Asal Usul Orang Pasaman, Cerita Rakyat “Tum Barido dan Tum Kayo”

Asal Usul Orang Pasaman

Asal Usul Orang Pasaman

Asal usul orang Pasaman menyimpan kisah menarik yang tidak hanya bersumber dari legenda turun-temurun, tetapi juga diperkaya oleh catatan sejarah migrasi dan interaksi antaretnis. Memahami akar sejarah suatu daerah membantumu menghargai kekayaan budaya yang ada saat ini. Mari kita telusuri bersama perjalanan panjang yang membentuk identitas masyarakat Pasaman, Sumatera Barat.

Tum Barido Membuka Wilayah Baru

Alkisah, tersebutlah seorang bangsawan dari Kerajaan Pagaruyung bernama Tum Barido. Hatinya tergerak oleh keinginan mulia untuk mencari lahan baru yang lebih luas bagi anak-kemenakannya—sebuah tanggung jawab sosial dalam budaya Minangkabau yang menjunjung tinggi sistem kekerabatan matrilineal. Dengan bekal tekad yang membara, Tum Barido memulai pengembaraan seorang diri menuju arah utara dari Pagaruyung.

Setelah melewati berbagai rintangan alam, ia menemukan sebuah aliran sungai dengan tanah yang subur di sekitarnya. Sungai itu kini kamu kenal sebagai Batang Dareh. Di tempat itu, Tum Barido mendirikan sebuah pos peristirahatan sederhana yang dinamakannya Datar, sebagai penanda bahwa wilayah ini telah ditemukan dan layak dihuni.

Namun semangat kepeloporannya tidak berhenti di situ. Tum Barido melakukan tiga kali perjalanan penjelajahan dengan rute yang berbeda-beda. Penjelajahannya membawanya hingga ke pesisir barat di Air Bangis dan kawasan pedalaman Rao. Yang menarik, setiap kali perjalanan panjangnya berakhir, ia selalu kembali ke titik awal yang sama—posnya di Datar, tepian Batang Dareh. Fenomena ini meyakinkan Tum Barido bahwa wilayah tersebut memang dirancang alam sebagai tempat yang cocok untuk membuka perkampungan baru.

Perjumpaan Tum Barido dan Tum Kayo

Di Pagaruyung, secara terpisah, seorang tokoh lain bernama Tum Kayo juga merasakan panggilan jiwa yang sama untuk berpetualang membuka lahan baru. Tanpa mengetahui jejak yang telah dirintis Tum Barido, ia memulai perjalanannya dan secara kebetulan menempuh jalur yang sama dengan penjelajahan kedua Tum Barido. Saat menyusuri Batang Dareh, Tum Kayo menemukan tanda-tanda kehidupan manusia yang memicu rasa ingin tahunya.

Penasarannya menuntun Tum Kayo hingga ke Datar. Di sanalah takdir mempertemukan dua perintis ini. Awalnya timbul sedikit ketegangan karena keduanya sama-sama berniat menguasai wilayah tersebut. Namun budaya Minangkabau yang menjunjung tinggi musyawarah dan penyelesaian konflik secara adil menjadi jalan keluar. Mereka sepakat menguji kekuatan batin di sebuah batu besar—dan keduanya berhasil meninggalkan jejak kaki di atas batu itu, menandakan kesaktian yang berimbang.

Tum Kayo menunjukkan kebijaksanaan dengan mengakui bahwa Tum Barido lebih dulu tiba. Ia menyerahkan hak pembagian wilayah kepadanya. Kesepakatan damai ini kemudian mereka sahkan di hadapan Bundo Kandung di Pagaruyung, simbol otoritas tertinggi dalam struktur adat Minangkabau .

Membangun Nagari: Dari Musyawarah Kecil hingga Pemerintahan

Setelah mendapat restu dari Pagaruyung, Tum Barido dan Tum Kayo kembali ke wilayah baru itu dengan membawa sanak saudara serta pengikut dari empat suku utama Minangkabau: Koto, Piliang, Bodi, dan Caniago. Mereka mulai mendirikan perkampungan pertama; keturunan Tum Barido yang bersuku Melayu membangun Kampung Melayu, sementara keturunan Tum Kayo yang bersuku Tanjung membangun Kampung Tanjung di sebelahnya. Pengikut lainnya menyebar ke tempat-tempat subur yang telah dirintis sebelumnya.

Proses pemerintahan dimulai dengan cara yang sangat demokratis. Tum Barido dan Tum Kayo mengadakan musyawarah kecil di sebuah tempat yang kemudian dinamai Koto Kaciek—yang berarti “pembicaraan kecil-kecilan”. Saat musyawarah berlangsung, datang rombongan pendatang baru yang diminta menunggu di sebuah padang, yang kini kamu kenal sebagai Padang Luar.

Akhirnya, mereka menggelar musyawarah besar yang dihadiri seluruh wakil dari daerah baru di sebuah lokasi yang kemudian disebut Kumpulan. Di sanalah mereka mengangkat para pemimpin untuk berbagai nagari seperti Padang Nunang, Air Bangis, Bonjol, hingga Lubuk Sikaping. Inilah cikal bakal pemerintahan di daerah yang kini kamu kenal sebagai Kabupaten Pasaman.

Memahami Arti Nama “Pasaman”

Kata “Pasaman” sendiri memiliki makna mendalam. Berdasarkan kajian budaya, Pasaman berasal dari bahasa Minangkabau yang berarti “persamaan”. Nama ini merujuk pada masyarakat heterogen yang tinggal di daerah tersebut. Filosofi persamaan ini menjadi pondasi sosial yang kuat bagi komunitas multietnis di Pasaman. Menariknya, dalam bahasa Mandailing, kata “pasaman” juga memiliki arti yang sama, menunjukkan adanya kesamaan nilai di antara kedua etnis besar yang mendiami wilayah ini.

Dinamika Masyarakat Pasaman antara “Urang Asa” dan “Urang Datang”

Seiring waktu, asal usul orang Pasaman tidak hanya bertumpu pada legenda, tetapi juga pada realitas migrasi. Penelitian menunjukkan bahwa di Pasaman Barat, etnik Minangkabau berperan sebagai penduduk asli (urang asa), sementara dua etnis lain, yakni Mandailing dan Jawa, dianggap sebagai penduduk pendatang (urang datang).

Interaksi ketiga etnis ini tidak terlepas dari proses migrasi yang terus berlangsung. Di berbagai nagari, seperti Nagari Jambak di Pasaman Barat, terjadi perkawinan campuran antaretnis. Perkawinan ini membawa perubahan dalam keyakinan dan nilai budaya, sekaligus memperluas jaringan kekerabatan. Dalam masyarakat multietnik, perkawinan campuran justru membentuk keyakinan bahwa tidak ada lagi perbedaan antaretnik, yang pada akhirnya menghilangkan stereotip negatif.

Nagari Sungai Aur di Pasaman Barat menjadi contoh menarik lainnya. Meskipun mayoritas penduduknya bersuku Mandailing, adat istiadat yang dipakai justru adat Minangkabau. Hal ini terlihat dalam adat perkawinan, penggunaan pakaian pesta, dan cara mengatasi masalah kemasyarakatan. Fenomena ini menunjukkan akulturasi budaya yang berjalan harmonis.

Di perbatasan dengan Sumatera Utara, seperti di Nagari Tarung-Tarung, Kecamatan Rao, kamu akan menemukan masyarakat yang dihuni dua etnis mayoritas: Minang dan Mandailing. Kehidupan mereka yang berdampingan secara damai menjadi bukti nyata filosofi “persamaan” yang terkandung dalam nama Pasaman.

Jejak Sejarah Lainnya

Membahas asal usul orang Pasaman juga mengarahkan kita pada nama Gunung Ophir, sebutan lain untuk Gunung Pasaman. Nama ini memicu diskusi menarik di kalangan sejarahwan. Beberapa sumber menyebutkan bahwa nama Ophir sudah dikenal dalam karya sastra Eropa abad ke-16, dan dikaitkan dengan wilayah penghasil emas yang disebut dalam kitab suci. Pada masa kolonial, Belanda mendirikan perkebunan di daerah ini dengan nama “Onderneming Ophir” yang dikelola oleh perusahaan NV. Kultuur Maatschappij Ophir yang berpusat di Amsterdam. Hal ini menunjukkan betapa wilayah Pasaman telah lama dikenal dalam peta perdagangan dunia.

Dalam catatan sejarah perjuangan, Pasaman juga menjadi saksi bisu Perang Paderi (1821-1830) yang dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol, salah satu Pahlawan Nasional Indonesia yang lahir di Desa Tanjung Bungo, Kecamatan Bonjol. Perlawanan terhadap penjajah di Pasaman juga digerakkan oleh tokoh seperti Tuanku Rao di wilayah Rao . Peristiwa heroik ini menambah lapisan sejarah yang memperkaya identitas masyarakat Pasaman.

Pasaman Masa Kini

Saat ini, wilayah Pasaman terbagi menjadi dua kabupaten: Kabupaten Pasaman dengan ibu kota Lubuk Sikaping, dan Kabupaten Pasaman Barat yang merupakan hasil pemekaran tahun 2003 dengan ibu kota Simpang Ampek. Keduanya menyimpan kekayaan alam dan budaya yang luar biasa.

Kabupaten Pasaman dikenal dengan produksi kelapa sawitnya yang melimpah, serta minyak nilam yang kualitasnya diakui sebagai yang terbaik di dunia . Sementara Pasaman Barat dengan luas wilayah 3.864,02 km² dan jumlah penduduk yang terus berkembang, menjadi wilayah strategis di pesisir barat Sumatera.

Kehidupan masyarakat Pasaman saat ini masih mencerminkan nilai-nilai luhur yang diwariskan para pendahulu. Proses pemerintahan nagari yang sempat berubah menjadi sistem desa pada tahun 1983, kini telah kembali ke sistem nagari yang dianggap lebih sesuai dengan budaya Minangkabau. Kembalinya sistem nagari ini disambut antusias oleh masyarakat karena menghidupkan kembali nilai-nilai kebersamaan dan kearifan lokal.

Kamu bisa membagikan artikel ini kepada teman atau keluargamu yang tertarik dengan sejarah dan budaya Sumatera Barat, agar semakin banyak orang yang terinspirasi oleh kearifan lokal yang terkandung di dalamnya. Akar yang kuat tidak pernah takut pada cabang yang berbeda—karena ia tahu, justru perbedaan itulah yang membuat pohon semakin rindang.

Baca juga:

Referensi

  1. Siregar, Y. D., Sepriani, L. ., Azwar, R. ., & Pratama, R. . (2025). Awal Perkembangan Islam di Sumatera Barat Pasaman Barat. Journal of Comprehensive Science3(7), 2096–2102. https://doi.org/10.59188/jcs.v3i7.764
  2. https://www.pasamankab.go.id/halaman/sejarah-kabupaten-pasaman
  3. https://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Pasaman

FAQ: Pertanyaan yang Sering Diajukan tentang Asal Usul Orang Pasaman

1. Siapa sebenarnya Tum Barido dan Tum Kayo dalam legenda Pasaman?

Tum Barido dan Tum Kayo adalah dua tokoh bangsawan dari Kerajaan Pagaruyung yang dianggap sebagai perintis dan cikal bakal penduduk Pasaman. Legenda menceritakan mereka menemukan wilayah baru di sekitar Batang Dareh, kemudian membuka perkampungan pertama serta mengatur sistem pemerintahan awal di daerah tersebut.

2. Apa arti nama “Pasaman” dan mengapa dinamakan demikian?

Nama Pasaman berasal dari bahasa Minangkabau yang berarti “persamaan”. Nama ini diberikan karena sejak awal masyarakat Pasaman terdiri dari berbagai suku dan etnis yang hidup berdampingan secara harmonis. Filosofi ini mencerminkan semangat kebersamaan dan toleransi antar kelompok.

3. Siapa saja etnis yang mendiami wilayah Pasaman?

Wilayah Pasaman dihuni oleh beberapa etnis dengan Minangkabau sebagai penduduk asal (urang asa) , serta Mandailing dan Jawa sebagai penduduk pendatang (urang datang). Di beberapa nagari perbatasan, komposisi etnis Minang dan Mandailing hampir berimbang, menciptakan dinamika sosial yang unik.

4. Apakah ada tokoh sejarah terkenal yang berasal dari Pasaman?

Tokoh sejarah paling terkenal dari Pasaman adalah Tuanku Imam Bonjol, Pahlawan Nasional Indonesia yang memimpin Perang Paderi melawan Belanda. Beliau lahir di Desa Tanjung Bungo, Kecamatan Bonjol, Kabupaten Pasaman.

5. Bagaimana sistem pemerintahan asli di Pasaman?

Sistem pemerintahan asli di Pasaman adalah sistem nagari yang berbasis pada adat Minangkabau. Pada tahun 1983, sistem ini sempat diubah menjadi sistem desa, namun sejak awal tahun 2000-an, pemerintah daerah mengembalikan sistem pemerintahan ke nagari karena dianggap lebih sesuai dengan nilai-nilai budaya dan kearifan lokal masyarakat setempat.

Scroll to Top