Asal usul Sungai Musi menyimpan kisah menarik yang memadukan legenda kuno dari negeri Tiongkok dengan catatan sejarah maritim Nusantara. Sungai kebanggaan masyarakat Sumatera Selatan ini ternama bukan hanya karena panjang alirannya yang mencapai 750 kilometer, tetapi juga karena peran vitalnya dalam membentuk peradaban di Kota Palembang sejak masa Kerajaan Sriwijaya hingga sekarang. Memahami sejarah nama Sungai Musi akan membawamu menyelami kejayaan masa lalu dan kekayaan budaya yang terus mengalir bersama arusnya.
Mengapa sungai terbesar di Sumatera Selatan ini dinamakan Musi? Ternyata, asal-usul Sungai Musi berkaitan erat dengan aktivitas perdagangan internasional di Selat Bangka pada zaman dahulu.
Menurut legenda yang berkembang, sekitar abad ke-7 Masehi, sekelompok bajak laut (lanun) dari Tiongkok yang dipimpin seorang Kapitan berlayar menuju Selat Bangka menggunakan tiga perahu layar besar. Saat melewati sebuah muara sungai yang lebar, sang pemimpin terkesima. Ia melihat banyak perahu dan tongkang berseliweran membawa hasil bumi dari arah hulu. Ketika diperiksa, ternyata sungai besar ini belum memiliki nama di peta.
Sang Kapitan dan anak buahnya kemudian memutuskan menjelajahi wilayah hulu. Mereka mencapai dataran rendah Gunung Dempo dan daerah Muara Enim, terkagum-kagum melihat kesuburan tanah, rempah-rempah, serta batu bara yang muncul ke permukaan . Sekembalinya dari ekspedisi, sang Kapitan menamai wilayah itu “Mu Ci” . Dalam bahasa Tionghoa kuno, Mu Ci berarti Dewi Ayam Betina, sosok dewi yang dipercaya memberikan keberuntungan bagi manusia . Nama ini dipilih karena wilayah sekitar sungai subur, kaya hasil alam, dan masyarakatnya ramah.
Seiring waktu, penyebutan Mu Ci bergeser dari mulut ke mulut hingga akhirnya menjadi Musi seperti kita kenal sekarang . Namun, terdapat versi lain yang menyebut nama Musi berasal dari bahasa Sanskerta “Maha-Sona” yang artinya sungai emas, kemungkinan diberikan oleh pedagang India kuno.
Sejarah Sungai Musi tidak bisa dipisahkan dari eksistensi Kerajaan Sriwijaya (abad ke-7 hingga ke-13 Masehi) sebagai kerajaan maritim terbesar di Asia Tenggara . Pada masa itu, sungai ini menjadi urat nadi kerajaan karena beberapa alasan strategis.
Para arkeolog meyakini, Sriwijaya memilih Sungai Musi sebagai ibu kota karena bermuara di Selat Bangka—pertemuan Selat Malaka, Laut China Selatan, dan Laut Jawa yang menjadi jalur Jalur Sutra Maritim atau Jalur Rempah paling ramai . Sungai Musi dan delapan anak sungainya (Komering, Ogan, Lematang, Lakitan, Kelingi, Rawas, Rupit, dan Batanghari Leko) berfungsi sebagai jalan raya air yang menghubungkan pedalaman kaya rempah dan emas dengan dunia luar.
Kapal-kapal dagang dari Tiongkok dan India berlayar menyusuri Sungai Upang, transit di Palembang untuk bongkar muat, lalu melanjutkan perjalanan hingga hulu. Kontak dagang ini meninggalkan bukti arkeologi berupa keramik-keramik Cina kuno serta situs keagamaan Hindu-Buddha di sepanjang aliran sungai. Bahkan, Situs Karang Anyar diidentifikasi sebagai lokasi Keraton Sriwijaya, dikelilingi saluran air yang terhubung ke Sungai Musi.
Sungai Musi juga menjadi saksi penyebaran agama. Pada masa Sriwijaya, sungai ini menjadi jalur penyebaran agama Buddha. Catatan pendeta I-tsing pada tahun 671 M menyebutkan ia belajar tata bahasa Sanskerta di Sriwijaya selama enam bulan, dan kembali pada tahun 685 untuk menerjemahkan kitab suci Buddha.
Setelah masa Sriwijaya berakhir, peran Sungai Musi berlanjut di era Kesultanan Palembang Darussalam (abad ke-17). Para pedagang muslim dari Arab, India, dan Tiongkok membangun pemukiman di tepian sungai, menyebarkan Islam hingga terbentuknya kesultanan. Kampung Kapitan dan Kampung Arab yang masih kamu temui sekarang adalah bukti sejarah akulturasi budaya tersebut.
Sebagai sungai terpanjang kedua di Pulau Sumatera setelah Sungai Batanghari di Jambi, Sungai Musi memiliki sejumlah fakta menarik:
Para ahli menyebut ekosistem Sungai Musi sebagai “supermarket-nya Kedatuan Sriwijaya” karena kekayaan alamnya . Lahan basah seluas tiga juta hektar berupa rawa, gambut, dan mangrove menjadi habitat beragam flora dan fauna. Diperkirakan 620 jenis ikan air tawar hidup di ekosistem ini, menjadikannya sumber pangan protein utama masyarakat.
Ikan melimpah melahirkan kuliner khas Palembang seperti pempek (olahan ikan dan sagu yang bertahan lama untuk perjalanan), pindang (sup ikan dengan rempah), serta ikan asap, ikan asin, hingga pekasam (ikan fermentasi). Tradisi sedekah sungai juga lahir sebagai ungkapan syukur atas rezeki ikan.
Sungai Musi menyimpan ribuan benda bersejarah di dasar keruhnya. Museum Negeri Sumatera Selatan Balaputra Dewa menyimpan sekitar 16 ribu koleksi, sebagian besar ditemukan di aliran sungai ini. Beberapa temuan paling berharga antara lain:
Para ahli memperkirakan masih banyak harta karun lain terpendam di dasar Sungai Musi, menunggu waktu untuk ditemukan dan mengungkap tabir sejarah masa lampau .
Kamu bisa menikmati keindahan Sungai Musi dari berbagai destinasi wisata menarik:
Kamu dapat menjelajahi destinasi ini menggunakan perahu getek, perahu jukung tradisional khas Sumatera Selatan, seperti layaknya Venesia dari Timur.
Sayangnya, kondisi Sungai Musi saat ini menghadapi berbagai tantangan serius. Aktivitas penebangan liar membuat lahan kritis di daerah aliran sungai (DAS) Musi mencapai tiga juta hektar, memicu risiko banjir bandang dan tanah longsor. Pencemaran dari limbah industri (pupuk, migas, karet, sawit, batubara) dan domestik, serta konversi lahan basah menjadi perkebunan dan infrastruktur, mengancam kelestarian ekosistem.
Kebakaran lahan gambut hampir setiap tahun terjadi, menjadikan Sumatera Selatan pengekspor kabut asap hingga ke negara tetangga . Sungai Musi yang dulu menjadi “supermarket” kehidupan, kini perlahan kehilangan arsip kekayaannya.
Bagikan artikel ini agar semakin banyak orang mengenal keajaiban Sungai Musi, napas kehidupan yang tak pernah berhenti mengalirkan sejarah. Sungai bukan sekadar aliran air, melainkan urat nadi yang menghidupkan peradaban.
Baca juga:
Nama Musi berasal dari bahasa Tionghoa kuno “Mu Ci” yang berarti Dewi Ayam Betina. Legenda menyebut nama ini diberikan oleh bajak laut Tiongkok karena wilayah sekitar sungai subur, kaya hasil bumi, dan memberikan keberuntungan seperti ayam betina yang memberi telur . Seiring waktu, penyebutan Mu Ci berubah menjadi Musi. Ada juga versi lain yang mengaitkannya dengan bahasa Sanskerta “Maha-Sona” (sungai emas).
Menurut legenda yang berkembang, pemberi nama pertama adalah seorang Kapitan, pemimpin kelompok bajak laut dari Tiongkok yang berlayar ke Selat Bangka sekitar abad ke-7 Masehi. Ia menamai sungai itu Mu Ci karena kekagumannya terhadap kesuburan wilayah hulu dan potensi perdagangannya.
Pada masa Kerajaan Sriwijaya (abad ke-7 hingga ke-13 M), Sungai Musi berperan sebagai jalur perdagangan dan transportasi utama yang menghubungkan pedalaman dengan dunia internasional. Melalui sungai ini, rempah-rempah, emas, dan hasil bumi diangkut ke kapal-kapal asing di Selat Bangka. Sungai ini juga menjadi jalur penyebaran agama Buddha, tempat para pendeta seperti I-tsing singgah untuk belajar dan menerjemahkan kitab suci.
Berbagai benda bersejarah ditemukan di dasar Sungai Musi dan kini disimpan di Museum Negeri Sumsel Balaputra Dewa. Temuan paling terkenal antara lain: kepeng Ban Liang dari abad ke-2 SM (era Dinasti Han), golok kuningan berlapis emas perpaduan budaya Melayu-Jawa-Tionghoa, kemudi kapal sepanjang 7,7 meter, dan canting cap batik Palembang bermotif encim yang membuktikan interaksi desain dengan Jawa pada masa lalu.
Sungai Musi disebut Batanghari Sembilan karena menjadi induk dari sembilan sungai besar. Delapan anak sungai utamanya adalah Komering, Ogan, Lematang, Lakitan, Kelingi, Rawas, Rupit, dan Batanghari Leko. Kesemuanya bermuara ke Sungai Musi, membentuk sistem sungai yang luas dan menjadi urat nadi transportasi serta perdagangan di Sumatera Selatan sejak ribuan tahun lalu.
SMUP 2026 SMUP 2026 menjadi gerbang utama bagi kamu yang bercita-cita melanjutkan pendidikan ke Universitas Padjadjaran…
SBUB UNDIP 2026