Mengenal 10+ Suku di Bangka Belitung dari Suku Asli hingga Pendatang

Suku di Bangka Belitung

Suku di Bangka Belitung

Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menyimpan kekayaan budaya yang luar biasa. Suku di Bangka Belitung tidak hanya terdiri dari satu kelompok etnis saja, melainkan beragam komunitas yang hidup berdampingan dengan harmonis. Sebagai wilayah yang terdiri dari Pulau Bangka dan Pulau Belitung, provinsi yang resmi berdiri pada tahun 2000 ini telah menjadi rumah bagi berbagai suku bangsa, baik suku asli yang mendiami wilayah tersebut sejak berabad-abad lalu, maupun suku pendatang yang datang silih berganti membawa warna baru dalam percampuran budaya.

Keberagaman suku di wilayah yang berbatasan dengan Laut Cina Selatan ini menjadikan Bangka Belitung layaknya miniatur Indonesia. Masyarakatnya hidup rukun meskipun berasal dari latar belakang yang berbeda-beda. Berdasarkan data Sensus Penduduk tahun 2010, populasi suku asal Sumatera khususnya Bangka Belitung mendominasi dengan persentase 69,03 persen dari total 1,2 juta jiwa penduduk kala itu.

Kamu mungkin sudah sering mendengar tentang keindahan pantai di Belitung atau kelezatan kuliner khasnya, tetapi memahami ragam suku di sana akan membuka wawasan baru tentang kekayaan nusantara. Mari telusuri bersama-sama suku-suku yang membentuk identitas Provinsi Bangka Belitung saat ini.

Suku di Bangka Belitung: Suku Asli

1. Suku Lom (Mapur)

Suku Lom atau sering disebut Suku Mapur merupakan salah satu suku tertua yang mendiami Pulau Bangka. Berdasarkan catatan sejarah, keberadaan suku ini dapat ditelusuri hingga masa Kerajaan Majapahit. Kelompok masyarakat ini awalnya terdiri dari orang-orang yang memilih mengasingkan diri dan hidup di pedalaman hutan .

Kata “Lom” atau “Lum” merujuk pada pengertian belum mengenal kemajuan. Mereka pada mulanya tinggal di hutan-hutan sambil mengembangkan keterampilan bercocok tanam dan beternak di sekitar tempat tinggal mereka. Saat ini, perkampungan Suku Lom dapat kamu temukan di Dusun Air Abik, Desa Gunung Muda, Belinyu, Kabupaten Bangka.

Tahun 1973 menjadi titik balik bagi komunitas ini, ketika terjadi pemisahan menjadi dua kelompok: Suku Lom Luar yang memilih turun gunung dan berbaur dengan masyarakat umum, serta Suku Lom Dalam yang tetap bertahan di pedalaman hutan dengan gaya hidup tradisional. Populasi Suku Lom Luar kini mencapai sekitar 130 jiwa, meningkat drastis dari sebelumnya yang hanya belasan orang pada tahun 1970-an.

Rumah tradisional Suku Lom dikenal dengan sebutan umah memarong. Bangunan panggung ini menggunakan kayu ibul sebagai lantai, dinding dari kulit kayu, dan atap dari daun nipah. Di Kampung Adat Gebong Memarong, kamu bisa melihat tujuh replika rumah tersebut yang kini difungsikan sebagai homestay tradisional, balai adat, galeri, dan museum .

Setiap tahun, Suku Lom menggelar tradisi Nujuh Jerami sebagai ungkapan rasa syukur atas panen padi. Ritual ini dipimpin oleh tetua adat di Umah Memarong dan menjadi daya tarik wisata budaya yang sayang untuk dilewatkan.

2. Suku Ameng Sewang

Suku Ameng Sewang mendiami perairan sekitar Pulau Belitung. Kelompok etnis ini menjalani kehidupan berpindah-pindah di laut, umumnya bekerja sebagai nelayan dan pencari ikan. Mereka membangun gubuk-gubuk kecil di pinggir pesisir atau mendiami sampan-sampan di daerah pantai.

Di Pulau Bangka, penyebaran mereka meliputi daerah Lepar Pongok dan Pangkalan Baru. Sementara di Pulau Belitung, kamu bisa menemukan komunitas ini di daerah Membalong dan sekitarnya.

Kehidupan di atas perahu membuat mereka sangat tergantung pada keadaan alam. Saat air sedang surut, mereka akan berpindah ke lokasi yang potensi hasil ikannya lebih besar. Jika cuaca laut tidak bersahabat, mereka akan tinggal di darat untuk sementara waktu. Pola hidup yang tidak menetap ini dulunya menyebabkan mereka digolongkan sebagai masyarakat terasing.

Mayoritas Suku Ameng Sewang memeluk agama Islam. Sebagai muslim, mereka menjauhi minuman keras termasuk tuak nira. Namun, masyarakat ini dikenal gemar merokok dan bisa menghabiskan beberapa bungkus rokok setiap hari.

3. Suku Sekak

Suku Sekak merupakan sub-suku dari Orang Laut Bangka Belitung yang saat ini telah mengadopsi gaya hidup modern. Mereka pada awalnya adalah pengembara laut di perairan Bangka dan Belitung. Beberapa sebutan untuk kelompok ini antara lain Sekat, Sika, atau Sekah.

Transformasi besar terjadi pada tahun 1973 ketika mereka naik ke daratan dan mulai menggarap lahan pertanian pemberian pemerintah. Saat ini, sebagian besar Suku Sekak tidak lagi menggantungkan hidup pada laut. Mereka beralih profesi menjadi petani, pekebun, bahkan banyak yang terlibat dalam kegiatan pertambangan timah yang dikelola perusahaan swasta.

Suku Sekak memiliki tradisi tahunan bernama Buang Jung. Ritual ini merupakan ungkapan rasa syukur dan penghormatan kepada leluhur serta permohonan keselamatan di laut. Dalam acara tersebut, kamu bisa menjumpai kuliner khas seperti lempah kuning dan gangan ikan yang segar.

4. Suku Mengkanau

Suku Mengkanau merupakan suku asal warga Desa Namang, Kecamatan Namang, Kabupaten Bangka Tengah. Sejarah mencatat bahwa sekitar 350 tahun lalu, wilayah ini dikenal sebagai Kampung Mengkanau, tempat komunitas Mengkanau mendiami pedalaman Hutan Pelawan.

Mereka diyakini sebagai keturunan dari masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya. Hidup mereka sangat lekat dengan alam, mengandalkan hutan yang menyediakan rotan, kayu, dan obat-obatan, serta sawah dan ladang yang memberi padi serta umbi-umbian.

Dari pola hidup bersahabat dengan alam itulah lahir tradisi Murok Jerami, sebuah ungkapan syukur kepada bumi yang memberi kehidupan. Ritual tahunan ini masih bertahan hingga sekarang, meskipun komunitas Suku Mengkanau kini sudah menjadi minoritas dan sebagian besar telah berbaur dengan penduduk lain.

Prosesi Murok Jerami sangat sarat makna. Jerami yang dibakar menjadi simbol pelepasan beban. Padi yang diayun seperti menimang bayi merupakan bentuk penghormatan, sementara suara lesung yang bertalu-tulu melambangkan kebersamaan. Tradisi ini bahkan telah tercatat sebagai Kekayaan Intelektual Komunal (KIK) Nasional.

Sayangnya, bahasa daerah Suku Mengkanau semakin jarang terdengar dan tergantikan oleh bahasa Melayu Bangka. Perkawinan silang dengan penduduk dari luar suku juga membuat identitas ke-Mengkanau-an mulai memudar, bahkan keturunan dari hasil perkawinan itu kini lebih banyak disebut sebagai orang Melayu atau Suku Melayu Bangka.

5. Suku Sakai

Suku Sakai merupakan generasi kedua dari Suku Sekak yang menetap di Pulau Bangka. Penduduk Belitung sering menyebut mereka sebagai Suku Sakai modern. Awalnya, suku ini bekerja sebagai pencari ikan di perairan Bangka Belitung .

Memasuki era 1970-an, program pembangunan wilayah terasing mengubah orientasi hidup mereka. Suku Sakai tidak lagi bergantung pada laut, melainkan beralih ke sektor pertanian dan perkebunan palawija. Perubahan ini menunjukkan betapa adaptifnya kelompok masyarakat ini terhadap perkembangan zaman.

Suku di Bangka Belitung: Suku Pendatang

6. Suku Melayu

Suku Melayu merupakan suku dengan populasi terbesar di Bangka Belitung. Mereka tersebar di seluruh provinsi, baik di Pulau Bangka maupun Pulau Belitung. Menariknya, sebagian besar Suku Melayu di wilayah ini menggunakan dialek Belitung dalam percakapan sehari-hari, meskipun Pulau Bangka juga memiliki dialek khusus tersendiri.

Di Kota Pangkalpinang, Suku Melayu diakui sebagai penduduk asli. Buku “Hubungan Antar Suku Bangsa di Kota Pangkalpinang” karya Eva Warni menyebutkan bahwa Suku Melayu merupakan kelompok sosial asli yang mendominasi sebagian besar wilayah provinsi ini.

Suku Melayu di Bangka Belitung mayoritas beragama Islam. Bahasa yang mereka gunakan dalam keseharian adalah bahasa Melayu dengan logat khas Bangka atau Belitung. Mereka juga memiliki sub-suku seperti Suku Jerieng yang tersebar di Kabupaten Bangka Barat dengan jumlah sekitar 30 ribu jiwa. Suku Jerieng memiliki ritual adat Setana Jerieng Amantubillah yang digelar setiap tahun sebagai bentuk pelestarian adat.

7. Suku Tionghoa

Suku Tionghoa memiliki sejarah panjang di Bangka Belitung. Kedatangan mereka dapat ditelusuri sejak masa pemerintahan Kesultanan Palembang Darussalam, ketika kesultanan mendatangkan banyak tenaga kerja dari China untuk mendukung kegiatan pertambangan timah.

Hubungan Suku Tionghoa dengan penduduk lokal, terutama Suku Melayu, berlangsung erat dan harmonis. Banyak di antara mereka yang menjalin hubungan keluarga melalui perkawinan campuran. Data sensus menunjukkan populasi Tionghoa mencapai 8,17 persen dari total penduduk provinsi ini.

Orang Tionghoa di Bangka Belitung sebagian besar berasal dari suku Hakka, yang tercermin dalam kuliner khas seperti bakmi Bangka, tahu kok, dan aneka hidangan lainnya. Mereka juga memproduksi kecap khas Bangka yang berbeda dengan kecap dari daerah lain, memiliki warna lebih hitam dan kental mirip dengan shoyu Jepang.

8. Suku Bugis

Suku Bugis termasuk kelompok etnis yang aktif di Bangka Belitung. Jiwa menjelajah yang menjadi ciri khas masyarakat Bugis mendorong mereka merantau hingga ke kepulauan ini. Populasi mereka mencapai 2,75 persen berdasarkan sensus penduduk .

Kedatangan orang Bugis ke Bangka Belitung terjadi dalam dua gelombang. Pertama, pada masa kolonial seiring dengan eksploitasi timah di wilayah ini. Kedua, diperkirakan jauh sebelum periode kolonial, mengingat sifat suku Bugis yang gemar berlayar dan letak Bangka Belitung yang dikelilingi laut .

9. Suku Jawa

Kehadiran Suku Jawa di Bangka Belitung sudah berlangsung lama, bahkan dapat ditelusuri hingga masa Kerajaan Sriwijaya. Prasasti Kota Kapur yang ditemukan di Pulau Bangka dengan angka tahun 608 C atau 686 Masehi menjadi bukti awal keberadaan kerajaan tersebut di wilayah ini, meskipun migrasi orang Jawa belum signifikan saat itu.

Gelombang migrasi besar terjadi setelah kekalahan Kerajaan Sriwijaya sekitar abad ke-13. Faktor pendorongnya antara lain sempitnya lapangan pekerjaan dan minimnya kepemilikan tanah di Pulau Jawa. Sementara itu, Bangka Belitung pada masa itu memiliki luas tanah yang sebagian besar masih kosong dan belum dimanfaatkan.

Saat ini, Suku Jawa menempati posisi kedua sebagai suku pendatang terbesar dengan persentase 8,34 persen dari total penduduk.

10. Suku Lainnya

Selain suku-suku yang telah disebutkan, masih banyak kelompok etnis lain yang turut mewarnai kehidupan di Bangka Belitung. Berdasarkan data sensus, terdapat Suku Sunda (1,55 persen), Suku Madura (1,27 persen), Suku Batak (0,78 persen), dan Suku Minangkabau (0,35 persen) .

Keragaman ini menjadikan Bangka Belitung sebagai contoh nyata kerukunan antar etnis. Masyarakat dari berbagai latar belakang suku, agama, dan budaya hidup berdampingan secara damai. Tidak heran jika wilayah ini sering disebut sebagai miniatur Indonesia yang sesungguhnya.

Kekayaan Budaya yang Tercermin dalam Tradisi dan Kuliner

1. Tradisi Unik sebagai Cerminan Kearifan Lokal

Setiap suku di Bangka Belitung memiliki tradisi khas yang terus dilestarikan. Suku Lom dengan Nujuh Jeraminya, Suku Mengkanau dengan Murok Jerami, dan Suku Sekak dengan Buang Jung menjadi bukti betapa kayanya budaya provinsi ini.

Tradisi-tradisi tersebut bukan sekadar ritual tahunan, tetapi juga sarat pesan moral tentang rasa syukur, kebersamaan, dan penghormatan terhadap alam. Nilai-nilai ini tetap relevan meskipun zaman terus berubah.

2. Kuliner Khas: Perpaduan Rasa yang Menggugah Selera

Keberagaman suku juga tercermin dalam khazanah kuliner Bangka Belitung. Makanan khas di sini umumnya terbagi menjadi dua pengaruh besar: Masakan Melayu dan Masakan Tionghoa, terutama dari tradisi Hakka .

Lempah kuning atau gangan menjadi ikon kuliner yang wajib kamu coba. Hidangan berkuah ini berbahan dasar ikan kakap merah atau tenggiri dengan bumbu kunyit, cabai, bawang, lengkuas, dan belacan. Keunikannya terletak pada potongan nanas yang memberikan rasa segar asam manis .

Jika berkunjung ke Pangkalpinang, kamu juga patut mencicipi tempoyak ikan laut. Hidangan ini menggunakan durian fermentasi yang dimasak bersama ikan laut, menghasilkan perpaduan rasa asam dan pedas yang khas. Meski terdengar tidak biasa, perpaduan durian dan ikan justru menciptakan sensasi rasa yang unik dan menggugah selera.

Rusip dan kecalo menjadi contoh kuliner fermentasi khas daerah ini. Rusip dibuat dari ikan teri yang difermentasi dengan garam dan gula jawa, sementara kecalo berbahan dasar udang rebon. Keduanya bisa dinikmati sebagai lalapan atau campuran masakan .

Untuk oleh-oleh, kamu bisa membawa pulang kempelang (kerupuk ikan atau udang), lempuk durian, atau dodol khas Bangka yang teksturnya lebih lengket dibanding dodol dari daerah lain .

Demografi dan Sebaran Suku di Bangka Belitung

Berdasarkan Sensus Penduduk Indonesia 2010, komposisi suku bangsa di Kepulauan Bangka Belitung dari total 1.219.398 jiwa adalah sebagai berikut:

  • Suku asal Sumatera (khususnya Bangka Belitung): 841.771 jiwa (69,03%) — termasuk Suku Sekak, Sakai, Ameng Sawang, Lom, dan lainnya
  • Suku Jawa: 101.655 jiwa (8,34%)
  • Suku Tionghoa: 99.624 jiwa (8,17%)
  • Suku asal Sumatera Selatan: 47.956 jiwa (3,93%)
  • Suku Bugis: 33.582 jiwa (2,75%)
  • Suku Sunda: 18.958 jiwa (1,55%)
  • Suku Melayu: 18.585 jiwa (1,52%)
  • Suku Madura: 15.429 jiwa (1,27%)
  • Suku Batak: 9.452 jiwa (0,78%)
  • Suku Minangkabau: 4.232 jiwa (0,35%)
  • Suku lainnya: 2,31%

Data ini menunjukkan betapa heterogennya masyarakat Bangka Belitung. Keberadaan suku Melayu yang tercatat 1,52 persen perlu dipahami dalam konteks pencacahan sensus, di mana suku asal Sumatera dihitung secara terpisah dari suku Melayu.

Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi, sementara bahasa Melayu (dialek Bangka dan Belitung) menjadi bahasa dominan dalam pergaulan. Bahasa lain yang juga digunakan antara lain bahasa Jawa, Bugis, Hakka, Hokkien, serta bahasa daerah pendatang lainnya.

Dari sisi agama, penduduk Bangka Belitung mayoritas beragama Islam (89,99 persen). Agama lain yang dianut meliputi Buddha (4,43 persen), Kristen Protestan (2,09 persen), Konghucu (2,01 persen), Kristen Katolik (1,31 persen), serta Hindu dan kepercayaan lokal dalam jumlah kecil.

Bagikan artikel Suku di Bangka Belitung kepada teman dan keluargamu agar mereka juga mengenal kekayaan suku di Bangka Belitung. Mari bersama-sama melestarikan dan membanggakan kekayaan budaya Indonesia!

Baca juga:

Referensi

  1. https://babelprov.go.id/
  2. https://id.wikipedia.org/wiki/Kategori:Suku_bangsa_di_Kepulauan_Bangka_Belitung
  3. https://bams.blog/
Scroll to Top