Legenda Asal-usul Nama Sungai Batanghari

Asal-usul Nama Sungai Batanghari

Asal-usul Nama Sungai Batanghari, merupakan sungai terpanjang di Pulau Sumatera, bukan hanya sekadar aliran air tapi nadi kehidupan, saksi bisu peradaban, dan penyimpan misteri yang dalam, terutama mengenai asal-usul namanya. Panjangnya yang mencapai sekitar 800 kilometer, membentang dari Sumatera Barat hingga Jambi, menyimpan cerita yang dituturkan dari generasi ke generasi. 

Legenda dan Mitos Asal-usul Nama Batanghari dalam Cerita Rakyat

Cerita rakyat dan legenda menjadi sumber utama yang menjelaskan asal mula nama Batanghari. Berikut adalah beberapa versi legenda yang paling terkenal:

1. Legenda Raja Adityawarman dan Sungai Kekuasaan

Salah satu legenda populer asal-usul nama Batanghari yang paling terkenal melibatkan seorang raja yang powerful dari Kerajaan Dharmasraya pada abad ke-14, Raja Adityawarman. Dikisahkan bahwa Raja Adityawarman, yang dikenal memiliki kesaktian yang tinggi, menganggap sungai besar ini sebagai lambang kekuasaannya.

Konon, sang Raja dapat mengendalikan aliran sungai ini dengan kekuatan magisnya. Ia mampu membuatnya deras atau surut sesuai dengan keinginannya. Selain itu, Sungai Batanghari juga dikenal membawa banyak deposit emas dalam sedimentasinya. Bagi Adityawarman, sungai ini bukan hanya simbol kekuasaan politik, tetapi juga sumber kekayaan yang tak ternilai.

Oleh karena itu, ia kemudian menamai sungai ini Batanghari. Dalam konteks ini, nama tersebut mengandung makna yang sangat filosofis dan politis. “Sungai yang mengalir setiap hari” dimaknai sebagai aliran kekuasaannya yang tak pernah pudar, terus mengalir seperti air, dan membawa kemakmuran (emas) bagi kerajaannya. Penamaan ini adalah sebuah afirmasi dari kedaulatannya atas wilayah yang dilalui sungai tersebut.

2. Legenda Calon Raja dan “Kepetangan Hari”

Selain legenda kerajaan, terdapat pula cerita rakyat atau dongeng masyarakat Jambi yang menuturkan asal-usul nama ini dengan cara yang lebih humanis. Legenda ini menceritakan tentang perjalanan sekelompok tokoh masyarakat (tetua adat) yang berlayar menyusuri sungai.

Dalam perjalanannya, mereka sampai di sebuah muara yang sangat luas. Terpesona oleh keindahan dan keluasannya, mereka pun bertanya-tanya, “Apakah nama muara sungai yang besar ini?” Saat itu, hari sudah mulai petang. Karena penasaran, salah seorang tetua yang disebut Batin Duo Belas memberanikan diri bertanya kepada seorang calon raja yang kebetulan berada di situ.

Dengan kondisi cahaya senja yang mulai memudar (“kepetangan hari”), calon raja itu pun menjawab, “Ha, inilah yang bernama muaro Kepetangan Hari.” Jawaban yang merujuk pada kondisi waktu tersebut kemudian melekat dan diingat oleh masyarakat. Seiring berjalannya waktu dan proses pengucapan lisan, nama “Kepetangan Hari” perlahan-lahan berubah dan terkonstraksi menjadi “Batang Hari“. Legenda ini mencerminkan kearifan lokal dalam menamai sebuah tempat berdasarkan peristiwa atau kondisi yang dialami.

3. Keterkaitan dengan Sejarah dan Peradaban Kuno

Nama Batanghari tidak dapat dipisahkan dari konteks sejarah Sumatera yang kaya. Sungai ini merupakan pusat dari beberapa kerajaan besar di Sumatera, seperti Sriwijaya, Melayu Kuno, dan Dharmasraya. Sebagai jalur transportasi dan perdagangan utama, sungai ini memfasilitasi interaksi antar-suku dan bangsa.

Bisa jadi, nama “Batanghari” adalah sebuah kristalisasi dari proses interaksi budaya yang panjang tersebut. Mungkin nama ini adalah bentuk pemantapan dari sebutan-sebutan sebelumnya yang telah ada. Keberadaan Kompleks Candi Muaro Jambi di tepiannya semakin memperkuat betapa pentingnya peran sungai ini dalam percaturan politik dan ekonomi masa lalu. Penamaan sebuah geografi seringkali terkait dengan klaim teritorial dan identitas, dan nama Batanghari kemungkinan besar adalah representasi dari hal tersebut.

Analisis Linguistik dan Makna Filosofis

Secara etimologis, nama “Batanghari” berasal dari dua kata dalam bahasa Minangkabau: “Batang” dan “Hari”.

  • Dalam konteks ini, “batang” tidak merujuk pada batang pohon, melainkan berarti “sungai besar”. Penggunaan kata “batang” untuk menyebut sungai adalah hal yang umum dalam khasanah bahasa Melayu dan Minangkabau. Kita mengenal Batang Kuantan, Batang Ombilin, Batang Hari, dan lain-lain. Kata ini menegaskan statusnya sebagai sebuah sungai utama, sebuah “batang” atau tulang punggung dari sebuah jaringan daerah aliran sungai (DAS).
  • Secara harfiah, “hari” berarti hari atau siang. Namun, dalam penelusuran asal-usul namanya, makna “hari” ini diperdebatkan. Beberapa ahli linguistik dan sejarawan berpendapat bahwa “Hari” bisa jadi merupakan perubahan pengucapan dari kata “Ari” atau “Areh” dalam dialek setempat, yang juga berarti hari. Dengan demikian, gabungan “Batang Hari” dapat diterjemahkan secara sederhana sebagai “sungai yang mengalir setiap hari” atau “sungai yang tak pernah kering”, sebuah metafora untuk kehidupan yang abadi dan terus bergerak.

Interpretasi linguistik ini memberikan dasar yang kuat, namun untuk memahami jiwa dari nama ini, kita harus menyelami dunia legenda dan cerita rakyat yang hidup turun-temurun.

Keterkaitan dengan Sejarah Jambi dan Chan-pi

Asal-usul nama Jambi juga erat kaitannya dengan sungai ini. Berdasarkan catatan sejarah, nama Jambi berasal dari kata “Jambe” yang berarti pinang, yang dikaitkan dengan legenda Putri Selaro Pinang Masak dari Pagaruyung. Sementara itu, dalam catatan Dinasti Sung di Tiongkok, wilayah ini sudah dikenal sejak abad ke-9 M dengan nama “Chan-pi”.

Kedua nama ini, Batanghari dan Jambi, tumbuh beriringan. Sungai Batanghari adalah jalur transportasi dan perdagangan yang menghidupi pusat-pusat pemerintahan, termasuk Kerajaan Dharmasraya dan Kesultanan Jambi. Dengan demikian, sejarah Sungai Batanghari tidak dapat dipisahkan dari sejarah Kota Jambi itu sendiri.

Fakta dan Data Pendukung

Selain legenda, beberapa fakta ini memperkaya pemahaman kita tentang sungai ini:

  • Panjang dan Luas: Sekitar 800 km dengan DAS seluas ± 44.710 km².
  • Sumber Air: Berasal dari Gunung Rasan (2.585 mdpl) di Sumatera Barat.
  • Muara: Berada di Selat Berhala, dekat Pulau Berhala di Jambi.
  • Peninggalan Sejarah: Melintasi Kompleks Candi Muaro Jambi, situs terluas di Indonesia.

Ancaman dan Ajakan untuk Melestarikan Warisan Budaya

Sayangnya, warisan budaya sebesar Sungai Batanghari kini menghadapi ancaman serius. Pencemaran sungai oleh limbah tambang emas tanpa izin (PETI), limbah industri, dan sampah rumah tangga mengancam ekosistemnya. Sedimentasi dan erosi juga mempercepat pendangkalan, yang memicu banjir.

Nama “Batanghari” yang bermakna kehidupan, harus kita jaga bersama. Upaya pelestarian DAS Batanghari adalah tanggung jawab kita semua. Mulai dari hal kecil seperti tidak membuang sampah ke sungai, mendukung program penanaman pohon di hulu, hingga mengedukasi masyarakat tentang pentingnya sungai ini.

Bagikan artikel ini kepada teman-teman mu untuk turut melestarikan warisan sejarah dan alam kita.

Baca juga:

Pertanyaan yang Sering Ditanyakan (FAQ)

1. Apa arti nama Batanghari?

Nama Batanghari berasal dari kata “batang” (sungai) dan “hari” (hari), yang secara harfiah berarti “sungai yang mengalir setiap hari”. Namun, secara filosofis dapat dimaknai sebagai “Sungai Kehidupan”.

2. Siapa yang memberi nama Sungai Batanghari?

Menurut legenda yang paling populer, nama ini diberikan oleh Raja Adityawarman, penguasa Kerajaan Dharmasraya pada abad ke-14.

3. Di mana letak hulu dan hilir Sungai Batanghari?

Hulu Sungai Batanghari berada di Gunung Rasan, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Hilirnya (muara) berada di Selat Berhala, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi.

4. Apa hubungannya Sungai Batanghari dengan Kota Jambi?

Sungai Batanghari adalah urat nadi yang menghidupi Kota Jambi secara ekonomi dan budaya. Sejarah perkembangan Kesultanan Jambi dan kota modernnya tidak lepas dari keberadaan sungai ini sebagai jalur transportasi, perdagangan, dan sumber air.

5. Mengapa Sungai Batanghari sangat penting?

Sungai Batanghari merupakan sumber air, irigasi pertanian, transportasi, habitat flora-fauna, dan menyimpan situs-situs purbakala yang sangat berharga. Ia adalah penopang utama kehidupan bagi masyarakat di dua provinsi.

Referensi

  1. Mardiana, A., Idris, M., & Wandiyo, W. (2022). Konsep Batanghari Sembilan Dalam Sejarah Dan Kebudayaan Melayu Sumatera Selatan Sebagai Sumber Pembelajaran Sejarah Lokal. Kalpataru: Jurnal Sejarah dan Pembelajaran Sejarah8(1).
  2. Diana, A. (2022). ONOMASTIKA DALAM CERITA RAKYAT DAERAH JAMBI BERJUDUL “SEBAKUL”. Pelitra5(1), 46-57.
  3. Permana, A., Wongso, J., & Triana, E. (2023). Perkembangan Struktur dan Elemen-Elemen Pembentuk Ruang Tanah Pilih Pusako Batuah Pusat Kota Jambi. Arsir6(2), 78-90.
Scroll to Top