif dalam Pemilihan Umum adalah wujud utama dari kedaulatan rakyat. Datang ke TPS bukan hanya kewajiban, tetapi bukti kita percaya pada sistem demokrasi.
  2. Menghormati Lembaga Perwakilan Rakyat seperti DPR dan DPD
    Meski sering dikritik, lembaga ini adalah representasi sistem perwakilan kita. Menghormati berarti mengawasi dan mengkritik secara sehat, bukan menghina.
  3. Menyampaikan Aspirasi secara Santun dan Konstruktif
    Jika tidak puas dengan suatu kebijakan, sampaikan melalui channel yang benar, seperti petisi online, surat kepada wakil rakyat, atau demonstrasi yang damai. Hindari ujaran kebencian dan anarkisme.
  4. Menerima Perbedaan Pendapat Politik dengan Bijak
    Tidak semua orang akan mendukung partai atau calon yang sama. Hikmat kebijaksanaan mengajarkan kita untuk tetap menghormati hubungan pertemanan dan persaudaraan meski berbeda pilihan politik.

Tantangan dalam Mengamalkan Sila ke-4 dan Solusinya

Di era digital, tantangan menerapkan sila keempat semakin kompleks. Budaya musyawarah tergusur oleh debat kusir di media sosial yang penuh emosi. Individualisme meningkat, membuat orang enggan berpartisipasi dalam kepentingan bersama.

Solusinya dimulai dari diri sendiri: bijak bermedia sosial, menyaring informasi sebelum berkomentar, dan aktif terlibat dalam komunitas nyata. Pendidikan karakter berbasis Pancasila di sekolah dan keluarga juga kunci utama.

Bagikan artikel ini kepada teman dan keluarga mu untuk menyebarkan semangat Demokrasi Pancasila! Tulis di kolom komentar, contoh perilaku sila ke-4 apa lagi yang sudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari?

Baca juga:

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

1. Apa perbedaan utama demokrasi Pancasila dengan demokrasi liberal?

Demokrasi Pancasila mengutamakan musyawarah untuk mufakat dengan dilandasi hikmat kebijaksanaan dan mengutamakan kepentingan umum. Sementara demokrasi liberal lebih menekankan pada suara mayoritas dan kebebasan individu secara absolut.

2. Mengapa musyawarah untuk mufakat lebih diutamakan daripada voting?

Karena voting dapat meninggalkan “pecundang” yang merasa kalah, sementara mufakat berusaha mencapai solusi yang diterima dan dipahami oleh semua pihak, sehingga menciptakan keharmonisan dan kebersamaan.

3. Apa contoh sikap yang bertentangan dengan sila ke-4 Pancasila?

Contohnya adalah: memaksakan pendapat sendiri, egois dan mau menang sendiri, menghina pendapat orang lain, tidak mau menghadiri rapat musyawarah, serta tidak mengakui dan melaksanakan hasil keputusan bersama.

4. Bagaimana jika dalam musyawarah tidak tercapai mufakat?

Jika musyawarah sudah dilakukan secara maksimal namun mufakat tidak tercapai, maka dapat ditempuh jalan voting (pengambilan suara) sebagai jalan terakhir, sebagaimana diatur dalam peraturan perundangan.

5. Apa hubungan antara gotong royong dengan sila ke-4?

Gotong royong adalah implementasi nyata dari keputusan bersama (hasil musyawarah) untuk mencapai tujuan bersama. Semangat gotong royong lahir dari kesadaran untuk mengutamakan kepentingan kolektif di atas kepentingan pribadi, yang merupakan jiwa dari sila ke-4.

Referensi

  1. Susilawati N, & Bambang Niko Pasla. (2020). Application of Pancasila as the Ethical System of the Indonesian Nation. Jurnal Prajaiswara1(1), 20–28. https://doi.org/10.55351/prajaiswara.v1i1.2
  2. Susilawati N, Sultoni, S., & Bambang Niko Pasla. (2021). Strengthening the Understanding of Pancasila as the State Foundation to Achieve National Goals. Jurnal Prajaiswara2(1), 48–60. https://doi.org/10.55351/prajaiswara.v2i1.19
  3. Denisa, D., Iriansyah, H. S., & Suhel, A. R. (2021). Pengembangan Puzzle Kubus Untuk Pemahaman Materi Sikap Sehari-hari Pada Sila Ke-4 Pancasila. In Prosiding Seminar Nasional Pendidikan STKIP Kusuma Negara III (pp. 41-46).
  4. Nahuddin, Y. E. (2017). Pemilihan umum dalam sistem demokrasi prespektif sila ke-4 Pancasila. Jurnal Cakrawala Hukum8(2), 240-249.
  5. OSIS, P. K., & TUAN, P. S. ANALISIS IMPLEMENTASI NILAI PANCASILA “SILA KE-4”.
Scroll to Top