Sultan Thaha Saifuddin – Di tengah hiruk pikuk perlawanan terhadap kolonialisme di Nusantara, nama Sultan Thaha Saifuddin berdiri tegak sebagai simbol keteguhan hati dan keberanian rakyat Jambi. Sebagai sultan terakhir Kesultanan Jambi, perjalanan hidupnya bukan hanya sekadar catatan sejarah, melainkan sebuah epos perjuangan yang berlangsung hampir setengah abad. Perjuangan Sultan Thaha melawan Belanda sejak 1858 hingga wafatnya pada 1904 mengukir narasi kepahlawanan yang unik: seorang pemimpin yang lebih memilih mengasingkan diri ke pedalaman daripada tunduk pada perjanjian yang merugikan rakyatnya.
Latar Belakang dan Masa Awal Pemerintahan
Sultan Thaha Saifuddin, yang memiliki nama kecil Raden Thaha Jayadiningrat, lahir di Keraton Tanah Pilih pada pertengahan tahun 1816. Ia adalah putra dari Sultan Muhammad Fachruddin, yang menanamkan nilai-nilai kepemimpinan dan kedekatan dengan rakyat sejak dini. Sebelum naik takhta, Thaha pernah menjabat sebagai Pangeran Ratu atau Perdana Menteri pada masa pemerintahan Sultan Abdurrahman Nazaruddin. Posisi ini memberinya pemahaman mendalam tentang dinamika pemerintahan dan hubungan diplomatik yang rumit dengan pemerintah kolonial Hindia Belanda.
Pada tahun 1855, Sultan Taha Saifuddin secara resmi naik takhta. Langkah pertamanya sebagai sultan adalah melakukan peninjauan ulang terhadap seluruh perjanjian yang dibuat pendahulunya dengan Belanda. Ia menemukan klausul-klausul yang sangat merugikan, di mana kedaulatan Kesultanan Jambi hampir sepenuhnya hilang. Keputusan tegasnya untuk menolak memperbarui perjanjian tersebut menjadi titik awal konflik terbuka yang akan menentukan nasib kesultanannya selama beberapa dekade ke depan.
Akar Konflik: Penolakan terhadap Hegemoni Kolonial
Akar perlawanan Sultan Thaha Syaifuddin bersumber dari penolakan mutlak terhadap klaim kedaulatan Belanda atas tanah Jambi. Belanda, yang telah lama berusaha mengkonsolidasi kekuasaannya di Sumatra, melihat penolakan Sultan Thaha sebagai pemberontakan yang harus segera ditumpas. Insiden di Muara Kumpeh pada 25 September 1858 menjadi pemicu invasi militer Belanda secara besar-besaran ke ibu kota kesultanan.
Pasukan kolonial berhasil menduduki Keraton Tanah Pilih, memaksa Sultan Thaha dan pengikut setianya untuk mundur strategis. Namun, berbeda dengan banyak pemimpin lain yang memilih berunding atau menyerah, Sultan Thaha mengambil strategi yang unik: gerilya dan pemerintahan dalam pengasingan. Neliay memindahkan pusat pemerintahannya ke daerah Huluan atau pedalaman, dimulai dari Muara Tembesi, menunjukkan tekadnya untuk tetap memerintah sebagai sultan yang sah di mata rakyat, meski tanpa keraton.
Strategi Perang Gerilya dan Perlawanan Tak Kenal Lelah
Perlawanan Sultan Thaha Saifuddin terhadap Belanda adalah contoh klasik perang asimetris. Dengan sumber daya yang terbatas, ia memanfaatkan pengetahuan mendalam tentang geografi Jambi yang berbukit dan berhutan lebat. Basis-basis pertahanannya berpindah dari satu daerah terpencil ke daerah lain, seperti Sarolangun, Sungai Aro, dan akhirnya Muara Tebo. Taktik ini membuat pasukan Belanda, meski lebih modern dan lengkap, kesulitan menangkap sang sultan.
Salah satu kemenangan gemilang dalam perlawanan Sultan Thaha terjadi di Sarolangun pada 31 Juli 1901, di mana pasukannya berhasil memporak-porandakan pasukan kolonial. Kemenangan ini membuktikan bahwa perlawanan masih sangat hidup, bahkan di usia tuanya yang telah menginjak 85 tahun. Kharismanya sebagai pemimpin tetap kuat, menarik dukungan dari berbagai lapisan masyarakat, dari bangsawan hingga rakyat biasa, yang melihatnya sebagai pemimpin legitimate yang berjuang mempertahankan kedaulatan.
Misteri Akhir Hidup dan Makna Perlawanan
Hingga akhir hayatnya, Sultan Thaha tidak pernah tertangkap atau menyerah kepada Belanda. Ia wafat secara alamiah di Muara Tebo pada 26 April 1904 dalam usia 88 tahun. Kematiannya diselimuti kesederhanaan dan kerahasiaan; hanya para pengikut setia yang tahu lokasi persisnya. Setelah kematiannya, perlawanan rakyat Jambi memang meredup, namun semangat yang ia kobarkan tidak pernah padam.
Kisah Sultan Taha Syaifuddin ini memiliki makna yang sangat dalam. Ia bukan hanya mempertahankan takhta, tetapi lebih dari itu, mempertahankan martabat sebuah bangsa yang tidak mau dijajah. Keputusannya untuk menjadi “sultan dalam pengasingan” justru menguatkan legitimasinya di mata rakyat, sementara sultan-sultan yang diangkat Belanda dianggap hanya “Sultan Bayang” atau boneka. Perlawanan panjangnya menunjukkan bahwa kedaulatan tidak selalu diukur dengan penguasaan wilayah istana, tetapi dengan keberanian mempertahankan prinsip dan dukungan rakyat.
Warisan Abadi Sang Pahlawan
Pada 24 Oktober 1977, pemerintah Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Sultan Thaha Saifuddin melalui Surat Keputusan Presiden No. 079/TK/Tahun 1977. Gelar ini adalah pengakuan resmi atas pengorbanan dan keteguhannya membela tanah air.
Warisan Sultan Thaha Saifuddin tetap hidup hingga kini, tidak hanya dalam buku sejarah, tetapi juga dalam penamaan berbagai institusi penting di Jambi:
- Bandar Udara Sultan Thaha di Kota Jambi, menjadi gerbang utama provinsi.
- UIN Sultan Thaha Saifuddin, pusat pendidikan Islam yang mencetak generasi penerus bangsa.
- Rumah Sakit Umum Daerah Sultan Thaha Saifuddin di Kabupaten Tebo, melayani kesehatan masyarakat.
Nama besar Sultan Thaha Syaifuddin juga menginspirasi penelitian akademis, seni budaya, dan semangat kedaerahan yang membanggakan. Ia menjadi simbol identitas Jambi yang tangguh, religius, dan tidak mudah menyerah.
Share artikel ini untuk melestarikan ingatan kita bersama akan pahlawan bangsa yang gigih ini. Dengan mengenang dan mengambil pelajaran dari perjuangannya, kita menjadikan sejarah bukan hanya sebagai kenangan, tetapi sebagai kompas untuk langkah bangsa ke depan. Sultan Thaha Saifuddin membuktikan bahwa api perlawanan terhadap ketidakadilan tidak akan pernah padam, selama ada keberanian untuk menyalakannya.
Baca juga:
- Cerita Legenda Angso Duo Jambi, Makna Filosofi Kota “Tanah Pilih”
- Legenda Asal-usul Nama Sungai Batanghari
- Legenda Mayang Mangurai dalam Sejarah dan Budaya Jambi
Pertanyaan yang Sering Ditanyakan (FAQ)
1. Siapa sebenarnya Sultan Thaha Saifuddin?
Sultan Thaha Saifuddin adalah sultan terakhir Kesultanan Jambi yang memerintah sejak 1855, terkenal karena perlawanan gigihnya terhadap penjajahan Belanda selama puluhan tahun dari basis gerilya di pedalaman Jambi, hingga wafatnya pada 1904. Ia ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia pada 1977.
2. Mengapa Sultan Thaha Saifuddin menolak berdamai dengan Belanda?
Beliau menolak karena perjanjian yang ditawarkan Belanda merugikan kedaulatan Kesultanan Jambi. Sultan Thaha tidak mau mengakui klaim Belanda bahwa tanah Jambi adalah milik mereka yang hanya “dipinjamkan” kepada sultan. Baginya, perjanjian itu adalah bentuk penghianatan terhadap kedaulatan rakyat Jambi.
3. Di mana tempat persembunyian dan perjuangan terakhir Sultan Thaha?
Setelah keraton jatuh, Sultan Thaha berpindah-pindah basis perjuangan di daerah pedalaman (Huluan) Jambi, seperti Muara Tembesi, Sarolangun, dan Sungai Aro. Tempat tinggal dan perjuangan terakhirnya adalah di daerah Muara Tebo, di mana ia wafat dan dimakamkan.
4. Apa saja penghargaan dan pengabadian nama Sultan Thaha Saifuddin?
Selain gelar Pahlawan Nasional, namanya diabadikan sebagai nama Bandara Sultan Thaha di Jambi, Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Thaha Saifuddin, dan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sultan Thaha Saifuddin di Tebo.
5. Apa strategi perang yang digunakan Sultan Thaha melawan Belanda?
Strategi utamanya adalah perang gerilya (hit-and-run) dengan memanfaatkan medan pedalaman Jambi yang berat. Ia juga membangun pemerintahan dalam pengasingan, mempertahankan legitimasi di mata rakyat, dan menolak pertempuran frontal yang menguntungkan Belanda.
Referensi
- https://repositori.kemendikdasmen.go.id/11179/1/Sultan%20Thaha%20Syaifuddin-Rini%20Febriani%20Hauri.pdf
- https://id.wikipedia.org/wiki/Sultan_Thaha_Saifuddin
- https://dpk.kepriprov.go.id/opac/detail/9k8jc




