Dayang Rindu
Dayang Rindu merupakan cerita rakyat yang dulu tersebar luas di Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel), kini nyaris menghilang dari ingatan masyarakatnya sendiri. Padahal, legenda Dayang Rindu ini mencakup empat provinsi: Sumatera Selatan, Jambi, Bengkulu, dan Lampung . Hanya segelintir kalangan yang masih mengingat atau pernah mendengar kisahnya. Mari kita telusuri bersama jejak epik Dayang Rindu, dari persebarannya yang luas hingga keunikan manuskripnya yang tersimpan di perpustakaan Eropa.
Dayang Rindu dan Keragaman Versi di SumbagSel
Sebagai tradisi lisan Sumatera Selatan, cerita Dayang Rindu sangat dinamis. Ia mengalami penambahan, pengurangan, bahkan variasi cerita di setiap daerah. Dari penelusuran data, ada hampir sepuluh variasi cerita Dayang Rindu di empat provinsi tersebut. Benang merahnya tetap sama: sebuah kisah kasih tak sampai dengan seorang perempuan bernama Dayang Rindu sebagai tokoh sentral.
Sumatera Selatan memiliki versi paling banyak dan lebih familiar dengan nama Dayang Merindu. Bahkan, Kabupaten Muara Enim memiliki relevansi paling kuat dengan lokus dan tokoh dalam cerita. Kamu bisa menemukan sejumlah lokus seperti sungai, makam, kampung, petilasan, dan benda yang diyakini sebagai peninggalan keluarga Dayang Rindu di Muara Enim, Baturaja, dan Ogan Komering Ulu (OKU).
Sementara dari aspek historis, Dayang Rindu versi Lampung menyimpan keunikan tersendiri. Di Lampung, ceritanya bertajuk Tetimbai Si Dayang Rindu (TSDR). Manuskripnya ditulis dalam aksara Lampung dan hingga saat ini tersimpan di empat perpustakaan Eropa: Leiden (Belanda), London (Inggris), Munich (Jerman), dan Dublin (Irlandia). Fakta menariknya, hanya tiga daerah di Sumatera yang memiliki aksara sendiri, yaitu Batak, Rejang, dan Lampung. Tetimbai Si Dayang Rindu kemungkinan besar menjadi satu-satunya manuskrip tertua, mengingat belum ditemukan manuskrip serupa di tiga provinsi lain.
Sinopsis Dayang Rindu
Alkisah, di kerajaan Tanjung Iran, hiduplah seorang wanita cantik jelita bernama Dayang Rindu. Ia anak dari Wayang Semu dan cucu Kerie Carang, orang terpandang di negeri itu. Kecantikannya membuat banyak lelaki datang meminang, namun semua ditolak Kerie Carang dengan alasan Dayang Rindu telah dijodohkan dengan Ki Bayi Radin, anak Batin Pasak dari daerah Rambang.
Perjodohan itu tak berjalan mulus. Kerie Carang mengajukan permintaan yang nyaris mustahil: membawakan kerbau bertanduk tiga. Permintaan ini membuat perjodohan terkatung-katung.
Suatu ketika, rombongan dari Kerajaan Palembang datang di bawah pimpinan Tumenggung Itam. Mereka membawa amanat dari Pangeran Riya untuk meminang Dayang Rindu. Setelah lamaran ditolak, terjadilah peperangan di Tanjung Iran. Wayang Semu dan Ki Bayi Radin tewas. Meski Singaralang, hulubalang penjaga Tanjung Iran, berhasil memotong telinga Tumenggung Itam dan hidung Ki Bayi Metig, pasukan Palembang tetap berhasil menculik Dayang Rindu.
Di Palembang, Dayang Rindu menolak dijodohkan dengan Pangeran Riya. Ia memilih terbang ke kayangan untuk berkumpul kembali dengan orang tua dan tunangannya. Pangeran Riya murka dan kembali mengirim pasukan untuk meluluhlantakkan Tanjung Iran. Sementara Singaralang berusaha membalas dendam dengan memburu Kerie Niru (penghasut) dan Pangeran Riya, meski gagal menangkap sang pangeran yang melarikan diri ke hutan.
Varian Dayang Rindu Versi Merge Dangku
Menariknya, legenda Dayang Rindu juga hadir dalam versi Merge Dangku dari Sumatera Selatan. Dalam versi ini, Dayang Rindu digambarkan sebagai wanita biasa dari desa Baturaja Rambang Dangku yang cantik dan baik budi pekerti. Kisahnya berpusat pada tradisi pintaan (maskawin) yang ditentukan oleh keluarga besar.
Kekasihnya harus pergi merantau berbulan-bulan untuk memenuhi berbagai permintaan: kakeknya minta ikan kepatung dari lubuk kepur, neneknya minta emas bemate, dan ibunya minta kain songket. Saat sang kekasih tak kunjung kembali, seorang pangeran dari Palembang datang meminang dan dengan mudah memenuhi semua pintaan berkat kekuasaannya.
Puncak konflik terjadi ketika kekasih lama Dayang Rindu kembali tepat saat pernikahan akan dilangsungkan. Duel pun tak terhindarkan. Melihat dua lelaki bertarung memperebutkan dirinya, Dayang Rindu maju ke tengah sambil mengacungkan pedang ke dadanya sendiri:
“Kalau memang kalian bertarung karena saya, maka saya akan membelah tubuh saya agar kalian mendapat bagian yang sama.”
Akhirnya, Dayang Rindu membatalkan kedua pinangan dan menerima pinangan pemuda lain dari Banuayu. Ia bersumpah bahwa jika ada perkawinan antara bujang Banuayu dan gadis Baturaja atau sebaliknya, mereka tidak akan mempunyai keturunan.
Versi Lain: Dayang Merindu dan Asal-usul Lomba Bidar Palembang
Tahukah kamu bahwa kisah Dayang Merindu juga menjadi legenda asal-usul lomba bidar di Palembang? Dalam versi ini, Dayang Merindu adalah gadis rupawan anak Sah Denar yang tinggal di hulu Palembang. Ia dijodohkan dengan Dewa Jaya, teman kecilnya, meski hatinya tak begitu terbuka.
Kemala Negara, pemuda dari hilir Palembang yang baru pulang merantau, menemukan cawan keramas Dayang Merindu yang hanyut di Sungai Musi. Ia berenang mengambilnya dan bertekad mengembalikan langsung kepada pemiliknya. Pertemuan itu menumbuhkan benih cinta di antara mereka .
Konflik pun pecah. Kemala Negara yang berniat melamar Dayang Merindu harus menerima kenyataan pahit karena sang gadis sudah bertunangan. Pertandingan pencak silat pun digelar, namun tak ada yang kalah. Akhirnya, Datuk memutuskan pertandingan dialihkan pada lomba bidar di Sungai Musi. Siapa yang lebih dulu mencapai garis finis, dialah pemenangnya. Inilah asal-muasal tradisi lomba bidar yang hingga kini masih kamu saksikan setiap perayaan 17 Agustus di Palembang.
Tetimbai Si Dayang Rindu: Manuskrip Beraksara Lampung di Eropa
Sekarang mari kita bahas misteri terbesar dari epik ini: bagaimana cerita berlatar Sumatera Selatan bisa ditulis dalam aksara Lampung dan tersimpan di Eropa?
Manuskrip Tetimbai Si Dayang Rindu (TSDR) di Perpustakaan Universitas Leiden adalah hasil inventarisasi Herman Neubronner van der Tuuk selama di Lampung (1868-1869). Van der Tuuk, orang pertama yang membuat kamus bahasa Lampung, Batak, dan Bali, memperoleh manuskrip ini di Sukadana (Lampung Timur). Manuskrip 16 halaman itu bertitimangsa Tarabanggi (Terbanggi), 28 Oktober 1847—artinya telah ditulis sebelum ia datang ke Lampung.
Sementara TSDR yang tersimpan di School of Oriental and African Studies (London) dan The Chester Beatty Library (Dublin, Irlandia) adalah hasil inventarisasi William Marsden, antropolog terkenal penulis History of Sumatra . Satu manuskrip lainnya tersimpan di sebuah perpustakaan di Munich.
Peneliti Belanda Voorhoeve mengamati keunikan lain: mengapa cerita berlatar luar Lampung (Tanjung Iran dan Palembang) justru ditulis dalam aksara Lampung? Ia menduga bahwa penulis-penulis Lampung zaman itu merangkum atau mendokumentasikan cerita Dayang Rindu setelah mendengarnya dari penutur lain . TSDR bahkan memiliki judul lain Timbai-timbai Pulimbang, yang berarti epik Palembang.
Antara Fakta dan Legenda
Menariknya, sejumlah tempat dalam cerita Dayang Rindu adalah fakta yang bisa kamu temukan hingga kini. Tanjung Iran atau Tanjung Heran, menurut William Marsden dan Van der Tuuk, terletak di Kota Agung (Tanggamus) atau Muara Enim (Sumsel).
Istilah-istilah kuno dalam cerita pun menyimpan jejak sejarah. Kerie/Kerio adalah jabatan setara kepala desa yang pernah digunakan di Sumbagsel. Batin berarti duda dalam bahasa daerah Muara Enim. Tokoh Kerie Niru, Kerie Carang, dan Batin Pasak adalah bukti otentisitas cerita ini.
Bahkan, tradisi memotong telinga dan hidung sebagai bukti kekalahan dalam perang ternyata memiliki lokus nyata. Di tengah kota Muara Enim, ada tempat yang dipercaya sebagai lokasi mengubur kuping-kuping para lawan—tak sampai lima menit jalan kaki dari sekolah Sutan Takdir Alisjahbana.
Dayang Rindu dalam Kehidupan Masyarakat Kini
Warisan budaya Dayang Rindu telah mengalami komodifikasi dalam beragam bentuk. Di Muara Enim, gedung kesenian bernama “Putri Dayang Rindu”. Sebuah kedai pempek di Jambi menggunakan nama “Dayang Merindu”.
Varietas padi Dayang Rindu di Pagaralam dan Lubuklinggau masih ada meski semakin sedikit penanamnya karena sistem tadah hujan. Padi ini pernah ada di Lampung, namun punah sejak tahun 1950-1960an.
Di Baturaja, kamu bisa mengunjungi goa yang diyakini sebagai tempat peristirahatan atau petilasan Dayang Rindu. Ada juga batu yang dipercaya sebagai Dayang Rindu yang dikutuk Si Pahit Lidah—cerita rakyat Sumbagsel yang cukup terkenal.
Bahkan, Buletin Bukit Asam pernah memuat wawancara dengan Ha Korie Ali di Muara Enim (2006) yang menyebutkan bahwa kisah Dayang Rindu merupakan peristiwa nyata sekitar tahun 1500-1600, dengan bukti peninggalan sebatang pedang milik Kerie Carang.
Akhir Cerita yang Beragam
Keberagaman versi Dayang Rindu mencakup nama tokoh, peran, bahkan akhir cerita. Beberapa versi menceritakan Dayang Rindu terbang ke kayangan menemui kedua orangtua dan tunangannya. Versi lain menyebutkan Dayang Rindu membelah diri jadi dua, meninggal tertimpa gendang besar, atau dikutuk jadi batu oleh Si Pahit Lidah. Bahkan ada versi dari nenek di Desa Pangkalan Babat yang menyebut Dayang Rindu sebagai anak sunan yang melarikan diri ke Muara Niru karena dikejar Belanda yang ingin memperistrinya.
Upaya Pelestarian yang Dibutuhkan
Dayang Rindu niscaya akan benar-benar hilang jika tidak ada upaya pelestarian. Cerita rakyat ini menyimpan nilai dan kearifan lokal yang masih relevan dengan konteks kekinian. Generasi muda seharusnya mempelajari kembali cerita rakyat, bukan hanya menjadi konsumen produk budaya luar negeri.
Kamu bisa berperan dalam upaya ini. Cerita rakyat Dayang Rindu dapat dialihwahanakan ke dalam bentuk novel, komik, naskah teater, atau film. Dengan strategi budaya kreatif, cerita rakyat akan tetap bertahan di tengah arus globalisasi.
Dayang Rindu bukan sekadar cerita rakyat biasa. Ia adalah cerminan budaya yang merekam sistem pemerintahan, tradisi, nilai-nilai, dan kearifan lokal masyarakat Sumbagsel masa lampau. Dari keragaman versinya, kita belajar bahwa Indonesia memang kaya, namun kekayaan itu hanya berarti jika kita mau menjaganya. Bagikan artikel ini kepada teman-temanmu agar legenda Dayang Rindu tak benar-benar lenyap ditelan zaman. Karena seperti kata pepatah, tak kenal maka tak sayang—dan sekarang, kamu sudah mengenalnya.
Baca juga:
- Kesultanan Jambi, Jejak Kejayaan Islam di Bumi Melayu
- Cerita Rakyat Sumatera Utara Si Beru Dayang dan Pesan Moralnya
- Mengenal 6 Rumah Adat Jambi
- Cerita Rakyat Bujang Kurap dan Legenda Danau Rayo dari SumSel
- Aksara Incung, Warisan Literasi Nenek Moyang Kerinci Jambi
Referensi: https://id.wikipedia.org/wiki/Tari_Putri_Dayang_Rindu







