Apa saja Perbedaan Apresiasi dan Depresiasi?

Perbedaan Apresiasi dan Depresiasi

Perbedaan Apresiasi dan Depresiasi – Dalam dunia investasi dan keuangan, dua terminologi yang paling fundamental dan sering kali menjadi penentu keberhasilan atau kegagalan portofolio adalah apresiasi dan depresiasi. Bagi para investor, baik pemula maupun yang telah berpengalaman, memahami perbedaan utama antara apresiasi dan depresiasi bukanlah sekadar wawasan tambahan, melainkan sebuah keharusan. Konsep ini merupakan pondasi untuk membangun strategi investasi yang sehat, mengambil keputusan yang tepat, dan pada akhirnya, mencapai tujuan finansial yang diinginkan. Lantas, apa sebenarnya yang membedakan antara apresiasi dan depresiasi? Bagaimana kedua kekuatan yang berlawanan ini memengaruhi aset seperti saham, properti, dan mata uang? Artikel ini akan mengupas tuntas perbedaannya, dilengkapi dengan analisis, contoh, dan panduan praktis untuk Anda.

Secara sederhana, apresiasi merujuk pada peningkatan nilai suatu aset dari waktu ke waktu. Ini adalah pergerakan yang didambakan setiap investor. Sebaliknya, depresiasi menandakan penurunan nilai aset tersebut. Dinamika antara kenaikan dan penurunan nilai inilah yang menciptakan gelombang pasang surut di pasar keuangan. Pemahaman mendalam tentang kedua konsep ini akan memampukan Anda untuk mengidentifikasi peluang, mengelola risiko, dan tidak terjebak dalam kepanikan saat pasar sedang bergejolak.

Apa Itu Apresiasi?

Menurut berbagai sumber otoritatif seperti Clear Tax, apresiasi dalam investasi didefinisikan sebagai kenaikan nilai dari sebuah aset selama periode tertentu. Kenaikan nilai ini terjadi akibat berbagai faktor fundamental dan teknis, seperti yang diungkapkan oleh Wealth Spire, di antaranya:

  • Ketika minat terhadap suatu aset (misalnya, saham suatu perusahaan teknologi) melonjak, sementara pasokannya terbatas, hukum permintaan-penawaran akan mendorong harganya naik.
  • Aset dengan karakteristik unik dan terbatas, seperti tanah di lokasi strategis atau logam mulia, cenderung mengalami apresiasi karena suplainya tidak dapat ditambah dengan mudah.
  • Inflasi, tingkat suku bunga, dan pertumbuhan ekonomi suatu negara secara keseluruhan dapat memicu apresiasi. Misalnya, suku bunga yang rendah seringkali mendorong apresiasi di pasar properti karena pinjaman menjadi lebih murah.

Dalam konteks ini, apresiasi memiliki dua wajah utama:

  • Apresiasi Modal (Capital Appreciation) adalah jenis apresiasi yang paling umum dibicarakan. Ini terjadi ketika harga pasar dari suatu aset investasi, seperti saham atau properti, meningkat. Keuntungan yang Anda dapatkan dari penjualan aset yang terapresiasi ini kemudian disebut sebagai capital gain.
  • Apresiasi Mata Uang (Currency Appreciation), dimana Nilai tukar mata uang suatu negara tidak statis. Apresiasi mata uang terjadi ketika nilai mata uang domestik menguat terhadap mata uang asing. Contohnya, jika nilai Rupiah menguat dari Rp 15.000 per USD menjadi Rp 14.000 per USD, maka Rupiah mengalami apresiasi.

Apa Itu Depresiasi?

Sebagai antonim dari apresiasi, depresiasi adalah penurunan nilai suatu aset dari waktu ke waktu. Sementara apresiasi disambut dengan sukacita, depresiasi seringkali ditakuti, meski merupakan hal yang wajar dan tak terhindarkan untuk jenis aset tertentu.

Penyebab depresiasi meliputi:

  • Keausan dan Kerusakan (Wear and Tear) adalah penyebab utama depresiasi pada aset berwujud. Mobil, mesin pabrik, dan peralatan elektronik nilainya akan terus menurun seiring penggunaan dan bertambahnya usia.
  • Teknologi baru yang lebih efisien dapat membuat aset lama menjadi usang dan kurang bernilai.
  • Menurunnya kinerja perusahaan, resesi ekonomi, atau kebijakan pemerintah yang tidak mendukung dapat memicu depresiasi pada aset seperti saham dan properti.
  • Penurunan permintaan jika minat pasar terhadap suatu produk atau aset memudar, nilainya akan terdorong turun.

Dalam konteks mata uang, depresiasi berarti pelemahan nilai tukar. Jika Rupiah melemah dari Rp 14.000 per USD menjadi Rp 15.500 per USD, itu artinya Rupiah mengalami depresiasi.

Tabel Perbandingan: Apresiasi vs. Depresiasi

AspekApresiasiDepresiasi
PengertianKenaikan nilai aset dari waktu ke waktu.Penurunan nilai aset dari waktu ke waktu.
Penyebab UtamaPermintaan tinggi, suplai rendah, kinerja baik, suku bunga rendah.Keausan, ketinggalan zaman, kinerja buruk, penurunan permintaan.
Dampak pada InvestorKeuntungan (Capital Gain), peningkatan nilai portofolio.Kerugian (Capital Loss), penurunan nilai portofolio.
Dampak pada Mata UangMata uang domestik menguat. Impor menjadi lebih murahekspor menjadi lebih mahal.Mata uang domestik melemah. Impor menjadi lebih mahalekspor menjadi lebih murah.
Jenis Aset yang UmamSaham, obligasi, real estate, logam mulia, reksa dana.Kendaraan bermotor, mesin, peralatan elektronik, peralatan kantor.
Sikap InvestorDiburu dan diharapkan kejadiannya.Dihindari, atau diantisipasi sebagai bagian dari risiko.

Cara Menghitung Tingkat Apresiasi dan Depresiasi

Sebagai investor yang cerdas, Anda tidak hanya bisa mengamati, tetapi juga menghitung seberapa besar sebuah aset telah terapresiasi atau terdepresiasi.

Rumus Tingkat Apresiasi

Untuk menghitung tingkat apresiasi tahunan rata-rata, Anda dapat menggunakan rumus yang mirip dengan Tingkat Pertumbuhan Tahunan Majemuk (CAGR):

Tingkat Apresiasi = [(Nilai Akhir / Nilai Awal)^ (1/n) – 1] x 100

Keterangan:

  • Nilai Awal: Harga beli atau nilai awal aset.
  • Nilai Akhir: Harga jual atau nilai akhir aset.
  • n: Jangka waktu investasi dalam tahun.

Contoh Studi Kasus:

Bayangkan Anda membeli sebuah properti atau sejumlah saham pada tahun 2018 dengan harga Rp 500.000.000. Lima tahun kemudian, pada tahun 2023, nilai aset tersebut meningkat menjadi Rp 750.000.000. Berapa tingkat apresiasi tahunan rata-ratanya?

  • Nilai Awal = Rp 500.000.000
  • Nilai Akhir = Rp 750.000.000
  • n = 5 tahun

Tingkat Apresiasi = [(750.000.000 / 500.000.000) ^ (1/5) – 1] x 100
= [ (1.5) ^ 0.2 – 1 ] x 100
= [ 1.0844 – 1 ] x 100
= 0.0844 x 100 = **8.44%**

Artinya, properti atau saham tersebut mengalami apresiasi rata-rata sebesar 8.44% per tahun selama periode 5 tahun.

Rumus Depresiasi

Untuk aset yang terdepresiasi seperti kendaraan, perhitungannya lebih sederhana. Metode garis lurus adalah yang paling umum.

Depresiasi per Tahun = (Harga Beli – Nilai Sisa) / Masa Manfaat

Keterangan:

  • Nilai Sisa: Perkiraan nilai aset di akhir masa manfaatnya.

Contoh: 

Kamu membeli mobil seharga Rp 300.000.000 dengan perkiraan nilai sisa Rp 150.000.000 setelah 5 tahun.
Depresiasi per Tahun = (300.000.000 – 150.000.000) / 5
= 150.000.000 / 5 = Rp 30.000.000

Jadi, mobil tersebut mengalami penyusutan nilai sebesar Rp 30 juta setiap tahunnya.

Contoh dalam Berbagai Kelas Aset

Apresiasi di Pasar Saham dapat diilustrasikan ketika Anda membeli saham BBCA (Bank BCA) pada harga Rp 7.500 per lembar. Dua tahun kemudian, harga saham tersebut meroket menjadi Rp 9.500 per lembar. Ini merupakan wujud nyata dari apresiasi modal. Jika memutuskan untuk menjualnya, selisih sebesar Rp 2.000 per lembarnya merupakan capital gain yang Anda peroleh.

Depresiasi di Aset Berwujud sering dialami pada aset seperti elektronik. Misalnya, kamu membeli sebuah laptop merek ternama seharga Rp 15.000.000. Setelah dua tahun digunakan, nilai laptop tersebut di pasar bekas mungkin hanya menyentuh Rp 8.000.000. Penurunan nilai yang signifikan ini adalah contoh depresiasi yang wajar, yang disebabkan oleh faktor keausan fisik dan keusangan teknologi seiring dengan kemunculan model-model baru yang lebih canggih.

Apresiasi dan Depresiasi Mata Uang merupakan fenomena yang langsung terasa dalam ekonomi. Apresiasi Rupiah terjadi ketika nilai tukar Rupiah menguat terhadap Dolar AS, misalnya kurs USD/IDR bergerak dari 15.000 menjadi 14.250. Kondisi ini menguntungkan karena membuat biaya impor dan pembayaran utang luar negeri menjadi lebih murah. Sebaliknya, Depresiasi Rupiah terjadi ketika nilai tukar melemah, contohnya dari 14.250 menjadi 15.500. Meski berpotensi memicu inflasi, pelemahan nilai tukar ini dapat mendongkrak daya saing ekspor karena produk domestik menjadi lebih murah di pasar internasional.

Strategi Investasi: Menyikapi Apresiasi dan Depresiasi

Seorang investor yang bijak tidak hanya mengejar apresiasi tetapi juga mengelola depresiasi.

  • Alokasikan dana utama Anda pada instrumen yang secara historis dan fundamental memiliki prospek kenaikan nilai, seperti saham perusahaan berkualitas, reksa dana saham, atau investasi properti di lokasi yang berkembang.
  • Untuk aset yang pasti terdepresiasi seperti kendaraan, belilah dengan bijak. Pertimbangkan nilai fungsionalnya dibandingkan dengan biaya depresiasi yang akan di tanggung.
  • Gabungkan aset yang berpotensi apresiasi tinggi (high-risk) dengan aset yang lebih stabil (low-risk) seperti obligasi atau emas untuk melindungi portofolio dari depresiasi masif di satu sektor.
  • Apresiasi yang sehat seringkali membutuhkan waktu. Dengan berinvestasi jangka panjang, kamu memberi waktu bagi aset untuk tumbuh dan melampaui fluktuasi serta periode depresiasi sementara.

Dengan pengetahuan ini, kamu tidak akan lagi panik saat melihat warna merah (depresiasi sementara) dan tidak akan euforia berlebihan saat melihat warna hijau (apresiasi). Keduanya adalah dua sisi dari koin yang sama, irama alamiah yang membentuk siklus keuangan.

Apa strategi dalam menghadapi apresiasi dan depresiasi aset investasi? Apakah kamu memiliki pengalaman unik terkait hal ini? Jangan lupa untuk share artikel ini kepada rekan-rekan investor mu agar mereka juga dapat mengambil manfaatnya.

Baca juga:

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

1. Mana yang lebih baik, apresiasi atau depresiasi?

Untuk investor, apresiasi selalu lebih diinginkan karena menghasilkan keuntungan. Namun, depresiasi adalah realitas yang harus dikelola, bukan ditakuti. Depresiasi mata uang juga bisa menguntungkan bagi pelaku ekspor.

2. Apakah semua aset keuangan bisa mengalami depresiasi?

Ya, hampir semua aset berisiko mengalami depresiasi, termasuk saham dan properti, terutama dalam jangka pendek. Namun, dalam jangka panjang, aset-aset seperti saham dan properti cenderung mengalami apresiasi.

3. Apa hubungan antara capital gain dan apresiasi?

Apresiasi adalah proses kenaikan nilai aset itu sendiri. Capital gain adalah keuntungan yang baru terealisasi ketika Anda menjual aset yang telah terapresiasi tersebut.

4. Bagaimana inflasi memengaruhi apresiasi dan depresiasi?

Inflasi dapat memicu apresiasi nominal pada aset seperti properti dan saham (harganya naik dalam nilai Rupiah). Namun, inflasi juga menyebabkan depresiasi nilai uang kas yang disimpan, karena daya belinya menurun.

5. Apakah emas selalu mengalami apresiasi?

Tidak selalu. Harga emas juga fluktuatif dan bisa mengalami periode depresiasi. Namun, dalam jangka panjang, emas dianggap sebagai lindung nilai (hedge) yang baik terhadap inflasi dan gejolak ekonomi, sehingga cenderung terapresiasi.

Referensi

  1. Bodie, Z., Kane, A., & Marcus, A. J. (2014). Investments (10th ed.). McGraw-Hill Education.
  2. Mishkin, F. S. (2019). The economics of money, banking, and financial markets (12th ed.). Pearson Education.
  3. Sharpe, W. F., Alexander, G. J., & Bailey, J. W. (2018). Investments (11th ed.). Prentice Hall.
  4. Engel, C. (2016). Exchange rates, interest rates, and the risk premium. American Economic Review, *106*(2), 436–474. https://doi.org/10.1257/aer.20121365
  5. Reinhart, C. M., & Rogoff, K. S. (2011). From financial crash to debt crisis. American Economic Review, *101*(5), 1676–1706.
    https://doi.org/10.1257/aer.101.5.1676
  6. Shiller, R. J. (2015). Irrational exuberance (3rd ed.). Princeton University Press. https://doi.org/10.1515/9781400865536
Scroll to Top