Sejarah Kerajaan Sekala Brak: Asal-Usul, Kepaksian, dan Warisan Adat Lampung

Sejarah Kerajaan Sekala Brak

Sejarah Kerajaan Sekala Brak

Sejarah Kerajaan Sekala Brak menuturkan awal peradaban masyarakat Lampung di dataran tinggi Belalau, sekitar lereng Gunung Pesagi dan Danau Ranau, Kabupaten Lampung Barat. Tradisi lisan dan tambo adat menyebut wilayah ini sebagai tempat lahir orang Lampung. Kamu akan menemukan kisah tentang Suku Tumi, kedatangan empat pangeran Pagaruyung, dan empat kepaksian yang masih hidup sebagai lembaga adat. Alliya akan memisahkan mana yang berasal dari tradisi dan mana yang punya bukti tertulis, supaya kamu membaca sejarahnya dengan kritis.

Apa yang Dimaksud dengan Kerajaan Sekala Brak?

Kerajaan Sekala Brak (juga ditulis Sekala Beghak, Skala Brak, atau Sakala Bhra) adalah kesatuan masyarakat adat di dataran tinggi Lampung Barat. Masyarakat Lampung memandangnya sebagai cikal bakal peradaban mereka. Istilah “kerajaan” dan “kepaksian” sering muncul bergantian dalam literatur. Kepaksian menekankan sistem kepemimpinan adat, sedangkan kerajaan menekankan bentuk pemerintahan pada masa lampau.

Para peneliti mengingatkan satu hal penting. Sebagian besar kisah Sekala Brak bersumber dari tambo, yaitu ekspresi kesadaran masyarakat tentang masa lalu, dan dari naskah adat seperti Kuntara Raja Niti. Sumber-sumber tersebut belum melalui verifikasi arkeologis yang independen, dan rinciannya berbeda dari satu versi ke versi lain.

Ringkasan Kronologi Sejarah Kerajaan Sekala Brak

PeriodePeristiwa UtamaJenis Sumber
Abad ke-3 hingga ke-7 MSuku Tumi di bawah Buay Tumi membangun peradaban Hindu–animisme di lereng Gunung PesagiTambo dan tradisi lisan
Sekitar 600 MKerajaan Tulang Bawang berkembang di kawasan LampungSumber asing dan historiografi lokal
Abad ke-7 MPengaruh Sriwijaya menjangkau LampungPrasasti Sriwijaya di Lampung
997 M (919 Saka)Prasasti Hujung Langit menetapkan tanah sima di Lampung BaratBukti epigrafis
Abad ke-13 hingga ke-16 MEmpat keturunan Pagaruyung datang dan mendirikan Paksi PakTambo, waktu berbeda antarversi
1810, 1820, dan 1830Serangan Belanda merusak istana lama, lalu masyarakat membangun Gedung DalomSumber sekunder
1945 hingga sekarangKepaksian kehilangan kewenangan politik dan berfungsi sebagai lembaga adatSumber sejarah nasional

Masa Awal: Suku Tumi dan Buay Tumi

Menurut tambo, Suku Tumi mendirikan pusat kekuasaan di lereng Gunung Pesagi. Pemimpinnya bernama Buay Tumi. Versi lain, hasil musyawarah adat tahun 2001, menyebut seorang pendatang bernama La Laula sebagai pendiri. Perbedaan itu menunjukkan bahwa masyarakat terus menafsirkan ulang kisah leluhur mereka.

Suku Tumi mula-mula menganut ajaran nenek moyang, lalu bersentuhan dengan pengaruh Hindu. Dari sinilah corak Hindu–animisme melekat pada masa pra-Islam Sekala Brak.

Suku Tumi menyucikan pohon Belasa Kepampang. Pohon itu punya dua cabang, yaitu Sebukau dan Nangka, dan keduanya menghasilkan getah. Getah cabang Sebukau memicu penyakit kulit, sedangkan getah cabang Nangka menyembuhkannya. Dua sifat yang bertolak belakang dalam satu pohon membuat masyarakat mengeramatkannya.

Kedatangan Empat Pangeran Pagaruyung dan Berdirinya Paksi Pak

Empat keturunan Kerajaan Pagaruyung dari Batusangkar, Sumatra Barat, tiba di Sekala Brak bersama pengikut mereka. Tradisi lisan menamai peristiwa itu gegakhah bulan bakha. Mereka membawa ajaran Islam, dan Ratu Sekerumong (Umpu Sekekhummong), penguasa terakhir masa Hindu, mempertahankan kerajaannya sekuat tenaga. Perlawanan itu gagal, dan era baru dimulai.

Sumber sekunder tidak sepakat soal waktunya. Sebagian menyebut abad ke-16, sementara yang lain menempatkannya antara abad ke-13 dan ke-16. Kamu perlu memegang kisah ini sebagai tradisi yang hidup, bukan sebagai kronologi yang sudah final.

Keempat pangeran membagi wilayah Sekala Brak secara adil. Setiap kepaksian mengatur wilayah, rakyat, dan adatnya sendiri, tetapi kedudukan mereka setara dalam ikatan Paksi Pak (empat sepakat).

KepaksianGelar PendiriNama Pribadi (satu versi)
PernongUmpu PernongPak Lang
BelunguhUmpu BelunguhBelunguh
NyerupaUmpu NyerupaSikin
Bejalan Di WayUmpu Bejalan Di WayInder Gajah

Sumber lain memetakan nama pribadi tersebut dengan cara berbeda. Keempat umpu menyebar mengikuti aliran way (sungai) dan mengajarkan Islam di daerah masing-masing.

Pepadun: Dari Pohon Keramat Menjadi Singgasana

Setelah Islam berkembang, para umpu menebang Belasa Kepampang dan membuat singgasana adat yang masyarakat sebut Pepadun. Pepadun tersimpan rapi dan keluar hanya pada upacara penobatan pemimpin kepaksian. Tradisi Begawi Cakak Pepadun, yaitu pemberian gelar adat (juluk adok), mensyaratkan kesepakatan di antara keempat kepaksian.

Bukti Tertulis: Prasasti Hujung Langit

Prasasti Hujung Langit bertarikh 919 Saka (997 M) menjadi bukti tertulis independen tertua dari kawasan ini. Warga menemukannya di Dusun Harakuning, Pekon Hanakau, Kecamatan Sukau, Lampung Barat. Menurut pembacaan epigraf Louis-Charles Damais, penguasa bergelar Punku Haji Yuwarajya Sri Haridewa menetapkan sebidang tanah sebagai sima (bebas pajak) untuk merawat bangunan suci. Prasasti itu berasal dari era Sriwijaya, sehingga hubungannya dengan Buay Tumi dan kepaksian belum terbukti dan masih perlu penelitian lanjutan.

Masa Kolonial hingga Kemerdekaan

Pemerintah Hindia Belanda memecah wilayah adat menjadi unit marga dengan strategi devide et impera, dan kebijakan itu mengubah struktur sosial-politik kepaksian. Sumber sekunder mencatat serangan Belanda pada 1810 dan 1820 yang merusak istana lama, lalu masyarakat membangunnya kembali sebagai Gedung Dalom pada 1830.

Setelah Indonesia merdeka pada 1945, kepaksian kehilangan kedaulatan dan kewenangan pemerintahan, tetapi garis keturunan dan struktur adatnya tetap bertahan. Kepaksian Pernong kini berada di bawah Pangeran Edward Syah Pernong, yang menyandang gelar Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan ke-23 sejak 1989.

Struktur Adat dan Nilai Budaya

Setiap kepaksian punya batin (raja kampung), dewan adat, raja jukuan, dan kelompok suku sumbai. Mereka mengambil keputusan lewat musyawarah adat (hippun adat). Masyarakat Lampung masih memegang empat nilai utama:

  • Piil pesenggiri (harga diri)
  • Nemui nyimah (keramahtamahan)
  • Sakai sambayan (gotong royong)
  • Bejuluk beadek (penghormatan identitas lewat gelar)

Gelar adat di Lampung, seperti Suntan, Raja, Batin, Radin, Minak, Kemas, dan Mas, hanya turun lewat garis keturunan. Orang tidak bisa membelinya.

Kesimpulan

Sejarah Kerajaan Sekala Brak memadukan tradisi lisan yang kaya dengan bukti tertulis yang masih terbatas. Kamu bisa menghargai keduanya sekaligus: tambo menjaga ingatan kolektif, sedangkan prasasti dan penelitian arkeologi menguji ingatan itu. Bagikan artikel ini ke teman, keluarga, atau komunitas belajarmu, dan tulis di kolom komentar versi kisah Sekala Brak yang kamu dengar di daerahmu.

Baca juga:

FAQ

1. Kapan Kerajaan Sekala Brak berdiri?

Tradisi lisan menempatkan pendiriannya oleh Suku Tumi pada sekitar abad ke-3 Masehi. Bukti arkeologis independen belum mengonfirmasi tarikh tersebut.

2. Siapa pendiri Kerajaan Sekala Brak?

Tambo menyebut Buay Tumi, pemimpin Suku Tumi. Hasil musyawarah adat tahun 2001 menyebut versi lain, yaitu seorang pendatang bernama La Laula.

3. Di mana letak Kerajaan Sekala Brak?

Wilayahnya berada di dataran tinggi lereng Gunung Pesagi, sebelah selatan Danau Ranau, di Kabupaten Lampung Barat.

4. Siapa yang mengalahkan Ratu Sekerumong?

Menurut tradisi, empat pangeran dari Kerajaan Pagaruyung mengalahkannya. Mereka membawa ajaran Islam dan kemudian mendirikan Paksi Pak, yang terdiri atas Pernong, Belunguh, Nyerupa, dan Bejalan Di Way.

5. Apakah Kerajaan Sekala Brak masih ada sekarang?

Keempat kepaksian masih ada sebagai lembaga adat dengan garis keturunan masing-masing. Sejak 1945 mereka tidak memegang kekuasaan politik, dan fungsinya menjaga adat serta budaya Lampung.

Referensi

  1. Damais, L.-C. (1962). Études soumatranaises: I. La date de l’inscription de Hujung Langit (“Bawang”). Bulletin de l’École française d’Extrême-Orient. https://doi.org/10.3406/befeo.1962.1535
  2. Deva Chandra, R., Wisnu Kurniawan, P., & Siska, Y. (2021). Eksistensi kerajaan adat Paksi Pak Sekala Brak Kepaksian Pernong Lampung (tinjauan historis dari tahun 1283–1945). Palapa: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Sejarah, 3(1), 1–11. http://eskripsi.stkippgribl.ac.id/index.php/palapa/article/view/140
  3. Fernanda, F. E., & Samsuri, S. (2020). Mempertahankan Piil Pesenggiri sebagai identitas budaya suku Lampung. Jurnal Antropologi: Isu-Isu Sosial Budaya, 22(2), 168–177. https://doi.org/10.25077/jantro.v22.n2.p168-177.2020
  4. Irianto, S., Sulistyowati, & Margaretha, R. (2011). Piil Pesenggiri: Modal budaya dan strategi identitas ulun Lampung. Makara Human Behavior Studies in Asia, 15(2), 140. https://doi.org/10.7454/mssh.v15i2.1420
Scroll to Top