Legenda Mayang Mangurai dalam Sejarah dan Budaya Jambi

Legenda Mayang Mangurai

Legenda Mayang Mangurai – Di balik kekayaan alam dan seni budaya Provinsi Jambi, tersimpan khazanah narasi luhur yang menjadi pondasi identitas masyarakatnya. Salah satu figura sentral dalam sejarah Melayu Jambi adalah Mayang Mangurai, seorang putri legendaris yang namanya abadi dalam cerita rakyat, silsilah keluarga bangsawan, dan bahkan penanda geografis ibu kota. Kisahnya tidak hanya sekadar dongeng pengantar tidur, melainkan sebuah epos yang mengisahkan tentang asal-usul, kebijaksanaan, dan nilai-nilai luhur yang membentuk peradaban Jambi. 

Siapa Sosok Mayang Mangurai? Asal-Usul dan Makna Filosofis

Dalam berbagai literatur sejarah Jambi dan cerita turun-temurun, Mayang Mangurai digambarkan sebagai seorang putri yang memesona. Kecantikannya bukan hanya secara fisik, tetapi juga tercermin dari karakternya yang bijaksana, cerdas, dan penuh wibawa. Namanya sendiri mengandung makna filosofis yang dalam. “Mayang” merujuk pada bunga pohon enau atau aren yang elok dan berwibawa, sementara “Mangurai” dapat ditafsirkan sebagai “yang terpilih” atau “yang unggul”. Gabungan kedua kata ini melukiskan sosok perempuan ideal yang menjadi kebanggaan dan pusaka budaya masyarakatnya.

Mayang Mangurai adalah putri dari pasangan Datuk Paduko Berhalo dan Putri Selaras Pinang Masak. Dalam struktur keluarga, ia merupakan saudara kandung dari tokoh yang sangat sentral dalam sejarah Jambi, yaitu Rang Kayo Hitam. Silsilah keluarga ini menempatkannya pada posisi yang sangat terhormat sebagai bagian dari inti leluhur masyarakat Melayu Jambi. Kehidupannya, sebagaimana banyak tokoh legenda, penuh dengan metafora dan kisah-kisah yang mengandung pesan moral tentang kesetiaan, kepatuhan, dan kecerdikan.

Hubungan Erat dengan Rang Kayo Hitam dan Legenda Angso Duo

Tidak dapat dipisahkan, narasi Mayang Mangurai beririsan kuat dengan kisah perjalanan hidup saudaranya, Rang Kayo Hitam. Rang Kayo Hitam dikenal sebagai Raja Melayu Islam pertama di Jambi, figur pemersatu dan peletak dasar pemerintahan yang beradab.

Kisah paling epik yang melibatkan mereka berdua adalah Legenda Angso Duo. Diceritakan bahwa setelah melalui berbagai petualangan dan memenuhi syarat-syarat berat untuk meminang, Rang Kayo Hitam (dalam versi ini sebagai suami) dan Mayang Mangurai diperintahkan untuk membangun pemukiman baru. Mereka diberikan sebuah perahu bernama “Kajang Lako” dan diinstruksikan untuk berlayar menyusuri Sungai Batanghari sambil mengikuti sepasang angsa putih.

Petunjuknya adalah: di mana angsa-angsa itu berhenti dan berdiam, di situlah mereka harus mendirikan kerajaan baru. Perjalanan ini adalah metafora dari pencarian takdir dan petunjuk ilahi dalam menentukan tempat bermukim. Akhirnya, angsa tersebut berhenti di suatu kawasan yang kemudian dinamakan “Tanah Pilih”, yang berarti “tanah yang terpilih”. Konon, di sepanjang sungai, mereka melihat banyak tumbuhan pinang (dalam bahasa Jawa: jambe). Dari situlah nama Jambi berasal, sebagai adaptasi dari kata “Jambe”. Cerita rakyat Angso Duo ini menjadi mitos asal-usul (origin myth) yang paling populer dan terus diceritakan untuk menjelaskan kelahiran kota dan provinsi Jambi.

Warisan Anjungan Mayang Mangurai di Kota Jambi

Bukti nyata bahwa legenda ini bukanlah sesuatu yang usang terlihat dari pengabadian namanya pada sebuah lokasi strategis di jantung kota. Anjungan Mayang Mangurai adalah sebuah plaza atau pelataran terbuka yang terletak di tepian Sungai Batanghari. Tempat ini telah menjadi ikon baru Kota Jambi dan pusat aktivitas masyarakat.

Fungsi Anjungan Mayang Mangurai sangat beragam:

  • Tempat ini sering digunakan untuk pagelaran seni tradisi Jambi, seperti tari, musik, dan festival.
  • Masyarakat berkumpul di sini untuk sekadar bersantai, menikmati pemandangan sungai, atau berolahraga.
  • Para pelancong yang datang ke Jambi hampir pasti mengunjungi lokasi ini untuk merasakan denyut nadi budaya setempat dan berfoto dengan latar belakang yang estetik.
  • Anjungan ini menjadi jembatan antara masa lalu yang mistis dengan masa kini yang dinamis, memastikan bahwa generasi muda tidak tercerabut dari akar budayanya.

Keberadaan Anjungan Mayang Mangurai adalah bentuk komitmen kolektif untuk menjaga ingatan sejarah. Ia adalah monumen yang “menghidupkan” kembali sang putri, mengubahnya dari figur naratif menjadi ruang fisik yang fungsional dan bermakna.

Mayang Mangurai dalam Ekspresi Seni dan Budaya Populer

Daya pikat legenda Mayang Mangurai juga menjadi sumber inspirasi yang tak pernah kering bagi para seniman. Kisahnya telah diadaptasi ke dalam berbagai bentuk ekspresi seni:

  • Menjadi cerita turun-temurun yang diceritakan dari generasi ke generasi.
  • Koreografi tarian sering kali mengangkat fragmen-fragmen kisahnya, menampilkan karakter Putri Mayang Mangurai yang lemah gemulai namun penuh wibawa.
  • Beberapa lagu daerah dan pantun menyelipkan namanya sebagai simbol kecantikan dan kebaikan.

Dengan hadir dalam budaya populer, legenda ini tidak menjadi fosil yang mati. Ia justru berevolusi, beradaptasi dengan medium baru, dan tetap relevan untuk dinikmati dan dipahami maknanya oleh audiens masa kini.

Legenda Mayang Mangurai adalah lebih dari sekadar kisah masa lalu. Ia adalah jiwa yang mengalir dalam denyut nadi Jambi modern, mengingatkan kita bahwa setiap jengkal tanah memiliki cerita, dan setiap nama menyimpan warisan. Dari narasi tentang Putri Melayu Jambi yang bijaksana, petualangan Rang Kayo Hitam yang heroik, hingga mitos penemuan Tanah Pilih, semuanya membentuk mozaik budaya yang unik dan berharga.

Mari kita lestarikan bersama warisan budaya tak benda Indonesia yang begitu kaya ini dengan menyebarkan artikel ini kepada teman dan keluarga.

“Dalam setiap hembusan angin di Sungai Batanghari, bisikannya tetap terdengar; dalam setiap gemercik air, namanya tetap abadi. Mayang Mangurai bukan hanya kenangan, melainkan roh yang terus menghidupi Jambi.”

Baca juga: Rumah Batu Olak Kemang: Jejak Budaya dan Sejarah Islam di Jambi

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  1. Siapa orang tua Mayang Mangurai? Orang tuanya adalah Datuk Paduko Berhalo dan Putri Selaras Pinang Masak.
  2. Apa hubungan Mayang Mangurai dengan Rang Kayo Hitam? Dalam berbagai sumber, Mayang Mangurai adalah saudara kandung dari Rang Kayo Hitam. Sementara dalam versi cerita rakyat lainnya, mereka adalah suami-istri yang mendirikan Kerajaan Jambi.
  3. Apa itu Legenda Angso Duo? Legenda Angso Duo adalah mitos asal-usul Kota Jambi, yang menceritakan bagaimana Rang Kayo Hitam dan Mayang Mangurai mengikuti sepasang angsa untuk menemukan “Tanah Pilih”, lokasi berdirinya kerajaan baru mereka.
  4. Di mana Anjungan Mayang Mangurai berada? Anjungan Mayang Mangurai terletak di Kota Jambi, tepatnya di tepian Sungai Batanghari, dan mudah diakses oleh publik.
  5. Mengapa legenda Mayang Mangurai penting bagi masyarakat Jambi? Legenda ini penting karena merupakan bagian dari identitas budaya, sejarah, dan asal-usul penamaan Jambi. Kisahnya mengajarkan nilai-nilai kebijaksanaan, keturunan yang baik, dan petunjuk alam dalam membangun peradaban.

Referensi

  1. Sarmila, S., Febriani, M. R., & Sauri, S. (2024). Sejarah Orang Kayo Hitam: Nilai dan Norma. DINASTI: Jurnal Sosial dan Budaya1(01), 30-35.
  2. Ikhwan, M., & Anggela, F. R. (2019). MAKAM LEGENDA ORANG KAYO HITAM: SEBUAH ANALISIS HISTORIS. Nazharat: Jurnal Kebudayaan25(1), 53-63.
  3. Anur, A. T. (2025). LEGENDA CERITA RAKYAT ORANG KAYO HITAM SEBAGAI TRADISI LISAN DALAM PENULISAN SEJARAH LOKAL PADA PERIODE ISLAM DI KESULTANAN JAMBI (Doctoral dissertation, Universitas Batanghari Jambi).
  4. Fitria, A., Sinaga, A., Akhyaruddin, A., Harahap, E. P., & Yusra, H. (2023). Analisis Nilai-Nilai Budaya Dalam Buku Cerita Rakyat Sejarah “Asal-Usul Angso Duo Jambi”. JURNALISTRENDi: JURNAL LINGUISTIK, SASTRA, DAN PENDIDIKAN8(1), 114-122.
Scroll to Top