Bedanya Sanering dan Devaluasi – Dalam wacana ekonomi, terutama ketika membicarakan stabilisasi nilai tukar rupiah, dua istilah yang sering muncul dan kerap disalahartikan adalah sanering dan devaluasi. Meski sekilas terdangun mirip karena sama-sama berkaitan dengan penurunan nilai mata uang, hakikat, tujuan, dan dampak dari kedua kebijakan moneter ini amatlah berbeda. Pemahaman yang keliru antara keduanya dapat menimbulkan kepanikan yang tidak perlu di kalangan masyarakat dan pelaku usaha. Sanering pada intinya adalah pemotongan daya beli uang domestik untuk mengerem inflasi, sementara devaluasi lebih fokus pada penurunan nilai tukar rupiah terhadap valuta asing untuk mendongkrak ekspor.
Sanering berasal dari bahasa Belanda yang berarti “penyehatan”. Namun, dalam praktiknya, kebijakan ini terasa sangat menyakitkan bagi daya beli masyarakat. Secara teknis, sanering adalah langkah drastis yang diambil oleh pemerintah dan bank sentral dengan memotong nilai nominal mata uang yang beredar tanpa diikuti dengan penurunan harga-harga barang dan jasa.
Kebijakan moneter yang satu ini bukanlah langkah sembarangan dan biasanya menjadi pilihan terakhir. Tujuan utama sanering adalah:
Dampak kebijakan ini langsung terasa di kantong masyarakat:
Indonesia memiliki pengalaman pahit dengan kebijakan sanering, yang semuanya terjadi pada era Orde Lama.
Berbeda dengan sanering yang sasaran tembaknya adalah daya beli domestik, devaluasi adalah kebijakan untuk menurunkan nilai tukar mata uang domestik terhadap mata uang asing dalam sistem kurs tetap. Dengan kata lain, pemerintah sengaja membuat rupiah lebih “murah” dibandingkan dolar AS atau mata uang kuat lainnya.
Devaluasi adalah kebijakan yang lebih strategis dan berorientasi pada perdagangan internasional. Tujuannya antara lain:
Dampak devaluasi lebih kompleks dan tidak langsung menyentuh daya beli secara brutal seperti sanering:
Pada era Orde Baru, tepatnya pada 15 November 1978, Indonesia melakukan devaluasi besar-besaran. Nilai rupiah dipotong dari Rp 415 per dolar AS menjadi Rp 625 per dolar AS. Kebijakan yang dikenal sebagai “Devaluasi Presiden Soeharto” ini bertujuan untuk menjaga daya saing ekspor non-migas Indonesia di pasar global, terutama setelah banyak negara tetangga juga melemahkan mata uangnya.
Untuk memudahkan pemahaman, berikut adalah tabel yang meringkas perbedaan utama antara sanering dan devaluasi.
| Aspek | Sanering | Devaluasi |
|---|---|---|
| Pengertian | Pemotongan nilai mata uang terhadap barang/jasa domestik. | Penurunan nilai tukar mata uang domestik terhadap mata uang asing. |
| Sasaran | Daya beli masyarakat di dalam negeri. | Nilai tukar (kurs) internasional. |
| Tujuan Utama | Mengurangi jumlah uang beredar dan menekan inflasi (hiperinflasi). | Meningkatkan daya saing ekspor dan mengurangi impor. |
| Dampak Daya Beli | Menurun drastis dan instan. | Tidak langsung mempengaruhi; barang impor jadi lebih mahal. |
| Kondisi Dilakukan | Krisis moneter parah, hiperinflasi. | Defisit neraca perdagangan, daya saing ekspor melemah. |
| Nilai terhadap Barang | Nilai uang terhadap barang di dalam negeri turun. | Nilai uang terhadap barang impor turun. |
| Contoh di Indonesia | Gunting Syafruddin (1950), Sanering 1959 & 1965. | Devaluasi 1978, 1983, dan 1986. |
Memahami perbedaan ini sangat krusial. Masyarakat yang melek finansial tidak akan mudah terjebak dalam kepanikan ketika mendengar wacana penyesuaian nilai mata uang. Mereka dapat menganalisis apakah kebijakan yang diambil pemerintah bertujuan untuk menyelamatkan ekonomi domestik (sanering) atau justru membidik pasar internasional (devaluasi). Dengan demikian, kebijakan moneter bukanlah mantra yang menakutkan, melainkan alat yang harus dipahami konsekuensinya.
Apa pendapat mu tentang kebijakan moneter ekstrem seperti sanering? Apakah ada pelajaran berharga dari sejarah yang bisa kita ambil untuk membangun ekonomi Indonesia yang lebih stabil? jangan lupa untuk membagikan artikel ini kepada rekan-rekan Anda yang tertarik dengan dunia ekonomi dan keuangan!
Baca juga:
Sanering secara umum lebih berbahaya dan berdampak langsung pada kemakmuran rakyat karena langsung memotong daya beli dan nilai kekayaan tunai. Devaluasi memiliki dampak yang lebih terarah, menguntungkan bagi eksportir namun memberatkan bagi importir.
Tidak. Redenominasi hanya menyederhanakan digit (angka nol) pada uang tanpa mengubah nilainya. Harga barang juga akan disesuaikan. Sedangkan sanering memotong nilai uang, sehingga daya belinya turun.
Sanering biasanya menjadi pilihan terakhir saat suatu negara mengalami hiperinflasi yang sangat parah, di mana jumlah uang yang beredar sudah jauh melampaui kebutuhan, dan kebijakan moneter konvensional lainnya sudah tidak mempan.
Pelaku usaha yang bergerak di bidang ekspor adalah pihak yang paling diuntungkan. Harga jual produk mereka di pasar internasional menjadi lebih murah, sehingga permintaan bisa meningkat. Keuntungan mereka dalam valas juga nilainya lebih besar ketika dikonversi ke mata uang domestik.
Dengan penerapan sistem ekonomi dan moneter yang lebih modern, serta otonomi Bank Indonesia dalam mengendalikan inflasi, potensi Indonesia melakukan sanering kembali sangatlah kecil. Kebijakan moneter saat ini lebih halus, seperti menaikkan suku bunga, daripada mengambil langkah drastis seperti sanering.
SMUP 2026 SMUP 2026 menjadi gerbang utama bagi kamu yang bercita-cita melanjutkan pendidikan ke Universitas Padjadjaran…
SBUB UNDIP 2026