Inilah 5 Raja Terkenal Kerajaan Melayu

Raja Terkenal Kerajaan Melayu

Raja Terkenal Kerajaan Melayu

Raja terkenal Kerajaan Melayu bukan sekadar nama dalam prasasti usang. Mereka adalah arsitek kebangkitan politik dan budaya yang berani bangkit dari bayang-bayang Sriwijaya, membangun identitas baru, dan meletakkan fondasi bagi peradaban Melayu di Sumatra. Ketika kamu menyusuri sejarah Nusantara, kamu akan menemukan bahwa kemilau Kerajaan Sriwijaya yang perlahan meredup justru membuka ruang bagi dinasti-dinasti tangguh dari Dharmasraya hingga Pagaruyung untuk bersinar. 

Memahami Latar Belakang: Kebangkitan Kembali Kerajaan Melayu

Kerajaan Melayu Kuno, sering disebut dalam catatan Cina sebagai Malayu, sebenarnya merupakan salah satu kerajaan paling awal di Sumatra. Awalnya, kerajaan ini berada dalam pengaruh dan mungkin taklukan Sriwijaya. Namun, seiring kemunduran kekuatan maritim Sriwijaya sekitar abad ke-11-12, peluang untuk merdeka terbuka lebar. Dinasti Warmadewa kemudian muncul memimpin kebangkitan ini, memindahkan pusat kekuasaan ke daerah pedalaman Sumatra, tepatnya di kawasan Dharmasraya (sekarang masuk Provinsi Sumatra Barat dan Jambi). Periode inilah yang melahirkan sederet nama penguasa Melayu yang legendaris.

Raja Terkenal Kerajaan Melayu

Berikut ini profil dan prestasi Raja terkenal Kerajaan Melayu.

1. Srimat Trailokyaraja Maulibhusana Warmadewa

Masa pemerintahan Srimat Trailokyaraja Maulibhusana Warmadewa, dari tahun 1183 hingga 1286, menjadi babak baru yang krusial. Beliau adalah raja pertama dari dinasti Warmadewa yang tercatat memimpin Kerajaan Melayu yang telah merdeka. Posisinya unik karena dalam beberapa sumber, gelarnya juga merujuk pada penguasa Sriwijaya. Hal ini menunjukkan sebuah strategi politik yang cerdas: ia mungkin mengambil alih legitimasi dan sisa-sisa jaringan kekuasaan Sriwijaya yang masih berpengaruh. Dengan kata lain, Trailokyaraja bukan hanya membangun kerajaan baru, tetapi juga mentransformasi warisan lama menjadi kekuatan miliknya. Kepemimpinannya menjadi fondasi kokoh bagi penerusnya untuk bersaing dalam percaturan politik regional.

2. Srimat Tribhuwanaraja Mauli Warmadewa

Raja terkenal Kerajaan Melayu kedua ini memerintah sejak 1286 hingga 1316. Namanya abadi berkat Prasasti Padang Roco, sebuah sumber sejarah primer yang sangat berharga. Prasasti ini menceritakan dikirimkannya hadiah berupa Arca Amoghapāśa dari Raja Kertanagara dari Kerajaan Singhasari (Jawa) untuk ditempatkan di Dharmasraya. Pemberian ini bukan sekadar hadiah biasa, melainkan simbol persekutuan politik dan keagamaan yang setara. Tribhuwanaraja berhasil membangun hubungan diplomatik yang kuat dengan kekuatan besar dari Jawa. Ia juga disebut-sebut memperluas wilayah kekuasaan dan meneguhkan Dharmasraya sebagai pusat pemerintahan yang makmur. Prasasti Padang Roco menjadi bukti nyata bahwa Kerajaan Melayu di bawah pimpinannya dihormati oleh kerajaan-kerajaan besar lain.

3. Akarendrawarman

Menggantikan Tribhuwanaraja, Akarendrawarman memimpin dari tahun 1316 sampai 1347. Kebijakannya yang paling terkenal dan berdampak langsung bagi rakyat adalah pembangunan saluran pengairan. Pada masa itu, pertanian merupakan tulang punggung perekonomian. Dengan membangun irigasi yang baik, Akarendrawarman langsung meningkatkan produktivitas pertanian dan ketahanan pangan kerajaan. Ia juga memindahkan pusat pemerintahan dari Dharmasraya ke Suruaso. Keputusan ini mungkin terkait dengan pengembangan lahan pertanian atau pertimbangan strategis lainnya. Raja ini menunjukkan bahwa kepemimpinan yang hebat tidak melulu tentang ekspansi militer, tetapi juga tentang pembangunan infrastruktur untuk kesejahteraan rakyatnya.

4. Srimat Sri Udayadityawarma Pratapaparakrama Rajendra Maulimali

Memasuki periode 1347-1375, tampuk kepemimpinan dipegang oleh seorang raja dengan nama yang panjang dan penuh wibawa. Srimat Sri Udayadityawarma memiliki hubungan kekerabatan yang sangat penting: ia adalah keponakan dari Akarendrawarman dan memiliki darah keturunan Majapahit. Hubungan darah ini mencerminkan intensnya interaksi dan perkawinan politik antara elite Kerajaan Melayu dan Majapahit pada masa keemasan Gajah Mada. Di bawah pemerintahannya, ibu kota kerajaan berpindah lagi ke lokasi yang lebih strategis dan kelak sangat termasyhur: Pagaruyung. Pemindahan ini menandai awal dari era baru, di mana identitas Kerajaan Melayu mulai berpadu dengan tradisi Minangkabau, membentuk entitas yang kita kenal sebagai Kerajaan Pagaruyung.

5. Ananggawarman

Ananggawarman, yang berkuasa dari 1375 hingga 1417, adalah raja terkenal Kerajaan Melayu yang memerintah di masa penuh tantangan. Ia mengelola kerajaan dari ibu kota Pagaruyung. Sayangnya, masa pemerintahannya berhadapan dengan ekspansi besar-besaran Majapahit di bawah Patih Gajah Mada yang ingin menaklukkan seluruh Nusantara, termasuk Swarnnabhumi (Sumatra). Meski memiliki hubungan kekerabatan, tekanan politik dan militer dari Majapahit sangat besar. Ananggawarman menghadapi situasi sulit antara mempertahankan kedaulatan penuh atau tunduk dalam pengaruh Majapahit. Perlahan-lahan, kemandirian politik kerajaan ini mengalami erosi. Meski begitu, ia berhasil mempertahankan eksistensi kerajaan dan menjadi mata rantai penting yang menghubungkan era Dharmasraya dengan kelahiran Kerajaan Pagaruyung yang lebih mandiri pasca-keruntuhan Majapahit.

Warisan dan Peninggalan yang Masih Bisa Kamu Telusuri

Warisan paling nyata dari para raja ini adalah prasasti. Dari Prasasti Padang Roco peninggalan Tribhuwanaraja hingga Prasasti Suruaso yang berkaitan dengan Akarendrawarman, semuanya menjadi jendela untuk memahami kehidupan politik, sosial, dan keagamaan pada masa itu. Selain itu, pergantian pusat pemerintahan dari Dharmasraya ke Suruaso lalu ke Pagaruyung menunjukkan dinamika geopolitis internal. Warisan terbesar adalah identitas budaya dan politik Melayu yang berhasil dikonsolidasikan kembali, menjadi fondasi bagi kerajaan-kerajaan Melayu Islam di periode berikutnya, seperti Siak dan Indragiri.

Bagaimana Hubungan Mereka dengan Kerajaan Lain?

Relasi dengan Sriwijaya, Singhasari, dan terutama Majapahit menjadi warna tersendiri. Hubungan itu bersifat multidimensi: dari persaingan, penerusan legitimasi, persekutuan melalui diplomasi (seperti hadiah arca), hingga ikatan perkawinan politik. Interaksi kompleks ini menunjukkan bahwa raja terkenal Kerajaan Melayu bukanlah pemimpin yang terisolasi, melainkan yang aktif dalam jaringan Nusantara kuno.

Jadi, sejarah panjang Kerajaan Melayu pasca-Sriwijaya dirajut oleh kepemimpinan visioner lima raja tersebut. Mereka adalah negarawan, diplomat, dan pembangun yang mampu membaca zaman. Kisah mereka mengajarkan tentang ketangguhan, strategi, dan upaya terus-menerus untuk mempertahankan kedaulatan di tengah gelombang perubahan kekuatan regional.

Jadi, apakah kisah para raja ini menginspirasi kamu? Bagikan artikel ini kepada teman-teman milikmu yang juga mencintai sejarah Nusantara! Mari bersama-sama melestarikan memori kolektif kita tentang pemimpin besar bangsa.

Baca juga:

Pertanyaan yang Sering Ditanyakan (FAQ) tentang Raja Kerajaan Melayu

1. Siapa raja pertama Kerajaan Melayu yang bangkit setelah Sriwijaya?

Raja pertama yang memimpin kebangkitan Kerajaan Melayu pasca-kemunduran Sriwijaya adalah Srimat Trailokyaraja Maulibhusana Warmadewa yang memerintah mulai 1183 M.

2. Prasasti apa yang menjadi bukti sejarah Kerajaan Melayu?

Prasasti terpenting adalah Prasasti Padang Roco (1286 M) yang menyebut nama Raja Srimat Tribhuwanaraja Mauli Warmadewa dan mencatat pemberian arca dari Kerajaan Singhasari.

3. Apa ibu kota Kerajaan Melayu dan apakah pernah berpindah?

Ibu kota Kerajaan Melayu mengalami beberapa kali perpindahan: dari Dharmasraya, kemudian ke Suruaso di masa Akarendrawarman, dan akhirnya ke Pagaruyung di masa Srimat Sri Udayadityawarma, yang menjadi cikal bakal Kerajaan Pagaruyung.

4. Bagaimana hubungan Kerajaan Melayu dengan Majapahit?

Hubungannya kompleks, melibatkan diplomasi, perkawinan politik, dan tekanan. Raja Srimat Sri Udayadityawarma memiliki darah Majapahit, tetapi pada masa Ananggawarman, kerajaan mengalami tekanan politik dan militer dari ekspansi Majapahit pimpinan Gajah Mada.

5. Siapa raja terakhir dari dinasti Warmadewa yang disebutkan?

Dalam periode klasik (sebelum masuk Islam), raja terakhir yang umum disebut adalah Ananggawarman (memerintah 1375-1417). Setelahnya, kekuasaan berkembang menjadi Kerajaan Pagaruyung dengan sistem dan penguasa yang terus berlanjut.

Referensi

  1. https://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Melayu
  2. https://repository.unsri.ac.id/22649/1/3._PERTUMBUHAN_KERAJAAN_MELAYU_SAMPAI_MASA_ADITYAWARMAN.pdf
  3. https://id.wikipedia.org/wiki/Adityawarman
Scroll to Top