Rumah Batu Olak Kemang: Jejak Budaya dan Sejarah Islam di Jambi

Rumah Batu Olak Kemang

Rumah Batu Olak Kemang adalah salah satu cagar budaya Jambi yang menyimpan segudang kisah sejarah, spiritualitas, dan percampuran arsitektur yang unik. Terletak di Kelurahan Olak Kemang, Kecamatan Danau Teluk, bangunan bersejarah ini bukan hanya sekadar rumah tua, melainkan sebuah mahakarya yang menjadi bukti nyata kejayaan Kesultanan Jambi pada masanya. Dibangun pada sekitar abad ke-18, rumah ini merupakan kediaman Sayyid Idrus bin Hasan Al-Jufri, atau yang lebih dikenal dengan gelar Pangeran Wirokusumo, seorang penyebar agama Islam, saudagar kaya, dan figura penting di istana kesultanan.

Keunikan utama dari Rumah Batu Olak Kemang terletak pada arsitekturnya yang memadukan tiga pengaruh budaya besar: Lokal Melayu, Cina, dan Eropa. Perpaduan gaya arsitektur ini menjadikannya sebuah situs sejarah yang tak ternilai dan destinasi wisata yang wajib dikunjungi bagi para pelancong yang tertarik dengan warisan budaya Nusantara. 

Mengenal Sang Pendiri: Sayyid Idrus Hassan Al-Jufri

Tidak mungkin memahami Rumah Batu Olak Kemang tanpa mengenal sosok di balik berdirinya bangunan ini. Sayyid Idrus Hassan Al-Jufri, atau Pangeran Wiro Kusumo, adalah seorang keturunan Arab yang memainkan peran multi-dimensional dalam masyarakat Jambi abad ke-18. Ia bukan hanya seorang ulama yang gigih dalam menyebarkan ajaran Islam, tetapi juga seorang pedagang yang ulung dan pejuang yang berani. Kedudukannya yang sangat penting dalam Kesultanan Jambi diperkuat dengan ikatan keluarga, di mana ia merupakan besan dari Sultan Thaha Syaifuddin, sultan terakhir kerajaan Jambi yang legendaris.

Pangeran Wirokusumo mendirikan rumah batu ini tidak hanya sebagai tempat tinggal, tetapi juga sebagai pusat pendidikan dan syiar agama Islam. Lokasinya yang strategis, berdekatan dengan pesantren, menegaskan fungsinya sebagai episentrum dakwah pada zamannya. Pada tahun 1880, bersama Datuk Sintai (atau Datuk Shin Thai), seorang ulama keturunan Tionghoa, ia juga mendirikan Masjid Al-Ihsaniyah atau yang dikenal sebagai Masjid Batu. Masjid ini merupakan masjid pertama di Jambi yang dibangun dari material batu, sebuah terobosan pada masa di mana bangunan umumnya masih terbuat dari kayu.

Arsitektur yang Bercerita: Akulturasi dalam Setiap Detail

Bangunan rumah batu ini merupakan contoh sempurna dari akulturasi budaya yang harmonis. Setiap sudutnya menceritakan sebuah era di mana Jambi menjadi pusat perdagangan internasional yang ramai, dikunjungi oleh pedagang dari Eropa, China, dan Timur Tengah.

1. Unsur Lokal dan Melayu

Sebagai bangunan di tepian Sungai Batanghari, rumah ini mengadopsi konsep rumah panggung khas Jambi. Bentuk ini merupakan solusi cerdas untuk mengantisipasi banjir dan luapan air sungai. Lantai dua bangunan seluruhnya terbuat dari material kayu, yang merupakan ciri khas konstruksi tradisional Nusantara. Desain ini menunjukkan kearifan lokal yang tetap dipertahankan meskipun dengan infused gaya asing.

2. Pengaruh Budaya Cina

Gaya arsitektur Cina terasa sangat kental, terutama pada bagian ornamentasi. Pengunjung dapat menyaksikan relief naga yang detail di dinding berwarna putih, ukiran singa dan bunga, serta bentuk atap dan gapura yang memiliki karakteristik kuat dari Dinasti Qing. Ornamen-ornamen ini diduga kuat merupakan hasil kontribusi dan saran dari Datuk Sintai, sahabat Pangeran Wirokusumo yang berasal dari China. Keberadaan simbol-simbol ini menunjukkan toleransi dan penghormatan tinggi antarumat beragama dan budaya pada masa itu.

3. Sentuhan Gaya Eropa

Gaya Eropa atau Indis terlihat pada struktur bangunan yang kokoh dan monumental. Tiang-tiang pilar yang menyangga bangunan terbuat dari bata dan semen, membentuk kesan anggun dan kuat. Tangga semen yang menghubungkan lantai satu dan dua, serta lantai bawah yang dilapisi ubin terakota, adalah fitur-fitur yang banyak ditemui pada bangunan-bangunan kolonial Belanda. Gaya ini mencerminkan pengaruh kekuatan Eropa yang mulai masuk ke Nusantara, termasuk dalam segi arsitektur.

Fungsi dan Peran Strategis dalam Sejarah Jambi

Rumah Batu Olak Kemang lebih dari sekadar kediaman pribadi. Ia berfungsi sebagai:

  • Pusat Dakwah Islam: Sebagai tempat belajar dan pengajian, rumah ini menjadi katalisator penyebaran Islam di wilayah Seberang Kota Jambi.
  • Simbol Kekuatan Politik: Kedekatan Pangeran Wirokusumo dengan kesultanan menjadikan rumah ini sebagai simbol dari jaringan kekuasaan dan pengaruh yang stabil.
  • Bukti Historis Perdagangan Internasional: Perpaduan arsitekturnya adalah bukti nyata dari interaksi Jambi dengan dunia internasional melalui jalur perdagangan.

Tantangan Pelestarian dan Masa Depan yang Suram?

Sayangnya, kondisi Rumah Batu Olak Kemang saat ini sangat memprihatinkan. Meskipun statusnya telah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB), nasibnya tidak kunjung membaik. Kendala utama terletak pada status kepemilikan. Rumah ini masih merupakan aset ahli waris keluarga besar Pangeran Wirokusumo, bukan aset pemerintah. Hal ini membatasi kewenangan BPCB untuk melakukan pemugaran menyeluruh.

Perawatan yang dilakukan pun masih bersifat seadanya, mengandalkan swadaya dan dana dari keluarga keturunan. Padahal, bangunan tua terus termakan usia dan memerlukan perhatian serius untuk mencegah kerusakan yang lebih parah. Ironisnya, meskipun banyak dikunjungi wisatawan dan peneliti, rumah bersejarah ini belum dikelola secara profesional sebagai aset wisata yang dapat memberikan manfaat ekonomi sekaligus menjamin kelestariannya.

Pertanyaan yang Sering Ditanyakan (FAQ)

1. Siapa pendiri Rumah Batu Olak Kemang?

Rumah ini dibangun oleh Sayyid Idrus bin Hasan Al-Jufri, yang bergelar Pangeran Wirokusumo, seorang ulama dan figura penting dalam Kesultanan Jambi pada abad ke-18.

2. Di mana lokasi tepat Rumah Batu Olak Kemang?

Rumah ini terletak di Kelurahan Olak Kemang, Kecamatan Danau Teluk, di seberang Kota Jambi, Provinsi Jambi.

3. Apa keunikan arsitektur Rumah Batu Olak Kemang?

Keunikan utamanya adalah perpaduan tiga gaya arsitektur dalam satu bangunan: Lokal Melayu (rumah panggung), Cina (ornamen naga, atap, gapura), dan Eropa (pilar batu, tangga semen, ubin terakota).

4. Bagaimana kondisi Rumah Batu Olak Kemang saat ini?

Kondisinya memprihatinkan dan kurang terawat. Pemugaran terhambat karena status kepemilikannya yang masih sebagai aset ahli waris, sehingga perawatan hanya mengandalkan swadaya keluarga.

5. Apa hubungan Rumah Batu dengan Masjid Al-Ihsaniyah?

Keduanya didirikan oleh Pangeran Wirokusumo bersama Datuk Sintai. Masjid Al-Ihsaniyah (Masjid Batu) adalah masjid pertama di Jambi yang dibangun dari batu dan merupakan bagian dari kompleks pusat dakwah mereka.

Referensi

  1. Febriani, F., & Seprina, R. (2022). Pemanfaatan Cagar Budaya Rumah Batu Olak Kemang Di Jambi Kota Sebrang Sebagai Sumber Belajar Bagi Mahasiswa Pendidikan Sejarah Universitas Jambi. Krinok: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sejarah1(2), 119-133.
  2. SARI, U. A. I. P. M., Yuliana, Y., & Suyuthie, H. Analisis Potensi Objek Wisata di Kota Jambi. Journal of Home Economics and Tourism15(2), 435102.
  3. Siregar, I., Niswari, V. A., Sinurat, J. Y., Ramli, S., & Agustiningsih, N. Islamisasi di Jambi oleh Pangeran Wirokusumo (1860-1902). Historia: Jurnal Pendidik dan Peneliti Sejarah7(1), 73-82.
Scroll to Top