Suku di Sumatera Selatan
Terdapat sebuah provinsi yang wilayahnya seluas gabungan beberapa negara bagian, dihuni oleh puluhan suku di Sumatera Selatan dengan bahasa, adat, dan tradisi yang berbeda-beda? Sumatera Selatan, yang terkenal dengan ikon Jembatan Ampera dan kejayaan Kerajaan Sriwijaya di masa lampau, menyimpan kekayaan budaya yang luar biasa. Provinsi terluas di Pulau Sumatera ini tidak hanya menawarkan pemandangan alam yang memesona, tetapi juga mozaik etnik yang hidup berdampingan secara harmonis. Mulai dari dataran tinggi Bukit Barisan yang diselimuti kabut hingga kawasan hilir yang disapa pasang surut air laut, setiap wilayah memiliki cerita tentang nenek moyang dan identitas budayanya.
Menurut data Sensus Penduduk tahun 2010, populasi suku bangsa di Sumatera Selatan mencapai lebih dari 5,1 juta jiwa, atau sekitar 2,16 persen dari total penduduk Indonesia. Jumlah ini tersebar di 17 kabupaten dan kota, menjadikan Sumatera Selatan layaknya miniatur Negara Kesatuan Republik Indonesia dalam bingkai kearifan lokal.
Akar Sejarah dan Asal Muasal Masyarakat Sumatera Selatan

Memang menarik untuk memahami dari mana sebenarnya masyarakat asli Sumatera Selatan berasal. Sejarawan Dedi Irwanto menjelaskan bahwa masyarakat Uluan, sebutan untuk penduduk di wilayah hulu, diyakini sebagai penduduk asli yang lebih tua dari peradaban Palembang itu sendiri. Mereka berasal dari kawasan perbukitan, terutama dari tiga gunung utama: Gunung Seminung, Gunung Dempo, dan Bukit Kaba.
Dari Gunung Dempo, lahirlah etnis Pasemah yang kemudian menyebar di sepanjang aliran Sungai Lematang, mencakup Pagar Alam, Lahat, hingga Muara Enim. Sementara dari Gunung Seminung, muncul kelompok yang disebut Jelma Daya, yang kemudian berkembang menjadi Suku Komering dan Suku Ogan di sepanjang aliran sungai Komering dan Ogan. Kelompok-kelompok inilah yang kemudian membentuk struktur marga atau kebuayan, sistem kekerabatan yang masih dikenal hingga sekarang.
Dua Kutub Budaya: Uluan dan Iliran
Dalam memahami keragaman etnis Sumatera Selatan, kamu perlu mengenal konsep pembagian wilayah budaya, yaitu Uluan (hulu) dan Iliran (hilir). Orang Uluan adalah kelompok etnik yang tinggal di hulu sungai-sungai besar, yang dikenal sebagai Batanghari Sembilan. Mereka umumnya mendiami daerah dataran tinggi dan lembah subur di kaki Bukit Barisan. Sebaliknya, orang Iliran adalah suku-suku yang mendiami wilayah hilir hingga pesisir timur, seperti Palembang dan Banyuasin. Kebudayaan Iliran lebih banyak dipengaruhi oleh budaya Melayu Pesisir yang terbuka dan dinamis. Meskipun berbeda, semua etnik ini saling terkait dan hidup berdampingan, saling memengaruhi dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk arsitektur dan bahasa.
Mengenal Suku-Suku Utama di Sumatera Selatan
Berikut ini adalah beberapa suku asli Sumatera Selatan yang paling menonjol dan masih mempertahankan tradisinya hingga hari ini.
1. Suku Palembang
Sebagai kelompok etnis yang paling dikenal, Suku Palembang mendominasi wilayah Kota Palembang dan sekitarnya. Suku ini terbagi menjadi dua kelompok sosial, yaitu Wong Jero yang merupakan keturunan bangsawan dan kerajaan, serta Wong Jabo yang merupakan rakyat biasa. Menariknya, Suku Palembang merupakan hasil asimilasi berbagai bangsa, seperti Arab, China, Jawa, dan berbagai suku lainnya di Nusantara.
Dalam keseharian, mereka menggunakan Baso Palembang yang terbagi menjadi dua ragam: Palembang Alus (bebaso) yang digunakan untuk berbicara dengan orang yang lebih tua atau dihormati, dan Palembang Sari-sari untuk percakapan sehari-hari. Ciri khas bahasa ini adalah penggunaan akhiran “o”, seperti “dari mano” (dari mana) atau “ke mano” (ke mana). Rumah adat mereka yang paling terkenal adalah Rumah Limas, bangunan panggung megah dengan struktur bertingkat yang melambangkan stratifikasi sosial masyarakatnya.
2. Suku Komering
Suku Komering merupakan salah satu suku terbesar dan wilayah budayanya paling luas di Sumatera Selatan. Mereka mendiami sepanjang aliran Sungai Komering, mulai dari hulu di daerah Baturaja (Komering Ulu) hingga hilir di Kayuagung (Komering Ilir), bahkan menyebar hingga ke Provinsi Lampung karena karakter masyarakatnya yang suka menjelajah.
Suku ini terbagi dalam beberapa marga, seperti Marga Buay Madang, Marga Sosoh Buay Rayap, dan Marga Semendawai. Ada cerita rakyat yang menarik yang mengisahkan bahwa Suku Komering dan Suku Batak masih bersaudara. Konon, kakak beradik datang dari negeri seberang dan setelah sampai di Sumatera mereka berpisah; sang kakak pergi ke Selatan dan menjadi leluhur Komering, sementara sang adik pergi ke Utara dan menjadi leluhur Batak. Hal ini diperkuat dengan adanya beberapa kemiripan dialek dan karakter yang tegas dan keras.
3. Suku Pasemah (Besemah)
Berpusat di sekitar Gunung Dempo, khususnya di Kota Pagaralam dan Kabupaten Lahat, Suku Pasemah atau Basemah dikenal sebagai pemilik kebudayaan tua yang kaya . Mereka mendiami dataran tinggi Bukit Barisan dan hidup sebagai petani kopi, sayuran, serta padi. Dalam keseharian, mereka menggunakan dialek dengan akhiran huruf ‘e’, yang khas dan berbeda dengan bahasa Melayu pada umumnya.
Suku Pasemah sangat terkenal dengan peninggalan budaya megalitiknya, berupa arca-arca batu raksasa yang tersebar di wilayah Pagaralam. Selain itu, mereka juga memiliki rumah adat yang unik bernama Ghumah Baghi. Rumah panggung ini memiliki empat jenis, yaitu ghumah tatahan (dengan ukiran), ghumah gilapan (tanpa ukiran), ghumah padu tiking, dan ghumah padu ampagh (dari anyaman bambu) . Arsitekturnya penuh dengan falsafah dan nilai-nilai kearifan lokal yang dijunjung tinggi.
4. Suku Ogan
Suku Ogan mendiami wilayah di sepanjang aliran Sungai Ogan, mulai dari Baturaja hingga Selapan di Kabupaten Ogan Komering Ilir. Orang Ogan sering disebut sebagai orang Pegagan . Gelombang pertama masyarakat Ogan diperkirakan berasal dari Gunung Seminung Pesagi pada abad ke-14 dan mendirikan pemukiman pertama di Ulu Tenggayak.
Suku Ogan dikenal kuat mempertahankan kebudayaannya, seperti upacara adat dan sistem kekerabatan yang erat. Mereka memiliki kesenian khas seperti Nyambai, Ngigal, dan Kulintangan. Dalam hal kuliner, mereka juga terkenal dengan olahan pindang yang khas dan digemari di Palembang.
5. Suku Semendo (Semende)
Berada di Kecamatan Semendo, Kabupaten Muara Enim, Suku Semendo memiliki sejarah unik. Konon, mereka adalah keturunan dari suku Banten yang merantau ke Pulau Sumatera beberapa abad lalu dan menetap di daerah tersebut. Mereka kemudian terbagi menjadi dua sub-kelompok utama: Semende Darat yang tinggal di Muara Enim, dan Semende Lembak yang mendiami Ogan Komering Ulu Selatan.
Sebagai masyarakat agraris yang hidup di ketinggian sekitar 900 meter di atas permukaan laut, hampir 100 persen penduduk Semendo hidup dari bertani, dengan kopi robusta dan padi sebagai komoditas utama. Adat istiadat mereka sangat kental dengan nuansa Islam, yang terlihat dalam musik rebana dan lagu-lagu daerah mereka.
6. Suku Musi dan Suku Sekayu
Suku Musi adalah kelompok besar yang mendiami wilayah di sekitar aliran Sungai Musi, terutama di Kabupaten Musi Banyuasin, Musi Rawas, dan PALI . Para suku ini sering disebut juga sebagai Suku Sekayu. Mereka dikenal sebagai “manusia sungai” karena kesehariannya yang tidak lepas dari Sungai Musi. Mereka gemar mendirikan rumah yang langsung berhubungan dengan sungai.
Berbeda dengan suku perantau seperti Bugis atau Minang, Suku Sekayu tidak terlalu menyukai perpindahan jarak jauh. Mereka lebih memilih bertani dan berkebun, dengan hasil utama karet, cengkeh, dan kopi . Dalam keseharian, mereka menggunakan dialek dengan akhiran huruf ‘e’ yang berbeda penyebutannya dengan dialek Pasemah.
7. Suku Lintang, Gumai, Kayuagung, dan Rawas
Selain suku-suku besar di atas, masih banyak lagi kelompok etnis di Sumatera Selatan yang memperkaya khazanah budaya daerah ini.
- Suku Lintang mendiami kawasan pegunungan Bukit Barisan di Kabupaten Lahat dan Empat Lawang, diapit oleh suku Pasemah dan Rejang. Mereka hidup dari bercocok tanam kopi, beras, dan karet.
- Suku Gumai berada di Kabupaten Lahat, terbagi menjadi tiga kelompok: Gumai Lembak, Gumai Ulu, dan Gumai Talang .
- Suku Kayuagung mendiami Kabupaten Ogan Komering Ilir. Mayoritas beragama Islam, namun mereka masih mempertahankan kepercayaan lama terkait roh nenek moyang, seperti ritual memandikan jenazah dengan kembang.
- Suku Rawas bermukim di aliran Sungai Rawas, Kabupaten Musi Rawas Utara, dengan populasi sekitar 100.000 jiwa yang bekerja sebagai petani dan perajin rotan.
Kekayaan Seni dan Budaya yang Memukau
Keberagaman etnis ini menghasilkan warisan seni dan budaya yang sangat kaya.
1. Seni Tari Tradisional
- Tari Gending Sriwijaya: Tarian klasik termasyhur yang melambangkan kejayaan dan kemegahan Kerajaan Sriwijaya. Biasanya kamu saksikan dalam upacara penyambutan tamu-tamu penting.
- Tari Tanggai: Tarian yang menggambarkan keanggunan dan keindahan wanita Sumatera Selatan, sering ditampilkan dalam pesta pernikahan adat Palembang.
- Tari Kebagh: Tarian adat tertua dari daerah Besemah yang sangat populer dan diwariskan secara turun-temurun .
2. Musik dan Alat Musik Khas
- Gitar Tunggal Batanghari Sembilan: Alat musik petik yang paling terkenal dan banyak digunakan di seluruh wilayah Sumatera Selatan .
- Kenong Basemah: Alat musik pukul dari tembaga yang berasal dari Suku Basemah, Pagaralam.
- Kulintang Komering: Barisan gong kecil yang dimainkan bersama kendang dalam berbagai acara adat seperti perkawinan dan arak-arakan.
3. Kuliner Khas
Tentu kamu tidak bisa memisahkan suku dari kulinernya. Masakan Sumatera Selatan terkenal dengan cita rasa yang kuat dan khas. Pempek, makanan berbahan dasar ikan dan sagu, adalah ikon kuliner yang sudah mendunia. Selain itu, ada tekwan, model, pindang patin, dan pindang tulang yang menggoyang lidah. Pengaruh berbagai suku, terutama Melayu, Arab, dan China, terasa dalam kekayaan rasa masakannya.
Tabel Persebaran Suku di Sumatera Selatan
Agar kamu lebih mudah memahami, berikut adalah tabel persebaran beberapa suku utama di Sumatera Selatan berdasarkan wilayah administratifnya :
| Nama Suku | Wilayah Persebaran Utama | Ciri Khas |
|---|---|---|
| Palembang | Kota Palembang, Ogan Ilir, Banyuasin | Bahasa berakhiran “o”, Rumah Limas, Wong Jero & Jabo |
| Komering | OKU Timur, OKU Selatan, OKI | Tersebar hingga Lampung, bermarga, dikenal tegas |
| Pasemah (Basemah) | Pagaralam, Lahat, Empat Lawang | Bahasa berakhiran “e”, budaya megalitik, Ghumah Baghi |
| Ogan | OKU, OKI, Ogan Ilir | Bahasa mirip Melayu Deli, kesenian Nyambai, kuliner pindang |
| Semende (Semendo) | Muara Enim (Semendo), OKU Selatan | Keturunan Banten, petani kopi dan padi, Islami |
| Musi (Sekayu) | Musi Banyuasin, Musi Rawas, PALI | Manusia sungai, akhiran dialek “e”, petani karet |
| Kayuagung | OKI (Kayuagung) | Kepercayaan pada roh, dialek Kayuagung dan Ogan |
| Gumai | Lahat | Terbagi dalam marga Gumai Ulu, Lembak, dan Talang |
| Lintang | Lahat, Empat Lawang | Petani kopi dan karet, berada di antara Pasemah & Rejang |
| Rawas | Musi Rawas Utara | Populasi ~100.000, perajin rotan dan pandan |
Nah, sekarang giliranmu untuk berbagi! Apakah kamu memiliki teman, kerabat, atau mungkin pengalaman langsung berinteraksi dengan salah satu suku yang disebutkan di atas? Atau mungkin kamu sendiri adalah bagian dari etnis Sumatera Selatan dan ingin bercerita tentang tradisi keluargamu? Jangan lupa juga untuk membagikan artikel ini ke teman-temanmu agar mereka juga turut mengenal kekayaan budaya Indonesia.
Baca juga:
- Suku Kerinci: Sejarah, Bahasa, Budaya, dan Rumah Adat
- 15 Cerita Rakyat Sumatera Selatan yang Sarat Makna
- Apa 10 Manfaat Ringkasan?
- Apa 9 Perbedaan Alur Maju dan Alur Mundur?
Pertanyaan yang Sering Ditanyakan (FAQ)
1. Apa saja suku asli terbesar yang mendiami Sumatera Selatan?
Beberapa suku asli terbesar di Sumatera Selatan antara lain Suku Palembang, Suku Komering, Suku Pasemah (Basemah) , dan Suku Ogan. Suku-suku ini memiliki populasi yang signifikan dan wilayah persebaran yang luas di berbagai kabupaten/kota.
2. Bagaimana asal usul Suku Komering dan hubungannya dengan Suku Batak?
Menurut hikayat masyarakat Komering, leluhur mereka dan leluhur Suku Batak adalah kakak beradik yang datang dari negeri seberang. Setiba di Sumatera, mereka berpisah; sang kakak ke Selatan menjadi leluhur Komering, dan sang adik ke Utara menjadi leluhur Batak. Kisah ini diperkuat oleh beberapa kemiripan dialek dan karakter antar kedua suku.
3. Apa perbedaan antara Wong Jero dan Wong Jabo dalam Suku Palembang?
Wong Jero adalah golongan masyarakat yang merupakan keturunan bangsawan atau kerajaan Palembang Darussalam di masa lampau. Sementara itu, Wong Jabo adalah sebutan untuk rakyat biasa atau masyarakat umum. Perbedaan ini dulunya memengaruhi status sosial dan penggunaan bahasa, terutama dalam ragam bahasa Palembang Alus.
4. Apa nama rumah adat dari Suku Pasemah?
Rumah adat Suku Pasemah disebut Ghumah Baghi. Rumah panggung ini memiliki beberapa jenis berdasarkan ornamen dan bahan pembuatannya, seperti Ghumah Tatahan (berukir) dan Ghumah Gilapan (tanpa ukir), dan kaya akan nilai-nilai filosofis.
5. Di mana saja wilayah persebaran Suku Ogan?
Suku Ogan tersebar di wilayah Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Ogan Komering Ilir (OKI), dan Ogan Ilir. Mereka umumnya mendiami daerah di sepanjang aliran Sungai Ogan, mulai dari Baturaja hingga ke arah hilir.
Referensi
- Misyuraidah, M., & Syarnubi, S. (2017). Gelar Adat Dalam Upacara Perkawinan Adat Masyarakat Komering di Sukarami Ogan Komering Ilir Sumatera Selatan. Intizar, 23(2), 241-260.
- https://id.wikipedia.org/wiki/Suku_asal_Sumatera_Selatan
- https://presensi.perpusnas.go.id/pro-ideas/suku-asli-sumatera-selatan-mengenal-keberagaman-budaya-1764799494




