Setiap kota menyimpan narasinya sendiri, sebuah cerita rakyat yang menjadi fondasi identitas dan kebanggaan masyarakatnya. Bagi masyarakat Kota Jambi, salah satu warisan budaya tak benda yang paling berharga adalah Legenda Angso Duo. Kisah ini bukan sekadar dongeng pengantar tidur, melainkan sebuah epos yang menuturkan asal-usul berdirinya pusat pemerintahan di wilayah yang kini kita kenal sebagai Provinsi Jambi. Kata kunci seperti “asal usul Kota Jambi”, “kisah Orang Kayo Hitam“, dan “makna filosofi Angso Duo” tidak dapat dipisahkan dari legenda yang telah melegenda ini.
Sekilas tentang Kota Jambi dan Sungai Batanghari
Sebelum menyelami legenda, penting untuk memahami setting geografisnya. Kota Jambi, yang sekaligus merupakan ibu kota Provinsi Jambi, terletak di Pulau Sumatera. Kota ini memiliki karakteristik unik karena dibelah oleh Sungai Batanghari, sungai terpanjang di Sumatera. Pembelahan ini menciptakan dua bagian wilayah, yaitu Seberang Selatan dan Seberang Utara. Kehidupan masyarakat Jambi sejak zaman kerajaan hingga kini tidak pernah lepas dari denyut nadi Sungai Batanghari. Sungai inilah yang menjadi jalur transportasi, perdagangan, dan pusat peradaban, termasuk dalam alur Legenda Angso Duo.
Cerita Legenda Angso Duo
Legenda ini berpusat pada dua tokoh utama, Orang Kayo Hitam dan Putri Mayang Mangurai. Berikut adalah rangkaian peristiwa yang membentuk narasi utuh legenda tersebut.
1. Asal Mula dan Amanat dari Sang Mertua
Kisah bermula dari Orang Kayo Hitam, yang merupakan putra dari Puteri Selaro Pinang Masak, seorang penguasa di Kerajaan Jambi pada masanya. Setelah menikah dengan Putri Mayang Mangurai, yang merupakan putri dari Tumenggung Merah Mato Raja Air Hitam Pauh, sang mertua memberikan sebuah amanat penting.
Tumenggung Merah Mato menyarankan pasangan muda ini untuk meninggalkan pusat kerajaan saat itu dan mencari lokasi baru yang lebih strategis dan makmur untuk mendirikan pusat pemerintahan baru. Petunjuk yang diberikan sangatlah unik dan penuh simbolisme: mereka harus menyusuri Sungai Batanghari dengan mengikuti arah terbang sepasang angsa (dalam bahasa setempat disebut angso).
2. Perjalanan Menyusuri Sungai Batanghari
Dengan berpedoman pada petuah tersebut, Orang Kayo Hitam dan Putri Mayang Mangurai beserta para pengikut setianya pun memulai perjalanan. Mereka menggunakan perahu tradisional yang dikenal sebagai “Kanjang Lako”. Perjalanan ini bukanlah pelayaran biasa; ini adalah sebuah misi suci untuk menemukan takdir baru sebuah kerajaan. Mereka bersabar, mengamati dengan cermat ke mana arah terbang dua ekor angsa tersebut.
3. Penemuan “Tanah Pilih” dan Berdirinya Kerajaan
Setelah beberapa hari melakukan perjalanan, akhirnya sepasang angsa yang mereka ikuti tersebut terbang menuju daratan dan mendarat di sebuah tebing di hilir sungai. Lokasi itu, yang dahulu dikenal sebagai Kampung Tenadang, menjadi tempat angsa-angsa itu beristirahat untuk waktu yang cukup lama, sesuai dengan pesan Tumenggung Merah Mato. Tempat inilah yang diyakini sebagai lokasi yang ditakdirkan.
Dengan penuh keyakinan, Orang Kayo Hitam dan rombongannya memutuskan untuk membangun pemukiman dan pusat pemerintahan baru di lokasi tersebut. Daerah itu kemudian dinamai “Tanah Pilih”, yang secara harfiah berarti “tanah yang terpilih”. Inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya Kota Jambi modern. Pusat kerajaan pun kemudian dipindahkan dari Ujung Jabung ke Tanah Pilih sekitar abad ke-16, menandai babak baru dalam sejarah Kerajaan Melayu Jambi.
Analisis Makna Filosofis dan Simbolisme dalam Legenda
Legenda Angso Duo sarat dengan nilai-nilai luhur dan filosofi hidup yang dalam. Berikut adalah beberapa analisis makna yang terkandung di dalamnya:
- Perintah untuk mengikuti angsa melambangkan kepasrahan kepada petunjuk yang gaib. Angsa, dalam banyak kebudayaan, dianggap sebagai hewan yang memiliki naluri kuat dan kesetiaan. Tindakan mengikuti mereka simbol dari kepercayaan bahwa ada kekuatan yang lebih tinggi yang akan menuntun kepada jalan yang benar.
- Perjalanan menyusuri Sungai Batanghari yang panjang dan berliku mengajarkan arti kesabaran. Hasil yang baik tidak didapatkan secara instan, tetapi melalui proses dan ketekunan.
- Sepasang angsa (duo) melambangkan harmoni, kesetiaan, dan kerja sama. Filosofi ini mencerminkan pentingnya kolaborasi antara pemimpin dan rakyatnya, serta antara suami dan istri dalam membangun sebuah peradaban.
- Legenda ini menunjukkan bagaimana masyarakat Melayu Jambi masa lalu sangat menghormati dan membaca tanda-tanda alam. Alam bukanlah musuh, melainkan penuntun dan penyedia kehidupan.
Keterkaitan Legenda dengan Sejarah dan Budaya Jambi Masa Kini
Legenda Angso Duo tidak hanya berhenti sebagai cerita lisan, hidup dan mewujud dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat Jambi:
- Nilai-nilai filosofis dari legenda ini diabadikan secara permanen dalam Lambang Daerah Kota Jambi. Gambar sepasang angsa dengan pose yang anggun menjadi elemen sentral dalam lambang tersebut, mengingatkan setiap orang pada asal-usul kotanya.
- Motif dua angsa sering kali menjadi inspirasi dalam batik khas Jambi dan berbagai bentuk kerajinan tradisional lainnya. Ini adalah bentuk pelestarian budaya secara visual.
- Nama “Angso Duo” telah menjadi sebuah brand, nama tempat, dan identitas yang diklaim dengan bangga oleh masyarakat Jambi. Ia menjadi pemersatu yang menguatkan rasa memiliki terhadap kotanya.
- Legenda ini memiliki titik temu dengan catatan sejarah. Orang Kayo Hitam adalah figur dalam silsilah Kerajaan Jambi, dan pemindahan pusat pemerintahan ke Tanah Pilih adalah sebuah peristiwa historis. Meski dibumbui mitos, legenda sering kali berdasar pada peristiwa nyata yang distilisasi.
Dengan demikian, Legenda Angso Duo bukan sekadar kenangan, melainkan jiwa yang terus hidup, mengalir bagai Sungai Batanghari, membentuk karakter dan mengingatkan setiap generasi tentang asal-usul mereka yang mulia.
Jangan lupa untuk membagikan artikel ini kepada teman-teman mu agar lebih banyak lagi yang mengenal kekayaan budaya Indonesia, khususnya dari Provinsi Jambi.
Pertanyaan yang Sering Ditanyakan (FAQ) tentang Legenda Angso Duo Jambi
1. Siapa saja tokoh utama dalam Legenda Angso Duo?
Tokoh utamanya adalah Orang Kayo Hitam dan Putri Mayang Mangurai, yang dipandu oleh sepasang angsa atas saran mertua Orang Kayo Hitam, Tumenggung Merah Mato.
2. Apa arti penting sepasang angsa dalam legenda ini?
Sepasang angsa (Angso Duo) berfungsi sebagai penuntun gaib yang menunjukan lokasi tepat untuk mendirikan pusat kerajaan baru. Mereka melambangkan keharmonisan, kesetiaan, dan petunjuk dari alam.
3. Di mana lokasi “Tanah Pilih” yang ditemukan dalam legenda?
Tanah Pilih dipercaya terletak di daerah yang sekarang menjadi pusat Kota Jambi, tepatnya di kawasan yang dahulu disebut Kampung Tenadang, di tepi Sungai Batanghari.
4. Bagaimana Legenda Angso Duo diabadikan dalam budaya Jambi modern?
Legenda ini diabadikan dalam Lambang Kota Jambi yang menampilkan gambar dua angsa, menjadi inspirasi motif batik Jambi, dan dikisahkan turun-temurun sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat.
5. Apa hubungan Legenda Angso Duo dengan sejarah Kerajaan Jambi?
Legenda ini berkaitan dengan peristiwa pemindahan pusat Kerajaan Melayu Jambi dari Ujung Jabung ke Tanah Pilih sekitar abad ke-16, dengan Orang Kayo Hitam sebagai tokoh sejarah dalam silsilah kerajaan.
Referensi
- Fitria, A., Sinaga, A., Akhyaruddin, A., Harahap, E. P., & Yusra, H. (2023). Analisis Nilai-Nilai Budaya Dalam Buku Cerita Rakyat Sejarah “Asal-Usul Angso Duo Jambi”. JURNALISTRENDi: JURNAL LINGUISTIK, SASTRA, DAN PENDIDIKAN, 8(1), 114-122.
- Marta, W., & Akbar, M. R. (2020). Tipografi Motif Batik Angso Duo Ragam Hias Kota Jambi. DESKOMVIS: Jurnal Ilmiah Desain Komunikasi Visual, Seni Rupa dan Media, 1(3), 230-38.
- Febrianti, M., Anwar, K., & Zurmailis, Z. (2023). Eksistensi Legenda Orang Kayo Hitam di Jambi. Magistra Andalusia: Jurnal Ilmu Sastra, 5(1).




