Putri Kembang Dadar: Legenda Pemersatu Dua Kerajaan di Palembang

Putri Kembang Dadar

Putri Kembang Dadar

Putri Kembang Dadar merupakan tokoh legendaris dalam cerita rakyat Palembang yang kisahnya masih hidup hingga kini. Sosoknya melegenda bukan hanya karena parasnya yang cantik bak bidadari, tetapi juga karena keberaniannya menjadi jembatan perdamaian antara Kerajaan Hulu dan Kerajaan Hilir yang bertikai. Namanya pun diabadikan sebagai nama jalan dan kapal pesiar di Kota Palembang, membuktikan betapa dalamnya pengaruh cerita ini terhadap budaya Sumatera Selatan.

Makna Filosofis di Balik Nama Putri Kembang Dadar

Nama Putri Kembang Dadar menyimpan filosofi yang dalam. Berdasarkan penelusuran sejarah, “Putri” berarti anak raja atau keturunan bangsawan, “Kembang” merupakan simbol keindahan dan kecantikan, sementara “Dadar” bermakna kekuatan menahan ujian hidup. Jadi, secara utuh, Putri Kembang Dadar melambangkan seorang putri yang tidak hanya cantik jelita, tetapi juga memiliki ketabahan luar biasa dalam menghadapi berbagai cobaan kehidupan .

Menariknya, tokoh ini memiliki beberapa versi nama asli. Sebagian sumber menyebut nama aslinya adalah Siti Soleha, sementara versi lain menyebut Bunga Melur atau Putri Bunga Melur. Perbedaan ini justru menambah kekayaan misteri yang menyelimuti sosok legendaris ini.

Kisah Legenda Putri Kembang Dadar

Perseteruan Dua Kerajaan

Pada masa lampau di wilayah yang kini dikenal sebagai Palembang, hiduplah dua kerajaan kecil bernama Kerajaan Hulu dan Kerajaan Hilir. Keduanya terlibat perselisihan berkepanjangan yang tak kunjung reda. Suatu ketika, Raja Hilir memutuskan mengirimkan pasukan perangnya yang dipimpin oleh seorang panglima gagah berani untuk menyerang Kerajaan Hulu.

Pasukan Kerajaan Hilir berangkat menggunakan perahu perang besar bernama Bidar—jenis perahu yang hingga kini setiap tahun diperlombakan dalam perayaan Hari Kemerdekaan RI dan HUT Kota Palembang.

Namun, rencana penyerangan ini sudah diketahui oleh Raja Hulu melalui prajurit pengintainya. Dengan strategi cerdik, pasukan Kerajaan Hulu berhasil mengalahkan pasukan Kerajaan Hilir. Panglima perang Kerajaan Hilir tewas dengan kepala terpisah dari badan—tanda kekalahan telak.

Keberanian Putri Kembang Dadar

Mendengar kabar kekalahan ini, Raja Hilir marah besar. Ia mengumpulkan seluruh penasihat dan prajuritnya, bertanya siapa yang berani memimpin pasukan selanjutnya. Semua terdiam, tak satu pun berani menjawab.

Di tengah kebisuan itu, Putri Kembang Dadar, putri raja yang hadir dalam rapat, memecahkan keheningan. Dengan suara merdu penuh keyakinan, ia meminta izin kepada ayahnya untuk berangkat ke Kerajaan Hulu. Ia berjanji tidak akan kembali sebelum berhasil menyelesaikan misinya.

Raja Hilir terkejut mendengar keberanian putrinya, namun ia pun bangga. Setelah memberikan restu, ia melepas kepergian Putri Kembang Dadar yang hanya didampingi beberapa orang pengawal .

Penyamaran dan Pertemuan dengan Raja Hulu

Sesampainya di wilayah Kerajaan Hulu, Putri Kembang Dadar menyamar sebagai pedagang sayuran biasa. Ia sengaja membaur dengan rakyat agar bisa melihat dari dekat wajah Raja Hulu yang terkenal tampan dan perkasa.

Walaupun berpakaian sederhana, kecantikannya tak dapat disembunyikan. Saat Raja Hulu berkeliling melihat keadaan rakyatnya, sekilas ia tertarik memandang wajah cantik pedagang sayur itu. Bukan main terpesonanya sang raja—ia kemudian memerintahkan prajuritnya memanggil wanita tersebut dan membawanya ke istana.

Raja Hulu muda yang gagah itu langsung jatuh hati. Ia memerintahkan dayang-dayang untuk mengganti pakaian sederhana Putri Kembang Dadar dengan busana terbaik milik kerajaan. Seketika, istana Kerajaan Hulu gempar. Kabar bahwa raja mereka akan menikahi seorang putri cantik jelita tersebar luas.

Pernikahan yang Membawa Perdamaian

Putri Kembang Dadar resmi menjadi permaisuri Raja Hulu. Sang raja mengumumkan di hadapan seluruh penggawa dan rakyatnya bahwa wanita cantik di sampingnya ini adalah ratu Kerajaan Hulu .

Berita pernikahan ini sampai ke Kerajaan Hilir. Raja Hilir mengirim utusan rahasia untuk menemui putrinya. Di sinilah kemudian kisah mistis Putri Kembang Dadar mengemuka—dengan kesaktiannya, sang putri dapat menghadap ayahnya tanpa menggunakan jasad kasar. Hanya ruhnya yang berbicara, menjelaskan situasi sebenarnya dan memohon agar permusuhan kedua kerajaan diakhiri.

Raja Hilir menerima keputusan putrinya. Sejak saat itu, tidak ada lagi peperangan antara Kerajaan Hulu dan Kerajaan Hilir. Rakyat kedua kerajaan hidup rukun dan damai. Berkat pengorbanannya menyatukan dua kerajaan yang bertikai, Putri Kembang Dadar dijuluki sebagai Putri Pemersatu Kerajaan.

Jejak Sejarah dan Misteri Putri Kembang Dadar di Bukit Siguntang

Salah satu bukti sejarah Putri Kembang Dadar yang masih dapat kamu saksikan hingga kini adalah makamnya yang berada di kompleks pemakaman Bukit Siguntang, Palembang. Bukit ini merupakan situs bersejarah peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang sangat dikeramatkan oleh masyarakat setempat.

Makam di Puncak Bukit Siguntang

Di puncak Bukit Siguntang, terdapat tujuh makam yang diyakini sebagai makam tokoh-tokoh penting Kerajaan Sriwijaya. Makam Putri Kembang Dadar terpisah dari makam lainnya, ditandai dengan batu marmer hitam setinggi kurang lebih satu meter dengan atap berwarna cokelat.

Menurut penuturan Ahmad Rusdi, juru kunci makam yang mewarisi tugas dari ayahnya, Putri Kembang Dadar merupakan keturunan Raja Sigentar Alam dan diperkirakan hidup pada masa Kerajaan Sriwijaya abad ke-10 . Konon, sang putri telah memeluk agama Islam sebelum wafat—terlihat dari orientasi makamnya yang menghadap ke kiblat.

Tiga Versi Ayah Kandung

Menariknya, terdapat tiga versi cerita mengenai ayah kandung Putri Kembang Dadar. Pertama, ada yang menyebut ia putri dari Raja Siguntang Alam. Kedua, versi lain mengatakan ia putri Raja Demang Lebar Daun. Ketiga, sumber lain menyebut ia merupakan putri dari Kerajaan Hilir—yang paling populer dalam cerita rakyat.

Fenomena Mistis dan Penampakan

Sosoknya juga lekat dengan berbagai cerita mistis. Banyak warga sekitar dan pengunjung Bukit Siguntang yang mengaku pernah melihat penampakan Putri Kembang Dadar. Ada yang melihatnya berjalan dengan kereta kencana tanpa penunggang, ada pula yang tak sengaja mengabadikannya dalam foto.

Salah satu kisah terkenal terjadi pada tahun 2010, ketika seorang peserta diklat kepemimpinan dari Lampung memotret area sekitar Gedung Diklat yang bersebelahan dengan Bukit Siguntang. Dalam foto tersebut, tampak sesosok wanita berpakaian khas Palembang yang saat difoto tidak ada di lokasi. Foto penampakan ini sempat menghebohkan peserta diklat.

Kesaktiannya juga digambarkan melalui jari telunjuknya. Konon, apa pun yang ia tunjuk dan ucapkan dapat terjadi . Kemampuan gaib ini pula yang memungkinkannya menghadap Raja Hilir tanpa menggunakan jasad kasar.

Relevansi Legenda Putri Kembang Dadar bagi Generasi Muda

Di era digital saat ini, pelestarian cerita rakyat seperti legenda Putri Kembang Dadar menghadapi tantangan besar. Berdasarkan penelitian Jannah & Rani (2023) terhadap 306 responden Generasi Z di Kota Palembang, hasilnya cukup memprihatinkan: hanya 47,3% yang pernah mendengar tentang Putri Kembang Dadar—kurang dari setengahnya .

Namun, kabar baiknya, 67% dari total responden tertarik untuk mengetahui lebih lanjut tentang legenda ini. Sebagian besar responden mengetahui cerita dari media sosial, menunjukkan bahwa platform digital dapat menjadi sarana efektif untuk memperkenalkan kembali warisan budaya kepada generasi muda.

Legenda seperti kisah Putri Kembang Dadar tidak hanya menceritakan tokoh dan peristiwa masa lampau. Di dalamnya tersimpan nilai-nilai kearifan lokal, pandangan hidup, kepercayaan, dan ajaran moral yang relevan sepanjang masa. Keberanian, pengorbanannya untuk perdamaian, serta ketabahannya menghadapi ujian adalah teladan yang dapat kamu petik untuk kehidupan sehari-hari.

Bagikan artikel ini kepada teman-temanmu agar mereka juga mengenal sosok inspiratif ini. Jangan biarkan sejarah tenggelam—karena mengenal masa lalu adalah cara terbaik melangkah ke masa depan. Seperti kata pepatah: “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya.” Mari bersama menjaga warisan leluhur agar tak lekang dimakan zaman.

Baca juga:

Referensi

  1. https://budaya-indonesia.org/Putri-kembang-dadar
  2. https://pustakabbspst.kemendikdasmen.go.id/opac/index.php?p=show_detail&id=2469&keywords=

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

1. Siapa sebenarnya Putri Kembang Dadar dalam sejarah?

Putri Kembang Dadar adalah tokoh legendaris dalam cerita rakyat Sumatera Selatan, khususnya Palembang. Ia digambarkan sebagai putri cantik jelita keturunan bangsawan yang hidup pada masa Kerajaan Sriwijaya sekitar abad ke-10. Nama aslinya disebut-sebut sebagai Siti Soleha atau Bunga Melur. Ia terkenal karena keberaniannya menyatukan Kerajaan Hulu dan Kerajaan Hilir yang bertikai melalui pernikahannya dengan Raja Hulu, sehingga dijuluki Putri Pemersatu Kerajaan.

2. Di mana lokasi makam Putri Kembang Dadar?

Makamnya terletak di kompleks pemakaman Bukit Siguntang, Kota Palembang, Sumatera Selatan. Bukit ini merupakan situs bersejarah peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang dikeramatkan. Makamnya berupa batu marmer hitam setinggi sekitar satu meter dengan atap berwarna cokelat, terpisah dari enam makam keramat lainnya di lokasi yang sama.

3. Apa arti nama “Kembang Dadar”?

Nama Putri Kembang Dadar memiliki makna filosofis mendalam. “Putri” berarti anak raja atau keturunan bangsawan, “Kembang” merupakan simbol keindahan dan kecantikan, sedangkan “Dadar” berarti kekuatan menahan ujian hidup. Jadi, Putri Kembang Dadar melambangkan seorang putri yang tidak hanya cantik secara fisik, tetapi juga memiliki ketabahan dan kekuatan batin dalam menghadapi berbagai cobaan kehidupan.

4. Apa saja peninggalan Putri Kembang Dadar yang masih ada?

Masyarakat Palembang mengabadikan nama Putri Kembang Dadar dalam beberapa bentuk: (1) Jalan di Kelurahan Bukit Lama, Kecamatan Ilir Barat I, Palembang; (2) Kapal pesiar milik Pemerintah Kota Palembang yang berkapasitas 120 orang untuk wisata Sungai Musi; (3) Makam di Bukit Siguntang yang masih diziarahi hingga kini; dan (4) Lagu daerah yang kerap dinyanyikan masyarakat.

5. Apakah kisah Putri Kembang Dadar benar-benar terjadi?

Legenda Putri Kembang Dadar termasuk dalam kategori cerita rakyat atau folklor yang dipercaya masyarakat sebagai kisah yang benar-benar terjadi, meskipun tidak memiliki bukti sejarah tertulis yang kuat. Beberapa versi menyebutkan ia adalah putri dari Raja Siguntang Alam, Raja Demang Lebar Daun, atau Kerajaan Hilir. Keberadaan makamnya di Bukit Siguntang—situs pemakaman para bangsawan Sriwijaya—memperkuat keyakinan masyarakat bahwa ia memang tokoh nyata dalam sejarah. Hingga kini, kisahnya tetap hidup dalam tradisi lisan dan budaya masyarakat Palembang.

Scroll to Top