Siapa Sebenarnya Datuk Paduko Berhalo?

Datuk Paduko Berhalo

Dalam peta sejarah Nusantara, nama Datuk Paduko Berhalo menempati posisi yang sangat penting sebagai founding father atau pendiri Kesultanan Melayu Jambi. Legenda dan bukti sejarah bersatu padu menceritakan tentang seorang ulama dan bangsawan dari Turki yang tidak hanya membawa pengaruh spiritual Islam, tetapi juga meletakkan pondasi dinasti politik yang berjaya. Kehadirannya di Jambi menandai babak baru, di mana budaya lokal bersenyawa dengan ajaran Islam, melahirkan sebuah peradaban Melayu-Islam yang kuat dan berpengaruh.

Sejarah Datuk Paduko Berhalo

Siapa Datuk Paduko Berhalo? Berdasarkan catatan sejarah dalam Sejarah Nasional Indonesia terbitan Balai Pustaka dan tradisi lisan masyarakat Jambi, ia dikenal dengan nama asli Ahmad Salim atau Ahmad Barus II. Gelar “Barus” dalam namanya mengindikasikan hubungan kuat dengan kota Barus di Sumatera Utara, yang kala itu merupakan pusat perdagangan kamper (kapur barus) yang terkenal hingga ke Timur Tengah. Ia disebut-sebut sebagai putra dari seorang raja di Kesultanan Turki Utsmani.

Kedatangannya ke Nusantara pada sekitar abad ke-15 didorong oleh semangat dakwah Islamiyah. Sebagai seorang ulama, misinya adalah menyebarkan ajaran Islam ke penjuru dunia. Pelayarannya yang panjang akhirnya membawanya terdampar di sebuah pulau yang indah, yang kelak dinamakan Pulau Berhala. Nama pulau ini konon diambil dari gelarnya, “Berhalo” atau “Berhala”, yang bermakna “orang yang dihormati” atau “sesepuh”. Pulau inilah yang menjadi titik awal kisah besarnya di tanah Melayu.

Pernikahan dengan Putri Selaras Pinang Masak

Kedatangan seorang ulama asing tentu menarik perhatian penguasa lokal. Di Jambi, saat itu telah berdiri sebuah kerajaan dengan seorang ratu yang cantik dan bijaksana, bernama Putri Selaras Pinang Masak (atau Putri Salaro Pinang Masak). Pertemuan antara Datuk Paduko Berhalo dengan sang putri bukan hanya sekadar pertemuan dua individu, melainkan pertemuan dua peradaban besar: Timur Tengah yang membawa Islam dan Melayu Lokal dengan tradisinya yang kental.

Pernikahan politis-spiritual ini pun terjadi. Sebelum menikah, Putri Selaras Pinang Masak belum memeluk Islam. Namun, setelah menikah dengan Datuk Paduko Berhalo, ia pun memutuskan untuk memeluk agama Islam. Pernikahan ini adalah strategi yang cerdas dan damai. Dari sisi politik, pernikahan ini mengukuhkan legitimasi Datuk Paduko Berhalo sebagai bagian dari keluarga kerajaan. Dari sisi spiritual, ia menjadi pintu gerbang masuknya Islam secara resmi dan massif ke dalam struktur kerajaan dan masyarakat Jambi. Inilah akulturasi budaya dan agama yang berjalan sangat mulus.

Anak Datuk Paduko Berhalo

Persatuan antara Datuk Paduko Berhalo dan Putri Selaras Pinang Masak melahirkan seorang penerus yang melegenda, Rang Kayo Hitam (yang dalam sistem pemerintahan kemudian dikenal sebagai Orang Kayo Hitam). Putra mereka inilah yang kemudian dinobatkan sebagai Raja Melayu Islam pertama di Jambi, sekaligus mengukuhkan transformasi kerajaan lokal menjadi sebuah kesultanan yang bercorak Islam.

Di bawah kepemimpinan Orang Kayo Hitam, Kerajaan Melayu Jambi mengalami masa kejayaan atau zaman keemasan. Ia dikenal sebagai pemimpin yang adil dan bijaksana. Ia meneruskan misi dakwah ayahnya, memperkuat struktur pemerintahan, dan menjadikan Jambi sebagai pusat perdagangan yang penting di Sumatera. Salah satu peninggalannya yang paling ikonik adalah Keris Siginjai, yang hingga kini menjadi pusaka kerajaan dan simbol kedaulatan Jambi. Sistem pemerintahan yang ditinggalkannya juga unik, yaitu sistem “Orang Kayo” yang kolektif, mencakup pula keturunan lainnya seperti Orang Kayo Pingal, Orang Kayo Gemuk, dan Orang Kayo Datuk.

Makam Datuk Paduko Berhalo dan Tradisi Lisan

Setelah berhasil mendirikan dan mengukuhkan dinasti di daratan Jambi, Datuk Paduko Berhalo memilih untuk menghabiskan sisa hidupnya dan meninggal di tempat dimana semuanya bermula: Pulau Berhala. Makamnya yang terletak di atas sebuah bukit kecil dengan ketinggian sekitar 10 meter di pulau tersebut, kini menjadi situs ziarah yang penting. Bagi masyarakat Jambi, mengunjungi makam ini bukan hanya sekadar wisata sejarah, tetapi juga sebuah napak tilas untuk mengenang jasa-jasa leluhur mereka dalam membangun peradaban.

Tidak hanya melalui situs fisik, kisah heroik Datuk Paduko Berhalo juga lestari melalui tradisi lisan. Cerita rakyat, syair, dan pertunjukan tradisional terus mengumandangkan namanya. Warisan terbesarnya adalah identitas Budaya Melayu Jambi yang kental dengan nuansa Islam, yang masih bertahan hingga sekarang. Nilai-nilai toleransi, kepemimpinan yang bijak, dan strategi dakwah yang damai yang ia contohkan tetap relevan untuk dipelajari di era modern.

Jejak kaki Datuk Paduko Berhalo di Pulau Berhala mungkin telah tertiup angin waktu, namun warisan peradaban Islam dan dinasti Melayu Jambi yang ia bangun bersama Putri Pinang Masak akan terus abadi, mengalir dalam denyut nadi sejarah Nusantara.

Pertanyaan yang Sering Ditanyakan (FAQ)

1. Siapa sebenarnya nama asli Datuk Paduko Berhalo?

Nama aslinya adalah Ahmad Salim atau Ahmad Barus II, seorang bangsawan dan ulama yang berasal dari Turki Utsmani.

2. Apa bukti sejarah bahwa Datuk Paduko Berhalo berasal dari Turki?

Bukti utama berasal dari catatan sejarah dalam buku Sejarah Nasional Indonesia terbitan Balai Pustaka dan kuatnya tradisi lisan serta gelar “Barus” yang melekat pada namanya, yang mengindikasikan hubungan dengan jaringan dagang Timur Tengah.

3. Siapa saja keturunan Datuk Paduko Berhalo yang terkenal?

Keturunan langsungnya yang paling terkenal adalah Orang Kayo Hitam (Rang Kayo Hitam), raja pertama Jambi yang membawa keris Siginjai. Keturunan lainnya memegang gelar seperti Orang Kayo Pingal, Orang Kayo Gemuk, dan Orang Kayo Datuk.

4. Di mana lokasi makam Datuk Paduko Berhalo?

Makamnya berada di Pulau Berhala, sebuah pulau yang terletak di perairan Selat Berhala, yang kini masuk dalam wilayah Kabupaten Kepulauan Riau.

5. Apa hubungan antara Datuk Paduko Berhalo dengan Keris Siginjai?

Datuk Paduko Berhalo adalah ayah dari Orang Kayo Hitam, pemilik asli Keris Siginjai. Dengan demikian, dialah kakek dari pusaka legendaris tersebut dan cikal bakal dinasti yang menjadikan keris itu sebagai simbol kerajaan.

Scroll to Top