Putri Junjung Buih: Maharani Legendaris yang Menurunkan Wangsa Kesultanan Banjar

Putri Junjung Buih

Putri Junjung Buih

Putri Junjung Buih menempati posisi sebagai tokoh semi-legendaris dalam Hikayat Banjar yang berperan sebagai Maharani ketiga Kerajaan Negara Dipa di Kalimantan Selatan. Kamu mungkin mengenal nama tersebut lewat cerita rakyat Banjar yang masyarakat wariskan turun-temurun, tetapi sosok Putri Junjung Buih ternyata menyimpan makna sejarah, budaya, dan spiritual yang jauh lebih dalam daripada sekadar dongeng pengantar tidur. Lewat legenda tersebut, masyarakat Kalimantan menelusuri asal-usul wangsa bangsawan mereka, termasuk Kesultanan Banjar yang tetap eksis hingga hari ini.

Alliya akan mengulas siapa Putri Junjung Buih, bagaimana legenda kemunculannya, hubungan pernikahannya dengan Pangeran Suryanata, garis keturunan yang lahir darinya, hingga perspektif historiografi yang mengaitkan sosoknya dengan berbagai tradisi lain di Nusantara.

Siapa Putri Junjung Buih?

Putri Junjung Buih memegang gelar Raja Puteri atau Maharani Negara Dipa, kerajaan yang berdiri di persimpangan tiga aliran sungai yaitu Tabalong, Balangan, dan Negara pada sekitar abad ke-13 Masehi. Wilayah Negara Dipa kemudian berkembang menjadi kota Amuntai, tempat masyarakat setempat membangun Candi Agung sebagai peninggalan kerajaan tersebut.

Hikayat Banjar menyebutkan bahwa Putri Junjung Buih berasal dari unsur etnis pribumi Kalimantan. Patih Negara Dipa, Lambung Mangkurat, menemukan sang puteri saat menjalankan balampah atau bertapa di tepi sungai. Ia muncul dari gumpalan buih sungai, sehingga masyarakat kemudian menyematkan nama “Junjung Buih” padanya. Lambung Mangkurat lantas mengangkat gadis tersebut sebagai saudara sekaligus anak angkat, dan membesarkannya hingga layak memimpin kerajaan.

Legenda Kemunculan dari Buih Sungai

1. Kepercayaan sebagai Manifestasi Jata

Masyarakat Banjar meyakini Putri Junjung Buih sebagai manifestasi Jata atau Tambun, yaitu penguasa alam bawah yang legenda menggambarkan sebagai naga raksasa penyangga bumi. Kepercayaan Kaharingan setempat memandang penyatuan langit dan air sebagai fondasi kosmologis kerajaan, sehingga kemunculannya dari air sungai membawa makna simbolis yang kuat.

2. Pertemuan dengan Lambung Mangkurat

Lambung Mangkurat menjalankan balampah demi memohon keturunan bagi raja Negara Dipa, Ampu Jatmika. Alih-alih mendapat pewaris laki-laki, ia justru menemukan seorang gadis di dalam kumpulan buih sungai. Ampu Jatmika kemudian mengangkat gadis tersebut sebagai penerus takhta dan mempersiapkan pernikahannya dengan bangsawan dari Majapahit.

Pernikahan dengan Pangeran Suryanata

Ampu Jatmika menikahkan Putri Junjung Buih dengan Pangeran Suryanata, seorang pangeran yang datang dari Majapahit dan melambangkan Pangeran Matahari dalam kosmologi lokal. Pernikahan keduanya merepresentasikan persatuan langit (Suryanata) dengan air (Junjung Buih), sebuah konsep yang berakar pada kepercayaan Kaharingan tentang keseimbangan alam semesta.

Dari pernikahan tersebut, melahirkan Pangeran Aria Dewangga. Menurut Hikayat Banjar resensi II, Pangeran Aria Dewangga kemudian menikahi Putri Kabuwaringin, puteri Lambung Mangkurat sendiri. Pasangan itulah yang menurunkan deretan raja Negara Dipa, Negara Daha, Kesultanan Banjar, hingga Kepangeranan Kotawaringin.

Garis Keturunan dan Kerajaan-Kerajaan Kalimantan

Nama Putri Junjung Buih menempati posisi terhormat dalam silsilah bangsawan Kalimantan bagian selatan. Mitologi pesisir setempat menegaskan bahwa seorang raja hanya sah memerintah apabila memiliki garis keturunan dari pasangan Putri Junjung Buih dan Pangeran Suryanata, pasangan yang masyarakat anggap sebagai “bangsawan sejati”. Beberapa kerajaan di Kalimantan Barat bahkan turut mengklaim garis keturunan dari sang Maharani.

Tabel berikut merangkum jejak pengaruh Putri Junjung Buih pada berbagai kerajaan dan tradisi di Kalimantan.

Kerajaan/TradisiHubungan dengan Putri Junjung BuihKeterangan Singkat
Kerajaan Negara DipaMaharani ketigaKerajaan asal, berpusat di Amuntai
Kerajaan Negara DahaKeturunan langsungLahir lewat jalur Pangeran Aria Dewangga
Kesultanan BanjarLeluhur pendiri wangsaBertahan sebagai identitas budaya hingga kini
Kepangeranan KotawaringinKeturunan langsungCabang wangsa dari Negara Daha
Kerajaan Kutai KartanegaraTradisi menyebutnya Puteri Junjung Buyah, istri kedua Aji Batara Agung Dewa SaktiVersi tradisi berbeda dari Hikayat Banjar
Kerajaan di Kalimantan BaratKlaim keturunanMenelusuri silsilah ke sang Maharani

Selain jalur kerajaan resmi, masyarakat juga memakai nama Junjung Buih sebagai gelar kehormatan. Pada masa Perang Banjar, Saranti, puteri dari Panembahan Muda Aling, menyandang gelar Poetri Djoendjoeng Boewih sebagai penghormatan atas warisan sang Maharani legendaris.

Perspektif Historiografi

1. Ngabehi Hileer sebagai Figur Historis

Di luar bingkai legenda, catatan-catatan belakangan menyebut Putri Junjung Buih kemungkinan besar merupakan putri seorang bangsawan lokal bernama Ngabehi Hileer. Pandangan tersebut menempatkan sosoknya sebagai figur historis yang narasi mitologis kemudian membalut demi memperkuat legitimasi kekuasaan wangsa penerusnya.

2. Kaitan dengan Tradisi Dayak

Drg. Marthin Bayer mengajukan hipotesis bahwa Putri Junjung Buih merujuk pada tokoh yang sama dengan Kameluh Putak Bulau Janjulen Karangan Limut Batu Kamasan Tambun, sosok yang masyarakat Dayak kenal luas dalam tradisi mereka. Hipotesis tersebut memperlihatkan bahwa jejaknya tidak berdiri sendiri, melainkan berjalin dengan kepercayaan komunitas asli Kalimantan lainnya.

3. Kemiripan dengan Legenda Puteri Lela Menchanai di Brunei

Kamu juga bisa menemukan pola cerita serupa pada legenda Puteri Lela Menchanai, permaisuri Sultan Bolkiah dari Brunei yang menikah pada tahun 1524. Suku Kedayan meyakini Puteri Lela Menchanai berasal dari buih lautan, sebuah motif yang selaras dengan kisah kemunculan Putri Junjung Buih dari buih sungai. Kemiripan tersebut menandakan bahwa motif “puteri dari buih” merupakan pola naratif yang tersebar luas di kawasan pesisir Nusantara dan Kalimantan.

Makna dan Nilai Budaya dalam Cerita Rakyat

Kajian struktur cerita rakyat Putri Junjung Buih menampilkan tema kepatuhan seorang anak yang menjalankan amanat ayahnya untuk menjaga kerajaan dan mencari pengganti takhta. Tindakan Lambung Mangkurat sepanjang alur cerita menggambarkan tema tersebut secara kuat. Cerita rakyat tersebut juga menyisipkan amanat penting: setiap orang sepatutnya menyadari derajat, kedudukan, dan hak sosialnya masing-masing, sebuah pesan yang tetap relevan kamu terapkan dalam kehidupan bermasyarakat hingga sekarang.

Bagi kamu yang tertarik pada sejarah dan budaya Kalimantan, kisah ini membuka jendela pemahaman tentang bagaimana masyarakat Banjar merajut identitas kolektif lewat mitos, silsilah, dan nilai moral sekaligus.

Yuk, Bagikan Warisan Budaya Ini

Kalau kamu merasa terbantu memahami sosok Putri Junjung Buih secara lebih utuh, jangan simpan sendiri. Bagikan artikel ke teman atau keluarga yang tertarik dengan sejarah Kalimantan, tinggalkan komentar tentang versi cerita yang pernah kamu dengar di daerahmu, dan ikuti terus pembahasan seputar Hikayat Banjar lainnya. Warisan budaya hanya lestari kalau generasi demi generasi terus menceritakan ulang kisah tersebut.

Baca juga:

FAQ

1. Siapa sebenarnya Putri Junjung Buih?

Putri Junjung Buih adalah Maharani ketiga Kerajaan Negara Dipa dalam Hikayat Banjar, tokoh yang masyarakat percaya muncul dari buih sungai dan menjadi leluhur wangsa bangsawan Kalimantan, termasuk Kesultanan Banjar.

2. Kenapa Putri Junjung Buih menyandang nama tersebut?

Legenda menyebutkan Lambung Mangkurat menemukan sang puteri di dalam kumpulan buih sungai saat bertapa (balampah), sehingga masyarakat menamainya “Junjung Buih” sesuai asal kemunculannya.

3. Siapa suami Putri Junjung Buih?

Suaminya bernama Pangeran Suryanata, seorang pangeran dari Majapahit yang dalam kosmologi lokal melambangkan Pangeran Matahari, berpasangan dengan Putri Junjung Buih sebagai lambang air.

4. Kerajaan apa saja yang mengklaim sebagai keturunan Putri Junjung Buih?

Kerajaan Negara Daha, Kesultanan Banjar, Kepangeranan Kotawaringin, sejumlah kerajaan di Kalimantan Barat, hingga tradisi Kerajaan Kutai Kartanegara turut mengaitkan silsilah mereka dengan Putri Junjung Buih.

5. Apakah Putri Junjung Buih tokoh nyata atau hanya legenda?

Sumber historiografi menduga Putri Junjung Buih merupakan putri seorang bangsawan lokal bernama Ngabehi Hileer, sehingga sosoknya kemungkinan berakar dari figur historis yang narasi legendaris kemudian membalut demi memperkuat legitimasi kekuasaan.

Referensi

  1. https://id.wikipedia.org/wiki/Putri_Junjung_Buih
  2. https://etd.repository.ugm.ac.id/penelitian/detail/83709
Scroll to Top