Aksara Incung, Warisan Literasi Nenek Moyang Kerinci Jambi

Aksara Incung

Aksara Incung

Aksara Incung bukan sekadar huruf-huruf yang terpahat di atas tanduk kerbau atau bambu, Aksara adalah napas sejarah, cerminan jiwa, dan identitas kebanggaan masyarakat Kerinci yang telah bertahan berabad-abad di dataran tinggi Jambi. Dalam setiap garisnya yang miring, patah, dan melengkung, tersimpan kisah nenek moyang, mantra sakral, ratapan cinta, hingga perjanjian adat yang mengikat. Sayangnya, warisan literasi yang luar biasa ini kini menghadapi tantangan zaman.

Apa Sebenarnya Aksara Incung Itu?

Secara etimologi, istilah “Surat Incung” berasal dari bahasa Kerinci. “Surat” berarti tulisan, sementara “Incung” berarti miring atau terpancung. Nama ini secara harfiah menggambarkan karakter visual aksara ini yang ditulis dengan kemiringan tertentu, terdiri dari garis-garis lurus, patahan tajam, dan lengkungan yang khas. Aksara Incung merupakan turunan dari rumpun aksara Sumatra Kuno atau pasca-Pallawa yang berakar pada aksara Brahmi dari India. Para ahli paleografi seperti Uli Kozok mengelompokkannya ke dalam keluarga besar “Aksara Rencong”, bersama dengan Surat Ulu (Bengkulu, Sumatera Selatan) dan Surat Lampung.

Penggunaan Aksara Incung diperkirakan telah hidup sejak abad ke-14 hingga 15 Masehi. Bukti tertua keberadaannya ditemukan pada dua halaman terakhir naskah Undang-Undang Tanjah Tanah, sebuah kitab hukum Melayu kuno. Keberadaan aksara unik ini pertama kali dilaporkan ke dunia Barat oleh William Marsden pada abad ke-19, yang tercengang menemukan masyarakat pedalaman Kerinci memiliki sistem tulisan mandiri yang berbeda dari aksara Jawi di pesisir.

Di Mana dan Apa yang Ditulis dengan Aksara Incung?

Keunikan naskah kuno Incung juga terletak pada medianya yang beragam dan organik. Leluhur Kerinci menuliskan pemikirannya bukan di atas kertas impor semata, melainkan pada:

  • Tanduk Kerbau: Biasanya berisi tembo (sejarah silsilah keluarga), perjanjian adat, dan batas-batas tanah ulayat.
  • Bambu: Sering memuat prosa percintaan, ratapan kesedihan, pantun, serta mantra-mantra seperti Sanggabunuh (mantra pelindung) dan mantra kesuburan.
  • Kulit Kayu dan Tulang: Sebagai media alternatif untuk dokumen tertentu.
  • Kertas Eropa: Digunakan pada periode lebih kemudian, seringkali untuk salinan naskah yang sudah ada.

Isinya sangat kaya, mencerminkan kehidupan yang utuh. Kamu dapat menemukan kisah percintaan yang mendayu, petuah adat yang tegas, hingga catatan transaksi dan utang-piutang. Salah satu contoh keindahan sastranya adalah pantun yang terdapat dalam naskah pusaka Depati Kuning Nyato:

“Tapurung ba’a ka tambang
Tiba ditambang manjadi cawan
Kasih burung ba’a tarabang
Duduk di sini marintang kawan.”

(Terjemahan: Tempurung bawa ke tambang/Tiba di tambang menjadi cawan/Kasih burung bawa terbang/Duduk di sini merintangi kawan.)

Proses Penelitian dan Upaya Pelestarian yang Berlanjut

Membaca Aksara Incung adalah sebuah tantangan filologi. Upaya pembacaan dan transliterasi pertama kali dilakukan secara serius oleh L.C. Westenenk (1927) dan kemudian dilanjutkan secara monumental oleh Petrus Voorhoeve (1940-1941) yang berhasil mengalihaksarakan puluhan naskah Incung. Perjuangan ini diteruskan oleh budayawan lokal Kerinci seperti Alimin Depati, Iskandar Zakaria, dan Amir Hakim Usman, serta para akademisi muda seperti Wahyu Rizki Andhifani, Hafiful Hadi Sunliensyar, dan Deki Syaputra.

Mereka menghadapi tantangan nyata: banyak naskah yang masih disimpan sebagai pusaka keramat dengan ritual tertentu, membuat akses penelitian tidak mudah. Selain itu, kajian terhadap manuskrip keislaman dari wilayah Jambi dan Kerinci sendiri masih sangat terbatas, padahal menyimpan potensi besar untuk memahami sejarah sosial dan intelektual Nusantara.

Menghidupkan Kembali Aksara Incung di Era Modern

Di sinilah titik terang itu muncul. Ancaman kepunahan akibat ditinggalkan generasi muda dan rapuhnya media fisik naskah kuno dijawab dengan langkah visioner: digitalisasi. Sebuah inisiatif brilian, seperti website transliterasi Aksara Incung yang dikembangkan oleh Marta Jaya, S.Pd., M.Pd. (aksaraincung.mj-vers.com), menjadi jembatan emas.

Website tersebut memanfaatkan teknologi untuk mengubah teks Latin menjadi grafem Incung secara otomatis. Bayangkan, dengan mengetik namamu, kamu bisa langsung melihatnya ditulis dalam huruf Incung! Upaya digitalisasi ini memiliki dampak luar biasa:

  • Melestarikan bentuk aksara dalam ruang siber yang abadi.
  • Memecah batas geografis dan ritual, membuat siapa pun bisa belajar.
  • Merangsang minat generasi muda untuk memakai aksara ini dalam karya seni, logo, media promosi pariwisata, atau sekadar bereksperimen.
  • Menjadikan Aksara Incung sebagai simbol kebanggaan budaya yang hidup, bukan sekadar peninggalan museum.

Ini sejalan dengan fokus riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang menempatkan Sumatra, termasuk Jambi dan Kerinci, sebagai locus riset hingga 2029. Peluang untuk mengeksplorasi khazanah manuskrip dan tradisi lisan daerah ini terbuka sangat lebar.

Mengapa Kamu Perlu Peduli dengan Aksara Incung?

Karena Aksara Incung adalah warisan literasi milikmu sebagai bangsa Indonesia. Ia membuktikan bahwa masyarakat pedalaman Nusantara bukanlah komunitas terbelakang, tetapi memiliki peradaban tulis yang canggih dan estetis. Mempelajarinya berarti menyelami cara berpikir, merasa, dan mengatur kehidupan komunitas di masa lalu. Setiap aksara yang kamu kenali adalah sebuah pintu yang terbuka untuk memahami kearifan lokal, filosofi hidup, dan ketangguhan budaya leluhur.

Mari kita bersama-sama menjaga nyala api literasi kuno ini. Cobalah kunjungi platform digital Aksara Incung, coba bagikan di media sosial. Ceritakan pada teman-temanmu tentang Surat Incung dari Kerinci ini. Bila kamu seorang pendidik, guru, atau pemangku kebijakan daerah, integrasikan pengetahuan tentang warisan budaya takbenda ini ke dalam pembelajaran atau kebijakan publik.

Aksara Incung mengajarkan bahwa sebelum kita menatap global, kita harus lebih dulu meresapi lokal. Ia adalah akar yang membuat kita tetap tegak berdiri di tengah derasnya arus zaman.

Baca juga:

Pertanyaan yang Sering Ditanyakan (FAQ) tentang Aksara Incung

1. Apa perbedaan Aksara Incung dengan Aksara Jawa atau Batak?

Aksara Incung berasal dari rumpun Aksara Rencong (Sumatra Kuno), sementara Aksara Jawa dan Batak berasal dari rumpun Aksara Kawi. Bentuk visual Incung lebih sederhana, terdiri dari garis lurus dan patahan yang miring, dan penggunaannya terbatas di wilayah Kebudayaan Kerinci.

2. Di mana saya bisa melihat contoh naskah Aksara Incung?

Kamu dapat melihat digitalisasi naskah Incung melalui situs web transliterasi seperti aksaraincung.mj-vers.com. Untuk melihat fisik naskah asli, sebagian disimpan sebagai pusaka keluarga di Kerinci dan di lembaga seperti Perpustakaan Nasional atau museum.

3. Apakah Aksara Incung masih digunakan sehari-hari?

Penggunaan aktifnya sudah sangat berkurang sejak dominasi huruf Latin. Namun, saat ini sedang digalakkan revitalisasi melalui pendidikan budaya, seni, dan digitalisasi untuk menjaga kelestariannya.

4. Bagaimana cara belajar menulis Aksara Incung?

Cara termudah adalah memulai dengan platform digital yang menyediakan transliterasi otomatis dari Latin ke Incung. Pelajari tabel huruf dasar, kemudian coba menyalin kata sederhana. Bergabung dengan komunitas pecinta aksara daerah atau menghubungi Dinas Kebudayaan Kerinci juga dapat membantumu.

Referensi

  1. Mubarat, H. (2016). EKSPRESI AKSARA INCUNG KERINCI DALAM PENCIPTAAN SENI KRIYA. Besaung : Jurnal Seni Desain Dan Budaya1(1). https://doi.org/10.36982/jsdb.v1i1.44
  2. https://id.wikipedia.org/wiki/Aksara_Incung
  3. https://repository.unja.ac.id/55208/
Scroll to Top