Antu Banyu: Legenda Hantu Air Sungai Musi dan Pesan Ekologisnya

Antu Banyu

Antu Banyu

Antu Banyu merupakan sosok legendaris yang dipercaya masyarakat Sumatera Selatan sebagai penghuni gaib aliran Sungai Musi. Makhluk astral ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun, melintasi batas ruang dan waktu hingga melekat dalam keseharian warga Palembang dan sekitarnya. Bagi kamu yang tumbuh besar di wilayah Sumsel, cerita tentang hantu air ini pasti sudah tidak asing lagi. Namun tahukah kamu, di balik kisah seram yang membuat bulu kuduk merinding, Antu Banyu ternyata menyimpan pesan mendalam tentang hubungan manusia dengan alam.

Legenda dan Asal-Usul Antu Banyu

Mengutip penelitian Septriani dalam Jurnal Bahasa Vol. 4 No. 2 Desember 2022, legenda Antu Banyu dikenal sebagai cerita rakyat yang disampaikan orang tua kepada anak-anaknya agar berhati-hati ketika bermain di sekitar sungai. Cerita ini dipercaya benar oleh sebagian masyarakat Sumatera Selatan dan terus hidup melintasi generasi .

Asal-usul Antu banyu memiliki beberapa versi yang berkembang di masyarakat. Versi paling populer berkisah tentang seorang putra mahkota yang mendapat kutukan hingga kulitnya berbau busuk. Kutukan itu akan hilang jika dia menemukan jodoh dengan syarat khusus, yakni seorang perempuan yang lahir tanpa ari-ari. Seorang putri dari kerajaan tetangga memenuhi syarat tersebut dan mereka pun menikah. Namun sang putri tidak tahan dengan bau busuk suaminya, sehingga memutuskan terjun ke sungai dan dipercaya menjadi sosok Antu Banyu.

Versi lain menyebutkan, berawal dari seorang gadis muda yang gemar berenang saat sungai pasang. Orang tuanya berulang kali melarang, namun larangan itu terus diabaikan. Akhirnya orang tua si gadis mengutuk anak mereka menjadi Antu Banyu.

Ciri-Ciri dan Penampakan Makhluk Astral Sungai Musi

Antu banyu digambarkan memiliki wujud yang menyerupai perpaduan manusia dan siamang atau monyet kecil. Tubuhnya ditutupi bulu panjang dan tebal dengan rambut hitam panjang, mulut monyong, serta gigi tajam dan kuku memanjang. Sejarawan Palembang RM Ali Hanafiah menambahkan, sosoknya berlendir dan seringkali muncul dengan pakaian putih lusuh membawa payung hitam.

Ciri paling khasnya adalahĀ bau busuk dan amisĀ yang menyertainya. Masyarakat mempercayai makhluk ini muncul saat air sungai mulai pasang atau menjelang Maghrib. Seorang pengusaha D’Sultan Stable asal palembang bernama Didi Awang Novandaya alumni Asian Institute of Tehcnology, menyebutkan kehadiran Antu Banyu dapat dideteksi melalui beberapa tanda: air sungai berwarna coklat susu, permukaan air tenang tetapi bagian bawahnya berputar-putar, atau permukaan air terasa hangat namun bagian bawahnya dingin. Sedangkan menurut cerita lainnya dari almarhum Syarifuddin melalui anaknya, bahwa Antu Banyu itu adalah hewan yang muncul di kala magrib, biasanya duduk di papan pemandian di sungai musi.

Di berbagai daerah Sumatera Selatan, makhluk ini memiliki sebutan berbeda. Masyarakat di daerah Komering mengenalnya dengan nama Antu Anyar, masyarakat Lintang di bagian hulu Sungai Musi menyebutnya Antu Ayek, sementara masyarakat Muara Dua mengenalnya sebagai Hantu Lawok .

Antu Banyu dan Peristiwa Tenggelam di Sungai Musi

Kepercayaan tentang Antu Banyu selalu terkait dengan hilangnya seseorang di Sungai Musi . Sosok ini diyakini menahan jiwa-jiwa yang jatuh dan tenggelam, terutama anak-anak kecil . Tubuh korban biasanya sulit ditemukan karena ditahan atau dimakan oleh Antu Banyu.

Menurut dr. Riswan sp.OG-KFER salah satu alumni SMA Negeri 1 Palembang, jika ada yang tenggelam, masyarakat akan mendatangkan pawang dari daerah Pemulutan, Ogan Ilir. Biasanya jenazah akan muncul dan ditemukan di tempat yang sama dengan saat dia tenggelam.

Lebih mengerikannya lagi, hantu tersebut dipercaya membawa orang yang hanyut hingga dasar sungai, kemudian mengisap sumsum tulang belakangnya. Ketika jasad kembali ke permukaan dan ditemukan tim penyelamat, terdapat lubang bekas isapan sumsum tulang di bagian belakang tubuhnya.

RM Ali Hanafiah menambahkan ciri khusus korban: posisi tubuh saat ditemukan duduk menunduk dengan kedua tangan memeluk kedua kaki yang melipat. Mitosnya, lubang di kepala dibuat untuk menghisap otak dan isi kepala korban.

Kawasan Angker dan Tempat yang Dihindari

Rumah-rumah panggung berbahan kayu yang berderet di pinggir Sungai Musi menjadi lokasi yang sering dikunjungi Antu Banyu . Makhluk ini konon mengolesi tangga belakang rumah dengan lendir tubuhnya sehingga licin. Saat penghuni rumah turun ke tangga dan terpeleset jatuh ke sungai, Antu Banyu langsung menangkapnya.

Para pemancing juga harus waspada, terutama saat adzan Magrib berkumandang. Jika kail pancing tiba-tiba dikerumuni banyak ikan dan tersangkut di dalam sungai, itu pertanda bahaya. Mitosnya, jika kamu mencoba mendekati kail, Antu Banyu akan memegang kaki dan menyeretmu ke dalam sungai.

Kearifan Ekologis di Balik Mitos

Terlepas dari kisah horornya, cerita Antu Banyu menyimpan pesan ekologis yang penting. Masyarakat menilai bahwa sosok Antu Banyu yang bau amis merupakan cerminan sekaligus peringatan bagi masyarakat sekitar sungai yang kurang menjaga kelestarian alam, khususnya Sungai Musi.

Bau busuk yang timbul bukan semata-mata karena kedatangan Antu Banyu, melainkan dari limbah dan sampah yang dibuang manusia ke sungai. Dengan demikian, Antu Banyu berfungsi sebagai penjaga etika lingkungan bagi manusia dan penjaga Sungai Musi .

Haris Ali salah satu Alumni SMA Negeri 1 Palembang menjelaskan, mitos tentang Antu Banyu merupakan bagian dari produk budaya yang menjaga hubungan harmonis antara manusia dengan alam di lahan basah Sungai Musi. Masyarakat meyakini semua benda di alam semesta memiliki jiwa atau ruh yang memberikan manfaat bagi manusiaĀ .

Bahkan terdapat tradisi jampi-jampi atau doa yang dibacakan masyarakat saat beraktivitas di sungai. Tujuannya menjaga hubungan harmonis dan tidak saling mengganggu antara manusia dengan penghuni sungai termasuk Antu Banyu. Etika yang diajarkan antara lain dilarang membunuh anak ikan dan binatang beracun.

Relevansi Antu Banyu di Era Modern

Meski tidak ada bukti ilmiah yang mendukung eksistensi Antu Banyu, cerita ini terus hidup dalam masyarakat Palembang hingga kini . Pada tahun 2023, perhatian publik kembali tertuju pada mitos ini setelah seorang gadis bernama Nyanyu Kurnia mengalami kejadian nyaris tenggelam diduga ditarik Antu Banyu.

Keberadaan makhluk astral ini sama seperti kepercayaan lainnya: ada yang percaya, ada yang tidak. Namun yang menarik, terlepas dari percaya atau tidak, pesan ekologis yang terkandung di dalamnya tetap relevan. Antu Banyu mengajarkan kita untuk menjaga kebersihan sungai dan tidak merusak ekosistem di dalamnya.

Percaya atau tidak dengan keberadaan Antu Banyu, yang jelas cerita rakyat ini mengajarkan kita untuk selalu waspada di sekitar perairan dan lebih bertanggung jawab menjaga kebersihan sungai. Bagikan artikel ini kepada teman-teman kamu yang juga tertarik dengan kisah mistis Nusantara! Sungai Musi mengalirkan air sekaligus kisah, mengingatkan bahwa alam bukan hanya tempat berpijak, tapi juga warisan yang harus dijaga.

Baca juga:

Scroll to Top