Raden Mattaher adalah nama yang tak terpisahkan dari sejarah perlawanan heroik di bumi Jambi. Lebih dari sekadar nama, belau adalah simbol ketangguhan, strategi gerilya yang brilian, dan keberanian tanpa tanding dalam menghadapi kolonialisme Belanda di akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Sebagai panglima perang andalan Sultan Thaha Syaifuddin, perjuangan Raden Mattaher meninggalkan jejak yang dalam, bukan hanya melalui pertempuran, tetapi juga dalam hati masyarakat yang menjulukinya “Singo Kumpeh”.
Raden Mattaher, terlahir dengan nama Raden Mohammad Tahir pada tahun 1871 di Dusun Sekamis, Kasau Melintang Pauh, merupakan keturunan bangsawan Kesultanan Jambi yang darah pejuangnya mengalir deras. Ayahnya, Pangeran Kusin (Raden Kusin), dan ibunya, Ratumas Esa, menempatkannya dalam lingkungan yang dekat dengan pusat kekuasaan dan perlawanan.
Silsilahnya menunjukkan hubungan darah yang erat dengan pahlawan nasional lainnya. Raden Mattaher adalah cucu dari Pangeran Adi, yang merupakan saudara kandung dari Sultan Thaha Syaifuddin. Dengan kata lain, Sultan Thaha adalah pamannya sendiri. Hubungan kekerabatan ini membentuknya menjadi sosok yang sangat loyal dan memahami betul tanggung jawabnya dalam mempertahankan kedaulatan kesultanan.
Sejak muda, belau telah menyerap berbagai ilmu. Tidak hanya ilmu agama yang ia dalami dari guru berdarah Arab, tetapi juga kecakapan di bidang seni dan olahraga. Raden Mattaher dikenal piawai memainkan biola dalam orkes Melayu Jambi dan mahir dalam permainan sepak bola. Namun, bakat terbesarnya justru di dunia strategi militer, yang ia gali langsung dari para panglima perang di bawah komando Sultan Thaha.
Titik balik dalam hidup Raden Mattaher terjadi pada tahun 1891. Saat itu, ayahnya, Raden Kusin, wafat ketika menunaikan ibadah haji di Mekkah. Peristiwa ini mengantarkannya untuk mengambil alih posisi sang ayah sebagai panglima perang di wilayah tertentu. Pengangkatan ini bukan hanya karena faktor keturunan, tetapi juga karena bakat alami dan kecakapan yang telah ia tunjukkan.
Sebagai panglima, wilayah komandonya membentang dari Muara Tembesi hingga Muaro Kumpeh. Di sanalah legenda Raden Mattaher sebagai “Singo Kumpeh” mulai terbentuk. Julukan “Singo” (Singa) diberikan oleh rakyat dan prajuritnya karena keberanian dan keganasannya dalam bertempur, layaknya raja hutan. Sementara “Kumpeh” merujuk pada daerah aliran sungai tempat ia paling banyak melakukan serangan dahsyat terhadap Belanda.
Kecerdasan Raden Mattaher paling tampak dalam pemilihan taktik perangnya. Beliau memahami betul bahwa sungai, terutama Batanghari dan anak-anak sungainya seperti Kumpeh, merupakan urat nadi logistik dan transportasi Belanda. Kapal-kapal uap dan perahu-perahu (jukung) Belanda membawa pasukan, senjata, amunisi, obat-obatan, dan perbekalan untuk mendukung operasi militernya di pedalaman Jambi.
Oleh karena itu, Raden Mattaher memfokuskan strategi gerilyanya pada penyerangan kapal-kapal dan konvoi logistik Belanda di sungai. Taktik ini sangat efektif karena:
Sepanjang karier militernya, Raden Mattaher tercatat memimpin setidaknya sembilan pertempuran besar yang hampir semuanya berhasil dimenangkan. Beberapa catatan heroiknya antara lain:
Perjuangan Raden Mattaher akhirnya berakhir pada 10 September 1907. Setelah bertahun-tahun menjadi buronan utama Belanda, beliau berhasil dikepung di rumahnya di Dusun Muaro Jambi. Dalam suatu operasi militer yang dipimpin Letnan Geldorp, Raden Mattaher gugur ditembak mati bersama dua pengawal setianya, Raden Pamuk dan Gabuk. Bekas lubang peluru pada tiang rumahnya menjadi saksi bisu pertempuran terakhirnya.
Meski gugur, Belanda tetap menghormatinya sebagai seorang kesatria. Atas permintaan pemuka agama, jasadnya dibawa ke Kota Jambi dan dimakamkan secara Islam di Kompleks Pemakaman Raja-Raja Jambi di tepi Danau Sipin. Uniknya, jari kelingkingnya dimakamkan secara terpisah di dekat Candi Muaro Jambi, yang kini dikenal sebagai Makam Kelingking Raden Mattaher, menjadi tempat ziarah dan renungan sejarah.
Warisan Raden Mattaher tetap hidup hingga kini. Namanya diabadikan pada:
Puncak pengakuan nasional datang pada 10 November 2020. Presiden Joko Widodo menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Raden Mattaher Bin Pangeran Kusen Bin Adi, bersama lima tokoh lainnya. Pengakuan ini menegaskan bahwa perjuangannya tidak hanya penting bagi daerah, tetapi merupakan bagian integral dari mosaik perjuangan bangsa Indonesia melawan kolonialisme.
Apa yang bisa kita pelajari dari Raden Mattaher?
Raden Mattaher, Sang Singa Kumpeh, mengajarkan kita bahwa perlawanan terhadap ketidakadilan memerlukan keberanian, kecerdikan, dan keteguhan yang tak kenal menyerah. Jejaknya di sungai-sungai Jambi adalah jejak seorang patriot sejati.
Bagikan artikel ini untuk menyebarkan kisah kepahlawanan Raden Mattaher, Sang Singa Kumpeh dari Jambi, agar semangat juangnya tetap menginspirasi generasi muda Indonesia!
Raden Mattaher (nama lahir: Raden Mohammad Tahir) adalah seorang panglima perang Kesultanan Jambi yang gigih melawan Belanda pada periode 1885-1907. Belau merupakan panglima andalan dan keponakan dari Sultan Thaha Syaifuddin, serta kini telah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.
Julukan “Singo” (singa) diberikan karena keberanian dan keganasannya dalam bertempur layaknya raja hutan. Sedangkan “Kumpeh” merujuk pada daerah aliran Sungai Kumpeh di Jambi, yang menjadi medan utama pertempurannya melawan kapal-kapal dan pasukan Belanda.
Taktik utamanya adalah perang gerilya dengan fokus menyerang kapal dan konvoi logistik Belanda di jalur sungai. Ia pintar memutus pasokan senjata dan pasukan musuh dengan menyergap kapal-kapal uap dan perahu yang melintasi Sungai Batanghari dan anak sungainya.
Belau gugur pada 10 September 1907 di Dusun Muaro Jambi. Setelah bertahun-tahun diburu, Belanda akhirnya mengepung rumahnya. Raden Mattaher tewas ditembak dalam pertempuran tersebut bersama dua pengawalnya.
Jasad utamanya dimakamkan di Kompleks Pemakaman Raja-Raja Jambi di tepi Danau Sipin, Kota Jambi. Sementara, jari kelingkingnya dimakamkan secara terpisah di dekat Kawasan Candi Muaro Jambi, yang dikenal sebagai Makam Kelingking Raden Mattaher.
SMUP 2026 SMUP 2026 menjadi gerbang utama bagi kamu yang bercita-cita melanjutkan pendidikan ke Universitas Padjadjaran…
SBUB UNDIP 2026