Apa Bedanya Sanering dan Devaluasi? Jangan Sampai Tertukar!

Bedanya Sanering dan Devaluasi

Bedanya Sanering dan Devaluasi – Dalam wacana ekonomi, terutama ketika membicarakan stabilisasi nilai tukar rupiah, dua istilah yang sering muncul dan kerap disalahartikan adalah sanering dan devaluasi. Meski sekilas terdangun mirip karena sama-sama berkaitan dengan penurunan nilai mata uang, hakikat, tujuan, dan dampak dari kedua kebijakan moneter ini amatlah berbeda. Pemahaman yang keliru antara keduanya dapat menimbulkan kepanikan yang tidak perlu di kalangan masyarakat dan pelaku usaha. Sanering pada intinya adalah pemotongan daya beli uang domestik untuk mengerem inflasi, sementara devaluasi lebih fokus pada penurunan nilai tukar rupiah terhadap valuta asing untuk mendongkrak ekspor. 

Apa Itu Sanering?

Sanering berasal dari bahasa Belanda yang berarti “penyehatan”. Namun, dalam praktiknya, kebijakan ini terasa sangat menyakitkan bagi daya beli masyarakat. Secara teknis, sanering adalah langkah drastis yang diambil oleh pemerintah dan bank sentral dengan memotong nilai nominal mata uang yang beredar tanpa diikuti dengan penurunan harga-harga barang dan jasa.

1. Tujuan Dilakukannya Sanering

Kebijakan moneter yang satu ini bukanlah langkah sembarangan dan biasanya menjadi pilihan terakhir. Tujuan utama sanering adalah:

  • Dalam kondisi hiperinflasi di mana uang yang beredar terlalu banyak, sanering bertujuan untuk secara paksa menarik sebagian likuiditas dari masyarakat.
  • Dengan berkurangnya uang yang beredar, diharapkan tekanan inflasi dapat diredam karena daya beli masyarakat secara otomatis menyusut.
  • Dalam kondisi yang sangat parah, sanering dianggap sebagai “operasi bedah” untuk menyelamatkan mata uang dari kehancuran total.

2. Dampak Langsung Sanering bagi Masyarakat

Dampak kebijakan ini langsung terasa di kantong masyarakat:

  • Daya beli anjlok, uang Rp 100.000 di dompet tiba-tiba nilainya hanya setara dengan Rp 10.000. Kamu tidak bisa lagi membeli barang yang sebelumnya bisa dibeli dengan nominal tersebut.
  • Nilai kekayaan dalam bentuk uang tunai menyusut secara instan. Ini sangat memberatkan masyarakat kecil yang menabung dalam bentuk cash.
  • Kebijakan ini seringkali memicu kepanikan dan ketidakpercayaan terhadap mata uang dan otoritas moneter.

Contoh Nyata Sanering dalam Sejarah Indonesia

Indonesia memiliki pengalaman pahit dengan kebijakan sanering, yang semuanya terjadi pada era Orde Lama.

  • Sanering 1950 (Gunting Syafruddin): Menteri Keuangan kala itu, Syafruddin Prawiranegara, mengeluarkan kebijakan kontroversial dengan menggunting semua uang kertas bernilai f 5 (gulden) ke atas menjadi dua. Bagian kiri tetap bisa digunakan dengan nilai separuhnya, sementara bagian kanan ditukar dengan obligasi pemerintah. Ini adalah cara fisik untuk memotong nilai uang.
  • Sanering 1959: Kebijakan ini memotong nilai uang kertas pecahan Rp 500 dan Rp 1000. Uang Rp 1000 (bergambar gajah) nilainya dipangkas menjadi hanya Rp 100, dan uang Rp 500 (bergambar macan) menjadi Rp 50.
  • Sanering 1965: Ini adalah sanering terberat. Pemerintah mengeluarkan uang baru di mana uang Rp 1000 lama hanya disamakan dengan Rp 1 uang baru. Pemotongan nilai yang terjadi sangat ekstrem.

Apa Itu Devaluasi?

Berbeda dengan sanering yang sasaran tembaknya adalah daya beli domestik, devaluasi adalah kebijakan untuk menurunkan nilai tukar mata uang domestik terhadap mata uang asing dalam sistem kurs tetap. Dengan kata lain, pemerintah sengaja membuat rupiah lebih “murah” dibandingkan dolar AS atau mata uang kuat lainnya.

1. Tujuan Strategis Di Balik Devaluasi

Devaluasi adalah kebijakan yang lebih strategis dan berorientasi pada perdagangan internasional. Tujuannya antara lain:

  • Dengan rupiah yang lebih murah, harga produk-produk Indonesia di pasar internasional menjadi lebih terjangkau. Ini diharapkan dapat meningkatkan volume dan nilai ekspor.
  • Produk impor menjadi lebih mahal karena butuh lebih banyak rupiah untuk membeli valas yang sama. Ini mendorong masyarakat dan industri beralih ke produk dalam negeri (substitusi impor).
  • Dengan ekspor naik dan impor turun, diharapkan defisit neraca perdagangan dapat dikurangi atau bahkan menjadi surplus.

2. Dampak Devaluasi bagi Perekonomian

Dampak devaluasi lebih kompleks dan tidak langsung menyentuh daya beli secara brutal seperti sanering:

  • Perusahaan yang berorientasi ekspor akan mendapat keuntungan karena pendapatan mereka dalam dolar nilainya menjadi lebih tinggi ketika dikonversi ke rupiah.
  • Perusahaan yang bergantung pada bahan baku impor dan masyarakat yang membeli barang impor (seperti elektronik, mobil) akan menanggung biaya yang lebih tinggi.
  • Nilai utang luar negeri (baik pemerintah maupun swasta) yang harus dibayar dalam valas akan menjadi lebih besar dalam hitungan rupiah.

3. Contoh Kebijakan Devaluasi di Indonesia

Pada era Orde Baru, tepatnya pada 15 November 1978, Indonesia melakukan devaluasi besar-besaran. Nilai rupiah dipotong dari Rp 415 per dolar AS menjadi Rp 625 per dolar AS. Kebijakan yang dikenal sebagai “Devaluasi Presiden Soeharto” ini bertujuan untuk menjaga daya saing ekspor non-migas Indonesia di pasar global, terutama setelah banyak negara tetangga juga melemahkan mata uangnya.

Tabel Perbandingan: Sanering vs. Devaluasi

Untuk memudahkan pemahaman, berikut adalah tabel yang meringkas perbedaan utama antara sanering dan devaluasi.

AspekSaneringDevaluasi
PengertianPemotongan nilai mata uang terhadap barang/jasa domestik.Penurunan nilai tukar mata uang domestik terhadap mata uang asing.
SasaranDaya beli masyarakat di dalam negeri.Nilai tukar (kurs) internasional.
Tujuan UtamaMengurangi jumlah uang beredar dan menekan inflasi (hiperinflasi).Meningkatkan daya saing ekspor dan mengurangi impor.
Dampak Daya BeliMenurun drastis dan instan.Tidak langsung mempengaruhi; barang impor jadi lebih mahal.
Kondisi DilakukanKrisis moneter parah, hiperinflasi.Defisit neraca perdagangan, daya saing ekspor melemah.
Nilai terhadap BarangNilai uang terhadap barang di dalam negeri turun.Nilai uang terhadap barang impor turun.
Contoh di IndonesiaGunting Syafruddin (1950), Sanering 1959 & 1965.Devaluasi 1978, 1983, dan 1986.

Memahami perbedaan ini sangat krusial. Masyarakat yang melek finansial tidak akan mudah terjebak dalam kepanikan ketika mendengar wacana penyesuaian nilai mata uang. Mereka dapat menganalisis apakah kebijakan yang diambil pemerintah bertujuan untuk menyelamatkan ekonomi domestik (sanering) atau justru membidik pasar internasional (devaluasi). Dengan demikian, kebijakan moneter bukanlah mantra yang menakutkan, melainkan alat yang harus dipahami konsekuensinya.

Apa pendapat mu tentang kebijakan moneter ekstrem seperti sanering? Apakah ada pelajaran berharga dari sejarah yang bisa kita ambil untuk membangun ekonomi Indonesia yang lebih stabil? jangan lupa untuk membagikan artikel ini kepada rekan-rekan Anda yang tertarik dengan dunia ekonomi dan keuangan!

Baca juga:

Pertanyaan yang Sering Ditanyakan (FAQ)

1. Mana yang lebih berbahaya, sanering atau devaluasi?

Sanering secara umum lebih berbahaya dan berdampak langsung pada kemakmuran rakyat karena langsung memotong daya beli dan nilai kekayaan tunai. Devaluasi memiliki dampak yang lebih terarah, menguntungkan bagi eksportir namun memberatkan bagi importir.

2. Apakah redenominasi sama dengan sanering?

Tidak. Redenominasi hanya menyederhanakan digit (angka nol) pada uang tanpa mengubah nilainya. Harga barang juga akan disesuaikan. Sedangkan sanering memotong nilai uang, sehingga daya belinya turun.

3. Kapan suatu negara terpaksa melakukan sanering?

Sanering biasanya menjadi pilihan terakhir saat suatu negara mengalami hiperinflasi yang sangat parah, di mana jumlah uang yang beredar sudah jauh melampaui kebutuhan, dan kebijakan moneter konvensional lainnya sudah tidak mempan.

4. Siapa yang diuntungkan dari kebijakan devaluasi?

Pelaku usaha yang bergerak di bidang ekspor adalah pihak yang paling diuntungkan. Harga jual produk mereka di pasar internasional menjadi lebih murah, sehingga permintaan bisa meningkat. Keuntungan mereka dalam valas juga nilainya lebih besar ketika dikonversi ke mata uang domestik.

5. Apakah Indonesia berpotensi melakukan sanering lagi?

Dengan penerapan sistem ekonomi dan moneter yang lebih modern, serta otonomi Bank Indonesia dalam mengendalikan inflasi, potensi Indonesia melakukan sanering kembali sangatlah kecil. Kebijakan moneter saat ini lebih halus, seperti menaikkan suku bunga, daripada mengambil langkah drastis seperti sanering.

Scroll to Top